judul

Vox yang keren..

November lalu saya akhirnya bisa mengunjungi tempat yang kuidam-idamkan sejak lama. saya pergi ke salah satu record shop, namanya Vox. Tempat ini menjual berbagai kaset (pita magnetik), CD, dan Vinyl (piringan hitam) baru maupun bekas. Yang membuatnya menarik karena yang disediakan hanya musik karya artist atau band-band indie lokal maupun dari luar negeri. Selain itu Vox juga menjual kaos/T-shirt produksi rumahan dengan tema musik indie.
Karena istilah indie masih diperdebatkan, minimal apa yang disajikan disini adalah alternatif yang bagus bagi referensi musik. Anda akan menjumpai album dari band-band atau penyanyi keren seperti ERK,Tika and The Dissident, The Milo,Frau, Homicide,dll. yang dari luar negeri listnya sangat menarik ada CD dari Death Cab For Cutie, Sigur Ros, The Charlatans, The Smith, atau Explosions In The Sky, dan masih banyak lagi. Khusus untuk The Smith koleksinya lebih banyak. Saya menebak mungkin saja sang pemilik adalah fans beratnya Morrisey cs,hehe. ukuran tokonya lumayan kecil tapi berhasil ditaktisi oleh desain interior yang apik.

Dunia Kanak-Kanak dan Kado*




Kemungkinan besar hal ini akan terjadi pada tahun-tahun mendatang dalam hidupmu : "namamu bagus. orang tuamu mendoakanmu dengan baik". mungkin sekali dua kali terlontar di masa SMP atau SMAmu. tapi akan lebih sering dibicarakan saat masa kuliahmu (ingat harus kuliah, jika berpikir nyeleneh untuk tidak kuliah sebaiknya kubur saja dalam-dalam,,believe me, you're gonna love it, :) )..saya,mungkin panggilanmu nanti adalah om wawan,hehe, juga memimpikan hal yang sama. memanjatkan doa terbaik untuk orang-orang yang saya sayangi. tapi kelak jika maha berdoa jangan pernah lupa mendoakan mereka yang tidak beruntung, mereka yang lebih sering melewati hari-harinya dengan perih. bapak dan ibumu adalah orang yang tepat untuk maha ajak berdiskusi tentang nilai sosial serta toleransi dalam agama.

tengah malam kita...



sudah saatnya untuk pulang. cukup sekian untuk hari ini. besok,lusa, atau kapan-kapan saya pasti kembali. saya terkadang penat bermimpi tentang keanehan. masuk rimba bersama sepi dan banyak kesialan. sudah saatnya tidur lalu tak pernah bermimpi lagi. mimpiku telah kutitip pada setiap pesan dan cita-citamu.

kisah Peterpan, Mario Teguh, dan Slavoz zizek...


Sungguh beberapa minggu yang berat. Hari-hari yang terlampau pekat oleh beban sialan bernama kesuksesan study. Tugas akhir kini berubah seperti kutukan yang terus mengejarku sejak mataku terbuka oleh matahari yang sudah meninggi hingga saat mataku harus istirahat dari layar 16 inchi ini. Hal yang semestinya tidak menjadi problem besar kini merupakan hantu yang terus bergentanyangan bebas dalam kamarku.

Sesekali saya berupaya mendinginkan suasana apakah dengan keluar makan sambil melamun diatas motor, memutar playlist lagu favoritku, atau ini yang paling konyol membaca materi tugas akhir,wahahahaha. Tidak satupun yang mujarab. Siklus kembali terulang layaknya program konvensional PBB tentang perdamaian dan melawan kemiskinan,hehe. Namun dalam banyak masa kesulitan, saya sering bersentuhan dengan hal-hal “sepele” yang tak terduga. Ia mengejutkan karena pada moment-moment tertentu justru punya energy besar untuk membalikkan keadaan. Sekitar 3 atau 4 hari ini beberapa kawan alumni di organisasiku dulu berinisiatif membuat blog kolektif tentang cerita masa lalu di kampus. Ini adalah proyek keroyokan untuk menulis kesan kami ketika berhimpunan dulu. Semacam romantisasi, nostalgia atau hal-hal sejenisnya. Meskipun harus saya akui bahwa saya tidak terlalu tertarik menulis banyak romantisme namun tetap saja blog tersebut punya makna istimewa buat saya. Blog pun mulai terisi dan membaca beberap tulisan disitu sungguh menyenangkan sekaligus lucu.

tom morello : A Rebel With A Cause



tom morello adalah seorang legenda rock yang cukup disegani. Riff-riff gitarnya yang unik dan terrkenal bersama rage against the machine dan audioslave mendapat apresiasi diberbagai kalangan musik di dunia. Disela waktu lowong bersama gitar elektriknya, ia memainkan music folk dalam proyek pribadinya bernama the nightwatchman. Sekarang ia sedang menjalani tur sebagai artis pendukung dari band Rise Against. Kami bertemu dengan tom morello dalam perjalanannya menuju venue konser di Glasgow, O2 akademi, untuk melakukan interview singkat.

Anda memulai the nightwatchman di sejumlah coffe shop. Apakah anda pernah berpikir akan bermain di  venue sebesar ini?
Saya tidak pernah membayangkannya akan seperti ini. Saya mengawali proyek ini ketika masa awal bersama audioslave, sebagai medium untuk menunjang sikap politik kedalam music. Bermain di nightwathman sungguh berbeda. Saya kembali belajar untuk tidak takut diatas panggung. Dengan ratm dan audioslave , anda akan merasa seperti seorang pemenang sebelum memasuki sebuah hall. Setiap orang menhafal lagu-lagunya, mereka punya t-shirtnya, dab mereka telah lama mendengarkan music RATM dan audioslave bahkan sejak mereka anak-anak. Sementara di setiap show the nightwatchman, tanpa terkecuali, orang-orang tidak familiar dengan materi dan music yang ada. Sehingga pada akhirnya kami berjuang untuk memperoleh respek dan mempengaruhi mereka untuk bertindak disaat akhir acara. Suatu tantangan yang sangat berbeda sekaligus menyenangkan.

(catatan yang tercecer) : proyek manipulasi UU BHP (Badan hukum Pendidikan)*


Kita tak bisa memiliki pendidikan tanpa revolusi, kita telah mencoba pendidikan damai selama seribu sembilan ratus tahun mari kita coba revolusi dan kita lihat apa yang dapat dilakukannya sekarang
Hellen keller
Dunia pendidikan nasional merupakan buah dari perjuangan panjang yang telah dirintis sejak dahulu. Pemahaman akan realitas pendidikan tidak dapat dilakukan secara parsial tanpa menganalisis sejarah dan substansi awal pendidikan. Dengan demikian adalah  sangat krusial untuk  mengkritisi gerak perubahan orientasi pendidikan dibawah komando sistemik regime yang berkuasa di republik ini. Implementasi kebijakan pemerintah bukanlah persoalan sektoral pada satu titik sehingga deskripsi terhadap apa yang terjadi mutlak perlu menyentuh instrumen berpikir untuk membongkar relasi pengetahuan, dalam hal ini pendidikan dengan entitas politik yang ada.
Kesalahan elementer sistem pendidikan kita hari ini  adalah munculnya kerancuan paradigma bahwa pertama, kebijakan pendidikan adalah komponen terpisah dari skenario ekonomi-poltik negara dan yang kedua, yaitu hadirnya kecendrungan melihat pendidikan hanya sebatas alat mekanis yang berusaha memuaskan hasrat ekonomi dalam bentuk pencapaian kesejahteraan material saja. Disisi lain kita menjumpai apatisme dan tidak adanya komitmen politis pemerintah untuk menjadikan aspek ini sebagai salah satu prioritas utama. Sehingga konsekuensi logis yang menjangkiti masyarakat adalah berbagai fenomena akut seperti keterbelakangan paradigmatik, pengangguran, kekerasan, korupsi, dsb. Ditengah carut-marutnya kondisi pendidikan ini, pemerintah justru mengalami stagnasi atau bahkan kemerosostan dalam kinerjanya. Penerapan kebijakan-kebijakan neoliberal masih terasa kental yang kemudian menumpuk persoalan dan ikut memperparah keadaan. Faktor klasik berupa ketiadaan komitmen politis negara untuk membenahi kualitas pendidikan ternyata masih tumbuh subur.

Yue-Yue dan wajah kita yang sesungguhnya




Niar menelpon sekitar jam 10-an tadi malam. Seperti biasa kami bicara banyak hal. Dari kebiasaanku bangun terlambat, kuliah, kerja, music, film, hingga sesekali tetek bengek bernama politik. Perbincangan kami seringkali diwarnai tawa dan humor-humor spontan, diluar sejumlah keluhan tentunya,hehe. Obrolan semalam ternyata meninggalkan bekas yang hingga kini belum juga menghilang. Niar memberitahu bahwa ada anak kecil di cina yang ditabrak mobil, kira-kira berumur 2 tahun lebih. Namun kecelakaan pada yue yue (nama anak kecil itu) ternyata memicu kontroversi dan sorotan besar-besaran terutama di cina. Bercampur rasa jengkel niar bilang bahwa yue yue yang bersimbah darah dibiarkan tergeletak dijalan. Sopir idiot yang menabrak, kabur dan cuek. 18 orang yang kebetulan lewat dijalan yang sama tidak peduli dan hanya melihat tanpa tindakan apapun pada yue yue!!!

peringatan kemungkinan kolapsnya dollar AS

 Laporan PBB Peringatkan Kolapsnya Dollar AS
 oleh : Andre Damon


Ekonomi dunia menghadapi apa yang disebut dengan “ resiko tidak menentu dari kolapsnya dollar”, bersama kenaikan harga-harga komoditas, tingginya pengangguran yang terus berlanjut dan bahaya kebangkrutan dalam membayar hutang (debt default), berdasarkan laporan yang dilansir oleh PBB minggu lalu.
Laporan tersebut adalah update setengah tahunan dalam bentuk ikhtisar 200 halaman tentang ekonomi dunia yang dirilis awal tahun 2011. Selanjutnya reportase ini menyatakan kejatuhan terus-menerus nilai dollar sejak awal millennium menggambarkan adanya kemungkinan destabilisasi dan krisis kpercayaan dari cadangan mata uang dunia.
Resiko kolapsnya dollar hanyalah salah satu persoalan ekonomi yang diterangkan dalam laporan tersebut. Kesipmpulan dari laporannya sendiri mengenai pertumbuhan ekonomi yang agak membaik ternyata dibayangi oleh sejumlah resiko pada setiap aspek lain ekonomi dunia-dari kenaikan harga pangan, penurunan standar hidup, potensi kegagalan pembayaran utang, hingga destabilisasi system mata uang. Laporan ini juga memperingatkan akan pengangguran tak terkontrol, terutama diantara anak-anak muda, yang mungkin saja dapat memicu ketegangan politik seperti yang terjadi di Tunisia dan mesir. Selain itu dicatat pula bahwa diakhir tahun 2009, aka nada sekitar 81 juta pengangguran anak muda, dan tingkat pengangguran usia muda bertahan di kisaran 13%, setelah bertambah sebanyak 0,9 % dari tahun 2008.

the road not taken...


Ini juga salah satu puisi favoritku. Ditulis oleh Robert frost (26 maret 1874-29 januari 1963)

the road not taken...

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveller, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I--
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference

...Robert Frost

anatomi liberalisasi investasi migas indonesia

Dinamika pembangunan ekonomi Indonesia dalam konteks investasi sejak dahulu sangat kompleks. Bahkan paska era reformasi tahun 1998, investasi terutama investasi asing telah menciptakan perdebatan dan polemic cukup panjang. Sejumlah kalangan menilai bahwa pemerintah terlalu ceroboh dalam prakyek liberalisasi investasi asing yang cenderung tanpa control. Perluasan investasi asing adalah masalah krusial yang dapat berimplikasi pada kedaulatan ekonomi negara dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Disatu sisi, pemerintah terutama sejak kolapsnya rezim soeharto, meyakini bahwa ruang liberalisasi yang lebih besar akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Modal asing dan industrialisasi yang dibawanya, diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus menambah pendapatan nasional. Namun begitu, bagi sehymlah kelompok, langkah liberalisasi investasi justru menjadi persoalan baru. Penetrasi modal asing tanpa regulasi dan control terpadu dari pemerintah akan sangat membahayakan ekonomi Negara serta kesejahteraan rakyat itu sendiri. Esai berikut, akan mencoba menganalisa pelaksanaan liberalisasi investasi asing yang berfokus pada sektor minyak dan gas (migas). Penulis berasumsi bahwa invetasi asing yang terlalu dominan di sektor migas cenderung hanya mereproduksi ketimpangan distribusi kekayaan. Bahkan lebih prinsipil lagi, hal tersebut bertentangan langsung dengan kontitusi dasar yakni UUD 1945 pasal 33.
Agenda investasi asing di Indonesia adalah produk kebijakan pemerintah yang sudah diterapkan sejak era pemerintahan Soekarno. Sebagaimana Negara lainnya, Indonesia tak akan mampu mengelola ekonomi tanpa kerjasama dan kemitraan bersama pihak swasta maupun Negara dari luar negeri. Namun begitu, perluasan investasi asing (selanjutnya disebut dengan liberalisasi investasi/penanaman modal) semakin intensif terjadi sejak orde baru yakni pemerintahan soeharto hingga sekarang. Sebelum melangkah lebih jauh,penting untuk dipahami bahwa investasi asing dan liberalisasi penanaman modal adalah dua hal yang sangat berbeda. Investasi asing merujuk pada strategi pembangunan ekonomi dengan mengundang investor luar negeri sebagai mitra sekaligus stimulans yang menggerakan pertumbuhan ekonomi Negara. Pilihan ini biasanya diikuti oleh penerapan regulasi dan beberap batasan prinsipil. Sedangkan liberalisasi penanaman modal adalah strategi menarik inevastasi luar negeri secara massif lewat penghapusan sejumlah aturan dan hambatan (barriers) bagi aliran modal yang masuk. Dewasa ini Indonesia sedang berhadapan dengan berbagai masalah yang ditimbulakn oleh liberalisasi investasi. Kontroversi bahkan protes banyak mengalir ke pemerintah.

1 ramadhan

Yeeaaahh, akhirnya berjumpa lagi dengan ramadhan. My most anticipated month,hahaha. Selalu muncul kebahagiaan aneh tiap kali momentum ini muncul. Lebih aneh lagi karena sangat sulit saya uraikan lewat kata-kata. Ramadhan selalu menghadirkan dimensi sosial yang unik, menarik, dan menyenangkan. Ada banyak fenomena yang sebaiknya tidak dilewatkan. Dari mencari makan untuk buka, bangun sahur, tarawih, petasan, jalan-jalan, atau ini :pulang kampung!. Bobot kegembiraan biasanya bertambah berat kalau hal-hal tadi terjadi di kampung halaman,hehe.

Selain hal menarik, hal tidak menarik juga tidak kalah banyaknya. Ramadhan adalah bulan belanja tanpa kontrol. Momentum panen besar-besaran bagi retailer, provider seluler, rumah produksi sinetron atau acara lawak, dan semua produk barang dan jasa yang bisa ditelan habis oleh hysteria ramadhan... 

Untuk sementara mari menikmati 1 ramadhan. Selamat berpuasa buat kawan-kawan yang menjalaninya, meski lebih tepatnya selamat berjuang melampaui “puasa” itu sendiri..

Pukul : 16:13
The charlatans_blackened blue eyes

Hal Klasik yang Tidak Mereka Katakan Tentang Kasus Ruyati



"Laws are spider webs; they hold the weak and delicated who are caught in their meshes but are torn in pieces by the rich and powerful."
plato

pagi yang selalu sama. Hari dibuka oleh sarapan penuh dagelan dan kejengkelan. Membaca berita lewat dunia maya hampir pasti meninggalkan pelajaran maha penting, bahwa saya harus sadar sebagai penduduk dari Negara berlumur masalah. Kali ini tragedy datang dari tenaga kerja Indonesia (TKI).
Ruyati, seorang TKW asal bekasi,jawa barat yang bekerja di arab Saudi berakhir naas, meninggal ditangan tukang jagal. Peristiwa miris ini setidaknya melahirkan 2 sorotan, pertama, eksekusi hukuman mati itu sendiri dan kedua perlindungan pada pekerja imigran.
Vonis dan praktek hukuman mati masih menjadi Sumber perebatan di banyak Negara. Berbagai protes mengalir untuk menghapuskan hukuman mati. Hal ini tentu saja terdengar mengerikan bagi banyak orang, seseorang dipenggal tanpa ampunan. Kontroversi beredar cukup ramai diantara sejumlah lembaga HAM internasional yang bertahun-tahun berkampanye menolak eksekusi mati. Bahkan, dalam konteks hukum islam sekalipun, masih menyisakan tumpukan perbedaan tafsir mengenai apakah ada kompromi atau tidak terhadap hukuman mati.

review : free trade versus protectionism


Dalam review ini, saya mengulas tulisan dari Bruce E. Moon yang berasal dari buku introducing global issues ( introducing global issues edited by Michael t. snarr and D. neil snarr, hal 91-108).  Adapun tema tulisannya adalah free trade vs protectionism: values and controversies pada bab 6. Penulis akan berusaha menganalisa, melakukan komparasi, dan menginvestigasi pokok pemikiran bruce e. moon dari sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian, penulis berharap dapat menemukan sejumlah aspek yang kurang dielaborasi atau bahkan mungkin luput dari pengamatannya. Review ini tentu saja akan diawali oleh deskripsi menyangkut  analisa dan gagasan bruce e. moon tentang topic diatas.
Introduksi dan latar belakang

Dalam tulisannya, bruce e moon mengajukan gagasan yang sangat menarik dan cermat dalam melihat substansi beserta perkembangan perdagangan internasional. Dinamika yang muncul akibat system perdagangan tidak boleh hanya diletakkan pada konteks ekonomi semata karena pengaruh dan akar masalahnya justru sangat politis. Setiap bentuk kerjasama perdagangan dibangun oleh kerangka dan motif politik baik yang dibentuk oleh Negara maupun lembaga internasional.

kekerasan struktural dalam konflik darfur



introduksi

Konflik Darfur adalah salah satu tragedy paling kontroversial di abad 21.Sorotan tajam dunia mengarah pada otoritas sudan yakni pemerintahan omar al basher yang berkonfrontasi dengan SLA (Sudan liberation army) dan JEM (justice and equality movement). Pertumpahan darah yang berpijak pada perebutan kekuasaan berakhir sebagai genosida atau pembasmian etnis. Ratusan ribu korban berjatuhan termasuk warga sipil tak berdosa dengan kuantitas yang tidak sedikit. Konflik di sudan pada prinsipnya telah berlangsung sejak lama namun mencapai titik kulminasi pada konflik Darfur yang dimulai tahun 2003. Sejumlah langkah diplomatic telah dan sedang ditempuh untuk meredakan konflik dari berbagai ototritas internasional terutama PBB. Dilain pihak beragam analisa muncul sebagai upaya untuk lebih memahami substansi dan resolusi konflik yang ada. Tulisan berikut akan mencoba memotret dan menelusuri konflik Darfur berikut dinamika dan kompleksitas yang mengiringinya. Konflik di Darfur dipengaruhi oleh beragam factor dari agama, ras, hingga factor kekuasaan dan akses sumber daya ekonomi. Namun penulis meyakini bahwa situasi di sudan lebih banyak dibangun oleh kekerasan structural yang bersandar pada ketidakadilan ekonomi dan politik alih-alih sebagai akibat dari kekeringan parah di sudan. Selain itu, penulis akan mengajukan sejumlah proposal resolusi konflik dalam kerangka restorasi perdamaian dan menjaga stabilitas sosial-politik di sudan.

Sejarah dan konteks konflik

Secara umum, populasi sudan dapat dikalsifikasikan kedalam 2 kategori ras yakni ras afro (black African) dan arab. Dari sekitar lebih 40 juta jumlah penduduknya, proporsi ras afro mencapai 49% sementara keturunan arab berjumlah sekitar 38%. Dilain pihak juga terdapat ras numibia dan ras lainnya dengan persentase sekitar 11%. Adapun persebaran geografis bedasarkan garis rasial juga terjadi dimana keturunan arab mendiami bagian utara Negara, sedangkan penduduk afro hidup menempati wilayah sudan bagian selatan. Di beberapa wilayah, seperti Darfur, terjadi banyak pernikahan campuran dari berbagai ras tersebut sehingga perbedaan fisik Nampak sebagai hal yang relative kecil. Garis demarkasi lain dalam demografi sudan adalah keyakinan agama. Penduduk arab sudan dan sejumlah keturunan afro yang berada di bagian selatan sudan didominasi oleh Kristen dan keyakinan-keyakinan (agama) tardisional. Di Darfur sendiri, baik penduduk arab maupun afro menganut islam (muslim). Sehingga secara keseluruhan, penganut islam memiliki persentase terbesar yaitu sekitar 70%, Kristen berjumlah 15% dan agama tradisional dan lainnya sebesar 15% juga.[1]

Sekali lagi tentang teknologi*


Beberapa hari yang lalu seorang kawan mengirim respon atas tulisanku (yang judulnya habibie). Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari komentar kawanku tersebut. Dia masih berpijak pada asumsi bahwa kompetisi dan pembangunan sains sebagai modal krusial bagi tiap bangsa didunia. Persepsi ini tentu saja bukanlah hal yang baru dan tidak seluruhnya keliru (setidaknya dalam logika mainstream). Hampir tiap hari pandangan konservatif serupa disebar disegala macam institusi baik di sekolah, kampus, kantor, perusahaan, dll. Tetapi saya justru terpancing untuk mendiskusikannya lebih lanjut. Baiklah, jika ini factor perspektif yang saling berbeda maka saya akan sangat memakluminya. Namun begitu, cerita hidup kita bukanlah sesuatu yang lahir dari skema mulus tanpa interupsi dan goncangan. Setidaknya, ada sejumlah fakta objektif yang sulit dibantah apalagi jika kita berupaya lari darinya. Postingan ini adalah feedback buat dia. Saya meributkan teknologi yang anehnya tanpa teknologi tulisan ini akan berakhir di alam ide saja,hehe.
Sebenarnya kami sudah terlibat debat sengit sejak tahun lalu tentang isu ini,hehe. Perlu saya tegaskan sejak awal bahwa tulisan ini tidak ada dalam kerangka apakah kita butuh teknologi atau tidak, apakah saya menolak kemajuan sebuah bangsa lewat teknologi atau tidak. Dua hal tersebut segera akan menjadi debat kusir,hehe

…Ternyata Habibie tidak sejenius itu*


Dalam salah satu kesempatan, seorang dosen melemparkan sebuah adagium “there is devil in details”, terjemahan bebasnya kurang lebih : berhati-hatilah dengan hal-hal kecil. Selalu selidiki dan berwaspadalah terhadap sesuatu yang kerap kali tak kasat mata atau laten. Begitu mendengarnya saya tersenyum sambil mengangguk, he’s damned right! Hehe..
Tanggal 26 kemarin, saya sempatkan diri menghadiri sebuah seminar,lebih tepatnya presidential lecture-setidaknya begitulah tertulis di bannernya. Rencanax, pak habibie, yup si jenius itu didaulat menjadi pembicara dengan dengan tema seputar bagaimana membangun kemandirian bangsa. Seperti biasa, semangatku harus kupompa berkali-kali untuk memaksakan langkahku kesana,hehe..sebelum kesana tidak sah rasanya tanpa segelas kopi bersama mas krist di kantin yang kebetulan letaknya tak jauh dari lokasi seminar.

critical review : krisis hutang amerika latin menurut thomas oatley



dalam review ini, saya akan mengangkat tulisan dari Thomas oatley dalam bukunya yg berjudul international political economy:interests and institutions in the global economy. Adapun tema tulisan yang akan ditinjau adalah fenomena krisis financial Negara Negara amerika latin yang tertuang dalam bab14 :developing countries and international finance : the latin American debt crisis. saya akan berusaha menganalisa, melakukan komparasi, dan menivestigasi pokok pemikiran Thomas oatley dari perspektif yang berbeda. Dengan demikian penulis berharap dapat menemukan sejumlah aspek yang kurang dielaborasi atau bahkan mungkin luput dari pengamatan Thomas oatley. Namun begitu, review ini tentu saja akan diawali oleh deskripsi mennyangkut analisa dan gagasan oatley yang berkaitan dengan tema diatas.


Introduksi dan latar belakang

Dalam bukunya, tulisan Thomas oatley sangat berbobot dan analitis. Dekripsi dan penjelasan oatley mengenai basis dan metode pembangunan ekonomi Negara berkembang seperti di amerika latin berhasil menawarkan pemahaman yang cukup komprehensif. Hal tersebut direfleksikan dalam pembahasan dinamika system financial dan relasinya dengan krisis hutang yang melanda Negara-negara amerika latin dimana diawali oleh uraian tentang prinsip dan mekanisme kerja pembangunan ekonomi berbasis investasi dan pinjaman luar negeri. Namun demikian, tentu saja setiap penulis tidak dapat lepas dari tendensi subjektif dan perspektifnya sendiri yang menjadi karakter utama tulisannya. Oleh karenanya, penulis berusaha mengulas aspek kajian yang kurang tereksplorasi dalam pembahasan krisis hutang di amerika latin.
Bab 14 buku oatley, diawali oleh latar belakang dan gambaran umum pada dinamika kebijakan ekonomi Negara Negara amerika latin yang berupaya mendorong pertumbuhan lewat mekanisme ekonomi liberal. Tetapi, oatley meyakini bahwa Negara Negara sedang berkembang termasuk di amerika latin seringkali melewati periode sangat sulit dalam perjalanan ekonominya dalam hal ini berupa ledakan krisis ekonomi. Kemajuan dan kemunduran ekonomi mereka tampak telah menjadi siklus teratur.

poster anti tambang di wera, bima

panjang umur perlawanan warga wera,bima (NTB)!
poster ini dikutip dari:
http://barawera.wordpress.com/2011/04/08/warga-wera-melawan-koorporasi-tambang-pasir-besi/

dari konser ERK*


Minggu yang sangat buruk. Inter 2 kali kalah secara memalukan, hasrat mencetak buku yang belum kesampaian, postingan blog stagnan, suasan kuliah yang masih membosankan, atau ini yang paling serius, kerinduanku yang teramat besar pada aktifitas-aktifitas lama bersama kawan-kawan di kampus. Tapi hidup kelas menengah tidak selalu dibalut oleh cerita suram bukan? Yeah, kita selalu menemukan kesenangan dan merayakan dunia meski dengan rasa tega dan tak tahu malu…terdengar sarkastis memang, tapi inilah kondisi objektifnya. Hampir tiap hari kita ikut mengotori bumi, hanyut dalam hiruk-pikuk budaya urban, atau yang paling menyedihkan adalah berdiam diri melihat persoalan disekitar (walau berontak secara minimal via kutukan dalam hati). Lantas, apakah kita tidak berhak bersenang-senag?tentu saja tidak. Kesenangan adalah anugerah dan itulah yang membuat hidup lebih menarik. Namun yang menjadi soal adalah eksistensi kita ditopang oleh kontribusi sekaligus penghisapan terhadap orang lain. Setiap piring nasi, segelas kopi, berlembar-lembar pakaian, rokok, atau hiburan dan kebutuhan harian kita adalah produk yang diolah lewat keringat buruh yang tidak dibayar layak, petani tanpa tanah, nelayan miskin, atau kerja segenap buruh di sektor lain. Mustahil untuk mengklaim bahwa kita eksis tanpa peran orang-orang tadi. Singkat kata, ayo lakukan sesuatu!!!hehehe…

mengenal hubungan neoliberalisme dengan finansialisasi

postingan berikut ini saya terjemahkan dari tulisan Ben Fine yang berjudul neoliberalism as financialization dalam buku economic transitions to neoliberalism in middle-income countries, edited by Alfred Saad Filho and Galip L. Yalman, published by routledge,2010


Mempertentangkan neoliberalisme

Ketika pertamakali muncul, neoliberalisme tampaknya,relative dapat didefinisikan dengan mudah dan tidak menimbulkan kontroversi. Dalam arena ekonomi, ia adalah sesuatu yang sangat kontradiktif dengan keynesianisme dan menitikberatkan pada mekanisme pasar yang berjalan sempurna. Pandangan yang serupa secara khusus menyatakan bahwa peran Negara bersifat korup, Negara menjadi rentenir, dan tidak efisien sehingga menghambat kemajuan dan kebaikan. Secara ideologis, pencarian individu akan kepentingan pribadi merupakan alat menuju kebebasan sebagai lawan dari kolektifisme. Dan secara politis, reagenisme serta thatcherisme memainkan peran yang sangat signifikan. Penting juga diperhatikan bahwa neoliberalisme harus muncul segera setelah berakhirnya era perang bersama kolapsnya system bretton woods mengenai system pertukaran mata uang tetap (fixed exchange rate).

Itu semua terjadi 30 tahun yang lalu,ketika neoliberalisme telah merambah dunia akademis sebagai kosakata yang belum popular, namun sekarang ia telah diperdebatkan dimana-mana terlepas apakah definisinya jelas atau kabur. Bagaimana ia bergerak bersama globalisasi dalam kerangka kapitalisme kontemporer, sebagai tatanan dunia baru dan imperialism baru. Apakah setiap istilah tersebut mengacu pada pemahaman yang sama namun dengan konsep dan titik berat yang berbeda? Dan bagaimana kita menempatkan neoliberalisme dalam relasinya dengan politik jalan ketiga (third wayism), konsep pasar social (social market), dan sebagainya. Politisi, teoritisi, dan ideolog mana sajakah yang dengan bangga mengambil jalur berbeda dari neoliberalisme, atau siapa sajakah yang dalam kebijakan dan politiknya, telah ditelan oleh neoliberalisme (atau setidaknya sebagian saja,dalam beberapa kasus)?

resensi : anti kapitalisme untuk pemula


Judul : Anti Kapitalisme : for beginners
Penulis : Simon Tormey
Penerbit : Teraju
Cetakan : juli 2005
Tebal : xxxiv+300 hal.
Content : 1. Ekonomi-Politik 2. Gerakan Sosial 3. Globalisasi

Adalah seorang Adam Smith yang berhasil meletakkan salah satu pilar terpenting sejarah pemikiran dunia. Pada tahun 1776 dalam bukunya “Wealth of The Nation” ia memformulasikan suatu teori ekonomi yangkelak begitu merajalela dan hegemonik. Yap, tesis KAPITALISME telah menjadi terobosan signifikan dalam menganalisis aktifitas ekonomi masyarakat. Teori yang bersandar pada studi ekonomi-politik ini, sukses menularkan dirinya pada hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam perjalannya ekonom borjuis semisal David Ricardo atau Jean Baptise Say ikut menyempurnakan struktur dan wajah kapitalisme sebagai doktrin utama ekonomi dunia. Selanjutnya apa itu kapitalisme? Akibat keterbelakangan sistem pendidikan kita, kapitalisme didefinisikan hanya sebatas paham ekonomi yang mendorong kompetisi antar individu dalam pasar dan memiliki faktor produksi agar tercipta kesejahteraan bersama, terkontrolnya inflasi, atau investasi yang berkembang. Setelah itu kita dipaksa menelan dan memuja kapitalisme tanpa kritik.

resensi ishmael

Kira-kira 2 tahun yang lalu beberapa kawanku merekomendasikan sebuah novel berjudul Ishmael. Semuanya sepakat bahwa novel tersebut sangat bagus terutama kontennya yang sarat dengan pesan dan sudut pandang baru dalam memahami kehidupan. Namun hal tersebut tidak membuatku bergeming. Pertama, saya memang bukan penikmat karya sastra tulen dan yang kedua waktu itu saya lebih banyak mengkonsumsi bacaan diluar sastra. sampai sekarang jumlah novel atau cerpen yang habis saya baca mungkin masih bisa dihitung jari. Itupun hanya karya yang memang “ngepop” dan “standar” (bukan karena kualitasnya tapi karena banyak sekali orang yang telah membacanya) semisal dunia sophie, alchemist, 1984, dan kumpulan cerpennya leo Tolstoy.. Yang paling saya ingat bahwa novel ismael bercerita tentang upaya untuk menyelamatkan dunia.
Pada dasarnya saya memendam hasrat untuk membaca Ishmael. Keinginanku bertambah kuat sejak testimony beberapa orang yang baru saja membacanya. Tapi lagi-lagi saya tidak benar-benar serius merealisasikannya. Bagi saya Ishmael dapat ditunda terlebih pada saat yang hampir bersamaan saya juga dikubur oleh perampungan study dan menjadi buruh berdasi,hehe

bertol brecht-questions from a worker who reads

Who built Thebes of the seven gates?
In the books you will find the names of kings.
Did the kings haul up the lumps of rock?
And Babylon, many times demolished
Who raised it up so many times? In what houses
Of gold-glittering Lima did the builders live?
Where, the evening that the Wall of China was finished
Did the masons go? Great Rome
Is full of triumphal arches. Who erected them? Over whom
Did the Caesars triumph? Had Byzantium, much praised in song
Only palaces for its inhabitants? Even in fabled Atlantis
The night the ocean engulfed it
The drowning still bawled for their slaves.
The young Alexander conquered India.
Was he alone?
Caesar beat the Gauls.
Did he not have even a cook with him?
Philip of Spain wept when his armada
Went down. Was he the only one to weep?
Frederick the Second won the Seven Years War. Who
Else won it?
Every page a victory.
Who cooked the feast for the victors?
Every ten years a great man.
Who paid the bill?
So many reports.
So many questions.

si bungkuk dari sardinia


Dalam diskusi gerakan dan perubahan social, mungkin Antonio gramsci adalah seorang pemikir yang hampir selalu dikutip dan disebut. Betapa tidak, cakrawala dan pengaruh pemikirannya telah menjadi rujukan wajib untuk menganalisis dan membedah persoalan social. Bahkan untuk wacana marxisme sendiri, bisa dipastikan marxisme akan kehilangan keampuhan dan relevansinya untuk mendobrak tatanan social-kapitalisme.
Selama puluhan tahun, banyak pihak yang terjebak dalam dogmatisme sempit terhadap marxisme. Selama ini pemahaman marxisme masih berkubang pada analisa yang meyakini basis struktur yakni ekonomi sebagai poros utama yang menetukan segala bentuk orientasi dan corak peradaban. Dengan kata lain setiap fenomena social direduksi dalam tafsir-tafsir ekonomi dan selalu melangkahi struktur lain seperti politik, pendidikan, kebudayaan, atau agama. Pada prinsipnya kesadran massa hanya dicetak dalam bingkai material-ekonomi semata.

noam avram chomsky#


…Now, I can’t sleep from years of apathy
Only cause I read little noam Chomsky…
NOFX, “franco un-American”

Pada tanggal 20 september 2006, seorang presiden melakukan hal yang kurang lazim. Momen tersebut ternyata sidang majelis umum PBB (general assembly of UN). Dalam pidatonya,  hugo chaves,presiden Venezuela, menjelaskan pola dan stabilitas perdamaian dunia. Namun yang unik adalah, ketika chaves secara eksplisit merekomendasikan buku yang berjudul, hegemony or survival : america’s quest for global dominance. Ia mengatakan bahwa buku ini sangat cerdik dalam menjelaskan mengapa bahaya dan ancaman terbesar untuk perdamaian dunia adalah amerika serikat. Yap, itu adalah satu dari puluhan buku yang telah ditulis oleh noam Chomsky. Ia adalah salah satu penulis dan aktifis kontemporer yang cukup berpengaruh.
Sebagai seorang akademisi, ia tidak dapat dikatakan sebagai akademisi biasa. Cakrawala pemikiran Chomsky, cukup luas dan komprehensif. Arus globalisasi yang sangat massif telah menciptakan kemerosotan. Chomsky yakin bahwa demokrasi telah direduksi sebagai pelindung pasar. Maka lahirlah sebutan demokrasi pasar.

sedikit tentang media indie


  Akhirnya, kita sampai pada cetak biru masyarakat mati. Dimana hampir setiap orang didalamnya tengah lelap tertidur dan lupa hingga tecerabut dari esensi manusia yang sebenarnya. Kita hidup dalam dunia yang diwarnai oleh silent majority, yaitu mayoritas yang terbungkam. Suatu desain luar biasa bagaimana membangun penaklukan individual tanpa memancing self-resistence atau pemberontakan si individu. Dibalik dominasi kapitalisme yang bergerak lewat invasi arus modal berupa materialisme dan ternyata hal ini hanya menjadi wajah lain dari kebobrokan kapitalisme. Karena pada prinsipnya, apa yang diserang oleh kapitalisme justru bersemayam pada pola pikir dan spiritualitas. Era kapitalisme lanjut adalah titik balik bagi kapitalisme untuk selanjutnya, mentransformasikan dirinya kedalam bentuk yang berbeda. Dominasi citra dan imaji kapitalisme kini telah menempati relung-relung terjauh dari eksistensi manusia. Apa yang sekarang terlahir adalah perbudakan gaya baru lewat mekanisasi kehidupan. Nah, pada konteks ini, rupanya imperium kapitalisme sangat bersandar pada corak dan model pendidikan karena hingga saat ini medium pendidikan masih menempati posisi paling vital dalam membangun karakter manusia. Maka lahirlah berbagai paradigma pendidikan yang mencoba mengusung visi dan kepentingan tertentu. Louis Althusser secara tegas menyatakan bahwa pendidikan sejak lama telah menjadi state appartus ideology, yakni alat kelompok penguasa untuk menyisipkan selubung ideologisnya. Sehingga tidaklah mengherankan ketika banyak orang merasa bahwa kapitalisme itu sebagai sesuatu yang alamiah dan rasional. Oleh karena itu, langkah pertama untuk memberontak adalah dengan menggeser paradigma ini ke tong sampah!

komodifikasi dan kapitalisme lanjut



 Rasanya begitu sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa arus kehidupan bergerak satu arah. Hari ini kecendrungan social secara jelas merefleksikan wajah masyarakat yang terus dilapisi kemapanan ekonomi. Hampir disetiap jengkal lapangan kehidupan kita diperhadapkan pada pilihan yang amat seragam. Dinamika dan interaksi manusia kini tengah terjebak dalam kurungan industrial dan materialisme. Sehingga cukup mudah untuk memahami bahwa ternyata tatanan dunia terseret ke suatu muara yang disebut kapitalisme. Eksistensi kapitalisme bukanlah sekedar jargon klasik kelompok kiri (leftist) tapi ia telah mewujud dalam sebagian besar sisi kehidupan manusia bahkan untuk sisi yang paling personal sekalipun. Masyarakat hampir tak memiliki ruang lain untuk berinteraksi selain dalam dunia artificial yang dikonstruk secara sistemik dan teratur oleh kapitalisme. Fenomena konsumerisme berhasil mengepung kehidupan lewat media massa dan iklan yang terus merajalela. Pergerakan pasar melahirkan sayap-sayap imaji dan citra yang melekat kuat di kotak televisi, kolom iklan suratkabar, billboard politisi rakus atau di celana dalam Britney Spears dan Collin Farrel. Semua ini terjadi tanpa control. Kita dipaksa hidup dibawah bayangan kekayaan dan popularitas. Dunia telah diartikulasikan dalam bentuknya yang sangat cantik nan menawan yaitu uang, uang, dan uang!
Mtv gue banget, apapun makanannya, minumnya pasti teh botol sosro,segarkan harimu dengan coca-cola, dan rayuan-rayuan lain iklan kini tertanam begitu kokoh hingga kedalam alam bawah sadar. Tidak mengherankan jika orang lebih menghafal produk berikut slogannya dibanding kitab sucinya masing-masing. Lebih gawat lagi, ketika beberapa ustadz ikut memamerkan produk telekomunikasi  sembari mengatasnamakan tuhan dan agama! Tentu saja, ini menjadi indikasi bahwa wilayah religius-agamapun ikut dilacurkan dalam komoditas dangkal kapitalisme.
Meskipun begitu, hampir semua pihak menganggap kapitalisme sebagai kewajaran. Berbagai fenomena diatas malah dirasakan sebagai hal yang alamiah dan rasional. Adapun kesalahan dan ketimpangan yang muncul justru disimpulkan sebagai hukum alam dimana selalu ada yang baik dan buruk. Mungkin terlampau cepat jika dikatakan hal tesebut diakibatkan oleh kekuatan hegemoni. Namun sebelum melangkah ke tahap itu, ada satu pertanyaan fundamental, apakah kapitalisme eksis secara alamiah atau ia hanya sebuah scenario dan rekayasa social?
Secara sederhana mungkin kita dapat menganalisis perkembangan masyarakat kontemporer lewat telaah kritis dinamika panjang ideologi kapitalisme. Doktrin ekonomi tersebut, secara akademis, pertamakali diperkenalkan oleh Adam Smith. Dalam bukunya yang berjudul wealth of the nation tahun 1776, ia menawarkan sebuah formulasi ekonomi untuk mengorganisir dan menata aktifitas ekonomi dalam kerangka kompetisi pasar. Setiap individu dibebaskan untuk mengejar profit dan alat produksi sebanyak-banykanya demi kemajuan bersama. Gerak ekonomi mesti bermuara pada pembentukan komoditas dan untung. Struktur dan wajah kapitalisme kemudian disempurnakan oleh pemikir borjuis seperti david ricardo dan jen baptise say. Selama ratusan tahun, kapitalisme menjadi sandaran utama tatanan ekonomi sebagian besar negara didunia. Begitu dominannya tesis ini,ia telah sukes menjebak para pembuat kebijakan dan masyarakat kedalam keterbatasan berpikir. Maksudnya pemikiran kita seakan disumbat tanpa mampu melihat alternatif lain disamping kapitalisme. Monopoli gaya berpikir ini memaksa orang untuk menelan dan memuja kapitalisme sebagai juru selamat atau messiah yang mendorong kesejahteraan dan keadilan sosial.

analisis gender dalam konflik darfur


GENDER DIMENSION IN DARFUR CONFLICT

Introduction
Civil war in Sudan which takes place since 2003 assumed to be the worst conflict in the world. Slaughtering and another terrible socio-economic impact have been the major and common incident for people of Sudan. Some critical measures are taken to resolve this armed conflict especially from international level. Various groups both government, international organizations, and NGO involved in pursuing its settlement. Unarguably, in recent years Sudan have become one of world’s main concern. The conflict itself is sparked by the rebellion group from southern Sudan called Sudan Liberation Army (SLA) and Justice and Equality Movement (JEM) against the official government. In return, this country has suffer from a huge catastrophe on many extent life.
This paper is trying to analyze the outline of the conflict which will be discussed on its history, root cause, impact over its victim or civilians.. The analysis made by using gender perspective. Therefore, it is expected that we will understand the conflict in the context of gender relations. But the main focus will be on the violence against women during conflict. Women have been always victimized more severe than the others. It comes up due to the social-political structure within the society. At the end of this paper, the author will give a critical depiction and subjective outlook over the conflict as well as some recommendation to resolve the conflict.
History of conflict and its root cause
The country of Sudan can be roughly divided into two on a "racial" basis. Of the 38 million people in the country's population, 49 percent are Black Africans. The rest consists of Arabs (38%), Nubians and others (11%). There is also a geographical division in terms of where the different peoples live. The Arabs are found in the northern part of the country, while the Black Africans are in the south. In some regions, like Darfur, there has been a lot of intermarriage amongst the various groups so that physical differences have become minor.
The other line of demarcation is religion. The Arab Sudanese are Sunni Muslims and their Black African neighbors to the south are predominantly Christians and traditionalists[1]. In Darfur, however, both "Arabs" and Black Africans are Muslims. Overall, Muslims make up 70 percent of Sudan's population, Christians are 15 percent, while Traditionalists and others account for another 15 percent of the population.
Even before Sudan's 1956 independence from Great Britain, the new government in Khartoum had begun a program of Arabization and Islamization of the whole country. War broke out in 1955. John Garang, leader of the Sudan People's Liberation Army (SPLA), was a young recruit into a fledgling southern rebel guerilla army in 1963. After a peace deal with Khartoum in the early 1970s, members of the rebel guerillas, including Garang, were drafted into the regular Sudanese army. Garang, a southerner and Dinka tribesman, rose to the rank of colonel in the Sudanese army. But in 1983, after northern troops attacked a unit of southern soldiers he once commanded, Garang left the army with his southern colleagues and launched a second guerilla war against Khartoum. Garang was fighting to end economic and political marginalization of southerners by Khartoum and to bring about the establishment of a secular government in Sudan. It took over twenty years, but by 2003 the SPLA campaign was yielding results. The government was eager to negotiate even to share power with Garang's group. On July 9, 2005 Garang was sworn-in as vice president of Sudan just before he was killed in a plane crash in early August 2005. Garang's success with Khartoum inspired the Black African Muslims in Darfur to launch their own military campaign against the Arab Sudanese government in 2003. Under the banner of Sudan Liberation Army (SLA), the Black Africans of Darfur have launched a series of attacks against government targets in the region. The response of the Sudanese government is what we see and hear in the news media -- whole villages being sacked and pillaged by government sponsored armed agents.
Basically, Sudan is a country with a high political turbulence along its history. Rebellion and civil war are usual phenomenon. But recent conflict happen in Darfur considered as the worst where humanitarian tragedy seems to reach its culmination point. It was originated by an armed movement launched by rebellion group called Sudan Liberation Army (SLA) and Justice and Equality Movement (JEM) in 2003. They attacked outpost of the arab government. The rebels that most of them come from non Arab such Fur, Masalit, and Zhagawa tribes, demanded greater political and economic power distribution. So, their major accuse is that central government based-Arab people always marginalizes and ignore African people for decades. When rebel forces sent attack to government of Sudan at El Fasher in north Darfur, the government of Sudan-under the leadership of president Omar Al Basher- along with its militia called Janjaweed countered it brutally. Throughout 2003, this civil war escalated by invading and ambushing in massive level over non Arab or afro tribe villages all across the region. This attack exercised through land and air. They burn homes and crops, destroy wells, granaries, and irrigation works, and steal people’s property. The most horrible of this conflict is certainly ethnic cleansing tragedy. Hundreds of thousands people were killed and millions of others are dicplaced included huge wave of refugee. As the conflict enters its sixth year, conditions of Sudannese continue to deteriorate especially the innocent people. According to UN, number of death toll has reached at roughly more than 300.000 persons. Up to 2.5 million Darfuris have fled their homes and continue to live in camps throughout Darfur, or in refugee camps in neighboring Chad and the Central African Republic[2]. In addition, 80% of the children under five years old are suffering from lack of food and from disease within coming years. At the same time, government of Sudan systematically responsible for various kinds of human rights and moral violation against Afro person of Sudan. Janjaweed perpetrates abduction of children, raping, and sexual violence or sexual abuse in high intencity.
Gender dimension in the conflict (violence against women)

Throughout history government structures, principles of governance and decisionmaking processes have been developed almost exclusively by men[3]. Women have been confined to the ‘private’ sphere, mostly to domesticity.Therefore, the baseline for most contemporary patterns of
governance, decisionmaking and related activities originates from the models created by men. Their implementation as public policy structures and modus operandi remain strongly ‘gendered’. In political level, women forced to adjust their role over the existing structure and look for spaces to play their role and interest.

In many societies, women tend to be considered lower than men. This relation actally well-established since long time ago. Unequal relationship against women appear as something which taken for granted by many people even for women themselves. The spread of stereotype about the weakness and the inferiority of women are legitimized by various institution like politic, economy, even religion. The government itself in many cases remains maintain it despite arguing to build welfare and just society. Reproduction of men’s superiority could be seen in many ways. Role and position like leaders, politician, job seeker,etc. should not be held by women. Women is restricted to do various things in public sphere. Surprisingly, there is no rational explanation why women could not develop their talent and skill. Up till now, patriarchy lean on myth which has been structurized along the history. Beside that, marginalization of women also derived from capitalism. According to some feminist, this economic system has created women as an object of commodification as well as the source of profit in term of their cheap labour power. Escalation of women subjugation occur primarily during armed conflict. Conflict in Darfur has shown that how women repressed and experience severe catastrophe.

kebohongan doktrin pasar bebas

PARADOKS LIBERALISASI PASAR DALAM WTO

ABSTRAKSI
World economic order after the ratification of GATT shows some contractions and a number of controversies. The broadening of trade agenda in Uruguay round was a new phase of agreement among the countries. Ministerial meeting 1986 produced a declaration called punta del este. This consensus creates the establishment of WTO as the only multilateral institution to mediate any cooperations of global trade. WTO itself palys its role to sustain and make sure that the agenda of trade liberalization runs optimally. Nevertheless, amids the euphoria of trade liberalization discourse, some problems and polemic come up. The appear due to inconsistency of developed countries which implement protectionism policy on their some sectors of trade. Third world group then build a coalition to refuse every form of deception in free trade policy. This condition has caused the emergence of internal friction in the WTO body.
In this paper, the author will try to analyze and explain the dynamic of trade liberalization policy among the countries after the establishment of WTO. My main focus are on 2 aspects, first, why is there conflict of interest in WTO?, and second, how is the implication of protectionism policy over third world countries?  Subsequently, we will obtain a hypothese that market liberalization is never fully implemented instead. Doctrine of free market and the elimination of trade handicaps are not executed consistently by developed countries. Third world countries even tend to be dictated and suppressed to eliminate all kinds of trade handicaps. This handicap include some regulations like subsidy, tarrief,quota, or taxation. So the consequence is the destruction or domestic market in third world due to their incompetence of capital against MNC and developed countries.
Market liberalization under neoliberalism is actually a hidden form of modern imperialism. The massive integration of world economy has created disparity and imbalanced competition. World is divided by a world gigantic power of capital which exploit third world. Through the mechanism of capital and trade liberalization, our reality si underpinned by domination and monopoly.  Globalization of economy has becpme a trap for south countries which keeps maintaining wealth accumulation only to few capitalist and developed countries.
LATAR BELAKANG
Situasi ekonomi-politik hari ini merefleksikan perubahan yang sangat dramatis. Tatanan ekonomi global berkembang sangat pesat dan berimplikasi pada berbagai ranah kehidupan. Relasi dan kerjasama ekonomi terbangun sangat massif yang ditandai oleh intensifikasi dan keterbukaan pada sector-sektor ekonomi strategis antara Negara. Angka investasi, volume perdagangan, hutang luar negeri, serta peran pasar financial yang begitu tinggi telah menjadi karakter utama dinamika hubungan internasional dewasa ini. Memasuki millennium ketiga, dunia berubah sangat cepat yang kemudian menimbulkan implikasi kompleks, yaitu munculnya ketergantungan (interdependence) dalam hampir seluruh dimensi kehidupan pada level hubungan antara negara bangsa dan hubungan transnasional (transnasional relation).[1]

neolib di asia tenggara (english version)



Neoliberalism and economic sustainability in south east asia

Abstract
Major shift in world order after cold war has posed some dramatic changes. Dynamic of international relation significantly begins to move more complex. It is shown by the emergence of unilateralism of politic-represented by US-, turbulence in the frame of global political economy order, the birth of new regionalism or even a global threat which called terrorism, and many people are shocked by a serious ecological problem. Those events at least, slowly but sure distract our attention in perceiving the logic and nature of world politic. The dominant issue of deterrence, arm race, or millitary approach during cold war are now fading away due to interdependence relation among states of world. It is clearly seen from a huge reality called globalization. Surprisingly, it spreads very fast and influences many aspects of life. As a respond, many countries now try to build some cooperation which reflects a distinct political economy interest as their major goal. Those relation is formed both bilateral and multilateral cooperation. We are watching economy regionalism and particular economy bloc is set up in some regions. In fact, we are entering a borderless world. Events from various kind of countries moves and passes by very fast. Through a dramatic progress of sophisticated technology, products of economy, culture,politic,etc, have been a common thing. This is the arena of a globalized world which keeps campaigning a single credo called neoliberalism. Neoliberalism soon has been vastly hegemonic mechanism applied in many countries. Generally, it works through 3 main policies consist of liberalization, deregulation, and privatization.
The euphoria of free market economy supremacy was completely shaken by the explosion of global economic crisis about 3 years ago. Surprisingly, the crisis itself centerd in US, a country which has long time known as the greatest economy power,. The emergence of it has stimulated many debates around the sustainability of free market system. Some people argue that the current economy system is too vulnerable and could be endangering the world future. Thus, it is a good point of departure to begins exploring what the core problem behind that huge accident is.
Along with the massive implementation of neoliberalism, people sometimes are unable to analyze and catch what actually really occurs in world economy. What kind of system sustains it? How the mechanism works? And who become the major and marginal actors behind it? Those questions frequently could not be answered well. It even becomes worst due to one side-perception about free market economy as if it is a neutral or linier concept of economy system.
Therefore, in this essay, I assume that neoliberalism which shapes the global free market as a dominant factor in affecting some severe economic crisis in the world. In many ways, neoliberalism might be depicted as a new stream of world economy imperialism. Afterwards, I will try to analyze the big project of ASEAN through AFTA in term of its reliability and sustainability against neoliberalism. Over last two decades ASEAN have been trying so intensive to create chance to open its market towards world competition. But, of course, the first goal of ASEAN is to ensure that there is conducive atmosphere for economic stability in its region.
 I strongly believe that those projects are hevily influenced or a copy paste of neoliberalism principle.so the question is, does ASEAN have promising future or vice versa?
Keywords : neoliberalism, regionalism,economic crisis, AFTA,

Hegemony and domination of neoliberalism
Commonly, terminology of neoliberalism defined as a form of capitalism in new style. Both of them shares the same logic and philosophical basis namely liberalism. This economic system has been very well known due to its resistance against the intervention of government in economic activity. Further, it really believe on the law of free market as convicted by one of its original thinker, adam smith. To let invisible hand plays free assumed to be able to bring out more efficiency and efectivity in accumulating profit for people welfare.
Considered from a historical perspective, globalization is the present stage of economic imperialism. Base on the conception which formulated by vladimir lenin at the beginning of twentieth century, imperialism is a set of basic characteristic : further development of capital monopoly, the emergence of finance capital through the fusion of industry capital and the banks, the export of investment from senter to periphery, and the competition among imperialist to control foreign market.[1] In the present circumstances, these features even become more aggressive. It is accelerated by the huge advancement of technology in transportation and communication. Regard to sophisticated technology of information, it is a crucial instrument to facilitate the growth of finance capital and the network of big multinational corporations. This era witnesses a very high rate of international investment compared to previous years. Since the collapse of soviet bloc, some former countries of soviet and another underdeveloped countries have been trying to open more spaces for foreign investment.

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.