Niar menelpon sekitar jam 10-an tadi malam. Seperti biasa
kami bicara banyak hal. Dari kebiasaanku bangun terlambat, kuliah, kerja, music,
film, hingga sesekali tetek bengek bernama politik. Perbincangan kami
seringkali diwarnai tawa dan humor-humor spontan, diluar sejumlah keluhan
tentunya,hehe. Obrolan semalam ternyata meninggalkan bekas yang hingga kini
belum juga menghilang. Niar memberitahu bahwa ada anak kecil di cina yang
ditabrak mobil, kira-kira berumur 2 tahun lebih. Namun kecelakaan pada yue yue
(nama anak kecil itu) ternyata memicu kontroversi dan sorotan besar-besaran
terutama di cina. Bercampur rasa jengkel niar bilang bahwa yue yue yang
bersimbah darah dibiarkan tergeletak dijalan. Sopir idiot yang menabrak, kabur
dan cuek. 18 orang yang kebetulan lewat dijalan yang sama tidak peduli dan
hanya melihat tanpa tindakan apapun pada yue yue!!!
Tidak lama setelah menelpon, saya berharap ada postingan
serupa di fessbukk. untunglah seorang kawan mentautkan link video kejadian
sekaligus beritanya. Sialnya, saya jauh lebih marah! Tanpa bermaksud
berlebihan, saya begitu sesak. Emosi seolah ingin meledak,damned!! Kepalaku sontak penuh sesak oleh makian.. Sampai tadi
malam tak ada hal yang jauh lebih mengerikan dari yang kusaksikan di video itu.
18 orang, manusia, homo sapiens, atau apapun sebutannya yang tentu saja tidak
rela disamakan dengan binatang, berjalan mulus dengan sesekali menoleh ke yue
yue yang terbaring tanpa daya di tengah jalan. Tak ada satupun yang tergerak
untuk paling tidak memindahkan si anak kecil ke pinggir jalan. Lebih miris
lagi, mobil lain muncul dan melindas yue-yue kedua kalinya! Insiden tersebut
langsung menyulut kecaman dari berbagai lapisan masyarakat terutama di situs
microblogging local cina, weibo. Tidak
banyak protes dapat berkembang diluar dunia virtual di cina. Pemerintah disana terkenal
respresif karena memasung kebebasan berpendapat dan berpolitik. Sebagian besar
kecaman berisi hujatan atas kondisi etis masyarakat yang terus merosot. Nilai-nilai
tradisional cina (konsep yin-yang yang termahsur itu) semakin terkikis baik
oleh factor kesalahan subjektif yang maupun gempuran ekonomi kapitalistik yang
dipuja setengah mati dimana-mana (dengan melihat tingkat “kemajuan” ekonomi
cina beberapa tahun terakhir)
Saya tak ingin tulisan ini menjadi medium yang
menyimpulkan bahwa saya lebih bermoral, baik, atau mulia dibanding 18 orang
tadi. Saya lebih tidak tertarik lagi menyatakan bahwa kejadian tadi menjadi
representasi wajah masyarakat di cina. Adalah bodoh menunjuk karakter
mentalitas warga cina sebagai akar persoalan karena sama saja masuk kedalam
lubang rasisme. Namun saya ingin menyampaikan sesuatu yang justru sangat
ironis. Bagaimana kalau ternyata kita tidak berbeda dari 18 orang tadi? Bagaimana
kalau ternyata kebodohan yang sama justru kita pertontonkan tiap hari? Atau bagaimana
kalau ternyata kita adalah wajah lain dari sopir dungu tadi?
Saya meyakini bahwa kebudayaan dan nilai-nilai local dalam
sebuah masyarakat selalu berpijak pada kolektifitas, apresiasi, dan
penghormatan terhadap orang lain. Hal ini berlaku dan dijunjung di banyak
tempat. Tidak ada klasifikasi budaya timur dan budaya orang-orang di barat. Dikotomi
diantara keduanya adalah produk langsung dari wacana para orientalis sehingga
mempertahankannya adalah tidak tepat atau bahkan lebih buruk lagi, melegitimasi
superioritas salah satu kebudayaan tadi atas yang lain. Di Indonesia, di
beberapa kebudayaan suku yang saya ketahui (sejauh pemahaman saya) seperti
minang, aceh, bugis-makassar, jawa, sunda, Maluku,dll bertemu pada titik yang
sama yakni kebersamaan. Tidak sulit untuk membuktikannya. Di desa-desa tradisi
lama seperti pengorganisiran acara nikah, panen, atau hajatan desa selalu
diselenggarakan secara kolektif. Namun sekarang, lebih mudal lagi untuk
menyatakan bahwa resproduksi dan perwujudan hal-hal tadi semakin miskin dan
dilupakan. Fenomena ini disebabakan oleh 2 faktor klasik, kalau bukan
manusianya sendiri pasti lingkungan atau hal-hal yang terjadi dalam tatanan
sosial. Memilih kedua factor ini cukup sulit, setidaknya jika melihat sejarah
panjang perdebatan antara peran agensi dan struktur sosial. Dalam konteks ini,
saya justru memandang factor lingkungan sebagai akar persoalan yang lebih
primer.
Dunia telah berubah sangat drastic bukan? Ruang dan
waktu semakin menyusut oleh invasi teknologi modern berikut mantra yang
diusungnya bahwa ia adalah sesuatu yang netral. Relasi sosial kita seperti
dikunci sehingga untuk membukanya butuh password bernama uang. Waktu hanya
dianggap berharga jika berakhir sebagai profit, pendidikan hanya bisa suskses
bila menjadi mesin cetak bagi tenaga kerja siap pakai di pasar. Pada waktu yang
bersamaan kemiskinan merupakan kewajaran seperti siklus matahari yang terbit
dan terbenam saban pagi dan sore hari. Pemerintah adalah kumpulan pembawa
amanat perubahan adiluhung yang wajar menikmati kehidupan di istana, diatas Toyota camri, pulang pergi dengan garuda, atau menggunakan pakaian mahal. Disaat
SBY dan cecunguknya menjamu barrack obama dengan kemewahan, ditempat lain
orang-orang dijakarta berjuang dalam himpitnya rumah kardus dan pemukiman
kumuh. Inilah narasi dunia hari ini. Realitas yang menujustifikasi bahwa
kompetisi dan individualisme dipandang mutlak. Tidak perlu sok altruis atau
baik hati untuk memikirkan nasib orang lain. Tindakan semacam itu sudah kuno
dan tak relevan. Ayo ayo semuanya selamatkan diri sendiri! Ayo beli-beli semua
produk mereka! sejumlah di Negara maju menghabiskan miliaran dollar AS setahun
untuk diet sementara 1 miliar penduduk lain terjebak dalam kemiskinan dan
kelaparan!
Ditengah hiruk pikuk ini justru kita yang modern ini
gemar mengeluhkan tentang degradasi lingkungan atau bahaya sejumlah penyakit
berbahaya. HIV, kanker, flu burung, obesitas dll telah menjadi momok yang
menakutkan. Sejak kapan kesemua hal ini muncul? Apakah sama tuanya dengan
peradaban manusia? Atau muncul tidak lama setelah modernitas dan kapitalisme
berkembang? Jadi tidaklah mengherankan jika muncul selentingan umum yang
berbunyi “sudahlah, dunia ini memang tidak adil”.
Namun begitu yang lebih mengherankan adalah kita
sendiri. Kita terus berenang dalam kubangan lumpur kebodohan justru terus
keasyikan. Tidak sedikit dari kita yang mengamini ketimpangan sosial yang ada. Penggusuran
lahan pedagang kaki lima, sabotase terhadap pemukiman dan tanah warga atau
petani, hingga biaya sekolah dan kesehatan yang semakin mahal tampak sebagai tontonan.
Tidak jauh berbeda dengan kejadian yang menimpa yue-yue. Meskipun ada “berita
baik” bahwa kesadaran untuk menolong terus digelembungkan lewat iklan-iklan
baik dari produk2 pakaian, makanan, minuman, dll. Jangan lupakan banyak
korporasi juga terlibat sangat aktif dalam kampanye yang sama. Yup, kampanye
untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan. Sertifikasi green product, bahwa
material produk A terbuat dari bahan yang recyclable.
Membeli produk aqua dan starbucks sama dengan ikut meringankan
kekurangan air di NTT atau membantu para fakir miskin. Fenomena yang oleh
slavoz zizek, seorang filusuf radikal kontemporer, ia sebut sebagai lelucon. Masih
kurang? Perhatikan kampanye bersepeda yang tumbuh seperti jamur dewasa ini. Ayo
kurangi global warming dengan bersepeda (meskipun maksud sesungguhny adalah
belilah sepeda). Lalu apa beda kita dengan 18 orang di cina tadi? Bukankah kita
juga sukses menelantarkan persoalan dan ketidakadilan?adalah penting untuk
menganalisa fenomena ini secara hati-hati dan dalam konteks yang berbeda. Analisanya
tidak boleh hanya berhenti dan puas pada sudut pandang normative alias
moralitas. Selain terlalu mudah, hal ini akan terasa lebih “menyeramkan” karena
berpotensi menciptakan klaim bahwa saya lebih baik dan bermoral dari 18 orang
dan sopir brengsek tadi.
Kapitalisme ingin kita sendiri. Ia ingin kita tercerai
berai. Jika ingin berbuat baik lakukan saja sendiri tak perlu berorganisasi
yang macam-macam atau radikal. Sebaiknya tidak perlu turun dalam advokasi atau
aktfitas sejenisnya, alangkah efisien dan efektifnya jikat kita memberikan
donasi. Bangunlah masjid atau tempat ibadah dengan begitu dosa dan kesalahan
segera menguap. Perlahan tapi pasti kemarahanku terhadap 18 orang tadi mulai
luntur. Perasaan yang sangat mengganggu tentu saja. Saya mungkin berubah
menjadi salah satu dari mereka. Meskipun begitu, saya lebih sepakat kemarahan
pada kasus yue-yue mesti bertransformasi.
Bahwa kemarahan kita penting untuk dialihkan dan diformat pada konteks
yang berbeda. Ia harus bertransendensi menjadi kemarahan pada tatanan yang
berkuasa hari ini. Sama dengan cinta seorang ibu dalam novel bunda karya maxim gorky, bahwa cinta
pada anaknya telah mengalami transendensi menjadi cinta universal pada seluruh
anak manusia yang berjuang melawan ketidakadilan..
Ayo berorganisasi.
Ayo berpropaganda. Ayo terlibat dalam advokasi, ayo menciptakan alternative meski
dalam derajat yang masih kecil. Ayo semuanya. System ini sudah lama goyah J
Farewell to yue-yue. God will bless u,amiiiiin…
(brengsek,
bagaimana mungkin 18 orang tadi tidak berbuat apa-apa!)
Pukul 22:06
Jarvis cocker_i never said I was deep


Tidak ada komentar:
Posting Komentar