…Now, I can’t sleep from years of apathy
Only cause I read little noam Chomsky…
NOFX, “franco un-American”
Pada tanggal 20 september 2006, seorang presiden melakukan hal yang kurang lazim. Momen tersebut ternyata sidang majelis umum PBB (general assembly of UN). Dalam pidatonya, hugo chaves,presiden Venezuela, menjelaskan pola dan stabilitas perdamaian dunia. Namun yang unik adalah, ketika chaves secara eksplisit merekomendasikan buku yang berjudul, hegemony or survival : america’s quest for global dominance. Ia mengatakan bahwa buku ini sangat cerdik dalam menjelaskan mengapa bahaya dan ancaman terbesar untuk perdamaian dunia adalah amerika serikat. Yap, itu adalah satu dari puluhan buku yang telah ditulis oleh noam Chomsky. Ia adalah salah satu penulis dan aktifis kontemporer yang cukup berpengaruh.
Sebagai seorang akademisi, ia tidak dapat dikatakan sebagai akademisi biasa. Cakrawala pemikiran Chomsky, cukup luas dan komprehensif. Arus globalisasi yang sangat massif telah menciptakan kemerosotan. Chomsky yakin bahwa demokrasi telah direduksi sebagai pelindung pasar. Maka lahirlah sebutan demokrasi pasar.
Kemapanan kapitalisme secara perlahan mengganti system politik dan Negara untuk melegitimasi pasar bebas. Chomsky adalah seorang sosialis libertarian dan mendukung gerakan anarko-sindikalisme
Kemapanan kapitalisme secara perlahan mengganti system politik dan Negara untuk melegitimasi pasar bebas. Chomsky adalah seorang sosialis libertarian dan mendukung gerakan anarko-sindikalisme
Media dan reproduksi kekhawatiran palsu
Jika merujuk pada referensi wacana social yang memiliki tradisi kekuatan kritis, maka jelaslah bahwa setiap produk dan hal dalam realitas kita tidak pernah berdiri sendiri. Marxisme, madzhab Frankfurt, hingga pos-strukturaisme secara jelas berusaha meebguraikan sekaligus menyingkap selubung ideologis yang selama ini luput dari pengamatan. Eksistensi ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai ini kemudian dimapankan oleh otoritas Negara berikut instrument propagandanya yang sangat ampuh, yakni media. Pada konteks ini, Chomsky adalah sosok yang mungkin sangat sulit untuk tidak dikutip dalam pembahasan-analisas media. Dinamika media serta pengaruhnya dalam kehidupan menjadi sorotan penting Chomsky. Kritiknya terhadap media relative dapat melepaskan keluguan masyarakat terhadap peran media. Bersama Edward Herman, Chomsky melahirkan sebuah masterpiece, yaitu buku yang berjudul manufacturing consent : the political economy of mass media. Buku yang sangat terkenal diakhir tahun 1980 dan sepanjang decade 90-an ini, berusaha membongkar kebobrokan dan kemunafikan media yang selama ini disembunyikan dengan sangat sistematis dan terorganisir. Chomsky-Herman, menggunakan metode pembuktian secara empiris dari kasus atau kejadian yang disadur dari suratkabar, majalah atau media yang ada selama bertahun-tahun. Caranya adalah dengan mengambil dua contoh kasus yang berpasangan untuk kemudian dianalisis. Hasilnya cukup mencengangkan. Dua peristiwa yang secara objektif mirip, dapat menghasilkan interpertasi dan tanggapan yang berbeda, dimana hal tersebut sangat bergantung pada watak dan keberpihakan media. Propaganda media tentu saja adalah senjata utama untuk mengontrol massa dan kelas-kelas social. Dominasi dan hegemoni adalah implikasi yang sudah pasti hadir dengan cara memobilisir kesadaran rakyat kedalam sangkar kedangkalan dan pembungkaman. Fenomena seperti ini, memiliki efek yang jauh lebih berbahaya dibanding penggunaan cara-cara koersif atau kekerasan untuk mendominasi masyarakat. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika, ladang otoritarianisme terbesar ada pada media mainstream. Persoalan mendasarnya adalah posisi media mainstream yang sungguh pengecut. Faktanya dewasa ini, sangat sulit bagi media besar untuk tetap berdiri statis ditengah kepungan arus modal dan globalisasi berikut kaki tangannya. Jadi “wajarlah” jika keberpihakan media dan sifat informasinya sangat bias.
Setidaknya ada 5 filter (penyaring) yang umum digunakan oleh media menurut Chomsky, yakni (1) filter pertama, media besar umumnya dikendalikan oleh korporasi raksasa internasional, (2) filter kedua, pembiayaan media sangat bergantung pada pemasukan iklan dibanding dari pembaca, sehingga informasi harus mencerminkan dan tidak mengancam keselamatan iklan dan kepentingan bisnis, (4) fakta bahwa sumber informasi sering dikontrol dan berasal dari pemerintah yang kemudian menyebabkan bias informasi, (5) filter kelima adalah flak (anti-komunisme) yaitu adanya tekanan dari beberapa puhak yang tidak menghendaki adanya berita yang mendukung dan mengusung nilai-nilai komunisme karena akan berbahaya bagi keberlangsungan liberalisme ekonomi ala kapitalis. Kelima hal diatas jelas merupakan scenario yang menciptakan kondisi dimana persepsi public berasal dari segelintir elit dan intelektual yang merujuk pada kepentingan penguasa.
Chomsky lahir di pensylvania, 7 desember 1928. anak dari William Chomsky dan Elsie Simonofsky ini, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yahudi yang sangat taat. Namun hal tersebut sama sekali tidak mendikte gaya berpikir dan perspektifnya. Sebagai seorang yahudi, Chomsky dianggap sangat paradoksal alias membingungkan. Ia justru muncul sebagai salah satu yahudi yang paling agresif mengkritik dan menyoroti Israel berikut gerakan zionismenya. Lebih lanjut ia bahkan tidak segan menyebut bahwa terorisme yang sejati berasal dari “duet sehati” AS dan Israel itu sendiri.
Chomsky adalah seorang yang sangat tekun belajar. Dimasa mudanya tepatnya ketika berusia 14 tahun, ia pernah menulis sebuah artikel tentang fasisme di spanyol. Pada saat yang bersamaan, usia muda adalah babak penuh petualangan, khususnya aspek intelektualitasnya. Sebagai remaja ia lebih sering menghabiskan waktu di gerobak koran pamannya. Sementara itu, Chomsky muda menunjukan ketertarikan pada wacana marxisme dan anarkisme.
Pada tahun 1945, Chomsky mulai terjun dalam dunia kemahasiswaan. Ia menunjukan minat dan bakat yang besar tehadap studi linguistic, yang kemudian ia tetapkan sebagai jurusan yang diambilnya. Kuliah di universitas pensylvania, tidaklah berjalan mulus seperti yang ia bayangkan. Ia harus mengambil kerja sampingan untuk menutupi biaya kuliah. Hingga pada akhirnya, selama Kurang lebih dua tahun ia berhenti kuliah akibat krisis financial keluarganya yang sangat akut. Dalam rentang waktu tersebut, Chomsky mulai mendalami beberapa ideology dan pemikiran politik kritis. Ditengah ketidakpastian masa depan studinya, Beruntung seorang professor linguistic Zellig Harris rela membiayai pendidikannya. Harris melihat ada potensi besar dalam diri Chomsky dibidang lingusitik.
Asumsi itu ternyata tepat. Sepuluh tahun kemudia ia menamatkan studi doktornya dan mendapatkan gelar ph.d dari universitas yang sama. Chomsky kemudian dikenal sebagai salah satu ilmuwan sosial terkenal yang berhasil mendorong terobosan revolusioner dibidang lingusitik. Ia menemukan teori generative grammar, yang menjadi kontribusi signifikan di bidang linguistik abad 20. selain itu Chomsky mengkritik pendekatan psikologi B.F. Skinner sebagai salah satu tokoh behaviorist. Hal ini berujung pada pembacaan ulang yang secara radikal menggeser perspektif psikologi yang terlampau berkiblat pada pendekatan behavioralisme.
Dunia aktvisme lebih giat ia jalankan sejak 1967 pada masa perang AS-Vietnam. Dalam kurun waktu perangt tersebut, ia dikenal sebagai salah satu paling keras mengkritik invasi kejam amerika ke Vietnam. Begitulah sampai sekarang, Chomsky masih menjadi figure yang paling tidak disukai oleh pemerintah amerika karena sorotannya atas berbagai kebijakan luar negeri serta intervensi berlebihan AS dalam berbagai konflik yang terjadi dibanyak Negara di dunia, termasuk di timur leste (dulu timor-timur) Indonesia. Karena dianggap sebagai bahaya pemerintah, Chomsky sering mendapatkan ancaman pembunuhan. Walaupun beberapa kali polisi memberikan perlindungan tersembunyi, namun ia menolaknya!
Suatu sikap yang mungkin sangat sulit kita temukan pada diri akademisi di Indonesia. Para intelektual kita lebiah tergiur akan kekuasaan dan uang selain terus menunjukan sikap netralitas lucu ditengah penindasan dan kesengsaraan rakyat.
# tulisan ini pernah dimuat di caka..(lagi-lagi barang lama,hehe)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar