Laporan PBB Peringatkan Kolapsnya Dollar AS
oleh : Andre Damon
Ekonomi dunia menghadapi apa yang disebut
dengan “ resiko tidak menentu dari kolapsnya dollar”, bersama kenaikan
harga-harga komoditas, tingginya pengangguran yang terus berlanjut dan bahaya
kebangkrutan dalam membayar hutang (debt default), berdasarkan laporan yang
dilansir oleh PBB minggu lalu.
Laporan tersebut adalah update setengah
tahunan dalam bentuk ikhtisar 200 halaman tentang ekonomi dunia yang dirilis
awal tahun 2011. Selanjutnya reportase ini menyatakan kejatuhan terus-menerus
nilai dollar sejak awal millennium menggambarkan adanya kemungkinan
destabilisasi dan krisis kpercayaan dari cadangan mata uang dunia.
Resiko kolapsnya dollar hanyalah salah satu
persoalan ekonomi yang diterangkan dalam laporan tersebut. Kesipmpulan dari
laporannya sendiri mengenai pertumbuhan ekonomi yang agak membaik ternyata
dibayangi oleh sejumlah resiko pada setiap aspek lain ekonomi dunia-dari
kenaikan harga pangan, penurunan standar hidup, potensi kegagalan pembayaran
utang, hingga destabilisasi system mata uang. Laporan ini juga memperingatkan
akan pengangguran tak terkontrol, terutama diantara anak-anak muda, yang
mungkin saja dapat memicu ketegangan politik seperti yang terjadi di Tunisia
dan mesir. Selain itu dicatat pula bahwa diakhir tahun 2009, aka nada sekitar
81 juta pengangguran anak muda, dan tingkat pengangguran usia muda bertahan di
kisaran 13%, setelah bertambah sebanyak 0,9 % dari tahun 2008.
Lebih lanjut, “antara tahun 2007 dan pada akhir 2—9, setidaknya
30 juta pekerjaan hilang diseluruh dunia sebagai akibat dari krisis financial
global”. Dengan demikian, “ ekonomi global masih harus untuk menciptakan
sekurang-kurangnya 22 juta lapangan pekerjaan baru agar dapat mengembalikan
tingkat kerja global yang terisi seperti sebelum masa krisis. Dengan laju
pemulihan ekonomi (recovery) seperti sekarang maka dibutuhkan sedikitnya 5
tahun lagi untuk bisa perlahan pulih. Harga minyak dan pangan naik secara
signifikan lebih cepat dari prediksi PBB pada laporan-laporan awalnya. Selama
setahun belakangan, harga bahan pangan telah menembus hingga kenaikan 36 %. Harga gas telah mencapai sekitar 60% dari
harga awalnya hanya dalam 6 bulan terakhir.
Laporan ini juga mencatat bahwa kenaikan harga bahan pangan dan
energy telah benar-benar menghilangkan pendapatan riil penduduk miskin di
dunia. Jika harga harga tersebut terus
naik secara konstan pada levelnya sekarang , maka dapat berakibat pada
penurunan tingkat pendapatan penduduk miskin hingga dibawah level 1,25 dollar
AS per orang tiap harinya. Selain itu akan mempengaruhi secara signifikan
kejatuhan aktiftas ekonomi. Jika harga terus naik pada level sekarang bersamaan
dengan usaha sejumlah Negara dalam ememerangi inflasi, maka dapat menghasilkan
perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,7% pada tahun 2011 dan 1 % pada
tahun 2012.
Selanjutnya PBB menunjukan adanya gambaran suram dari
pertumbuhan ekonomi dunia terutama pada Negara-negara maju bila melihat proses
recovery atau pemulihan yang relative lemah. “ output pertumbuhan…sangat kecil
pada sektor ekonomi Negara-negara maju.” Khususnya bagi Negara seperti yunanai,
spanyol, Portugal, yang sedang menjalankan kebijakan pengetatatan anggaran
(austerity) dibawah tekanan krisis hutang.
Pada tahun 2010, belanja pemerintah di Negara maju tumbuh
sekitar 15, atau setengah dari laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing
kawasannya. Tahun ini, langkah-langkah pengetatan anggaran ditetapkan bahkan
lebih tegas dan akan berakibat pada pertumbuhan ekonomi dunia secara umum.
Selama 10 tahun terakhir, dollar AS telah kehilangan sekitar
27% nilainya terhadap mata uang lain, meskipun proses ini terinterupsi oleh
krisis financial global dimana para investor lebih memilih untuk berpaling ke
dollar AS demi alasan keamanannya. Namun begitu, Sejak pertengahan 2009 dollar
AS telah kehilangan 23% nilainya dan bahkan lebih rendah daripada level sebelum
krisis. Faktanya nilai dollar AS kini berada pada level terendah sejak tahun
1970-an.
Berangkat dari sejumlah peringatan krusial ini, kemudian
diserukan adanya “reformasi lebih dalam terhadap system cadangan kekayaan dunia
(global reserve system)” agar dapat mengurangi ketergantungannya pada dollar AS
sebagai cadangan utama mata uang dunia, termasuk “meningkatkan peran SDR
(special drawing rights) sebagai alat likuiditas internasional, sembari
memperluas jangkaun mata uang-mata uang SDR dari sejumlah Negara sedang
berkembang utama.” Ini merupakan seruan penting dari PBB untuk mulai beranjak
dari dollar AS, suatu gerakan yang meramalkan adanya konflik besar dunia
terhadap peran dollar AS sebagai system mata uang (cadangan kekayaan) dunia.
Dilain pihak, laporan ini juga menggarisbawahi karakter
destruktif dan mematikan dari kebijakan financial AS yang dikontrol oleh elit
oligarki dan kelas paling berkuasanya. Selama decade terakhir yang dipenuhi
oleh kebijakan moneternya yang sangat longgar, pemerintah AS bukan hanya sukses
menciptakan bencana financial yang menceburkan dunia dalam depresi ekonomi,
tapi juga secara konsisten melakukan devaluasi dollar terhadap mata uang
lainnya. Proses tersebut semakin intensif sejak krisis, sebagaimana
pemerintahan obama yang mensubsidi bisnis ekspor AS, yang mana memanfaatkan
kejatuhan dollar untuk memperbesar daya kompetitif ekonomi AS.
Pada skala global, pemaparan ini mengungkap secara blak-blakan
substansi utama dan motif dari tindakan bail out serta perannya terhadap krisis
hutang dewasa ini. Dicatat bahwa “ mengacu pada program massif bail-out pemerintah
selama 2 tahun terakhir, resiko pada sektor finasial swasta terutama perbankan,
telah dipindahkan ke sektor public.” Dengan demikian, resiko perbankan kini
menjadi tersosialisasi atau meluas dan bersentuhan langsung pada public,
sementara itu profit justru diprivatisasi. Melalui program pengetatan anggran
global, yakni pemotongan subsdidi dan belanjan sosial, ternyata hasilnya
diarahkan bagi penguatan sektor swasta atau bank. Dan jika kebijakan ini tidak dijalankan
sesuai permintaan para elit finasial, maka mereka akan mendorong pemberian
sanksi, misalnya langkah-langkah otoriter bank-bank eropa terhadap yunani.
Semua ini tidak hanya meramalkan ledakan krisis ekonomi dan
finanasial tapi juga sebuah konfrontasi langsung antara kelas pekerja di satu
sisi dan bank-bank bersama pemerintah menyangkut kebijakan pengetatan anggaran
(austerity measure).
pukul : 16 : 21
arctic monkey_flourescent adolescent
tulisan diatas saya terjemahkan dari "united nations report warns of dollar collapse, by andre damon. dikutip dari http://www.countercurrents.org/damon310511.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar