judul

kisah Peterpan, Mario Teguh, dan Slavoz zizek...


Sungguh beberapa minggu yang berat. Hari-hari yang terlampau pekat oleh beban sialan bernama kesuksesan study. Tugas akhir kini berubah seperti kutukan yang terus mengejarku sejak mataku terbuka oleh matahari yang sudah meninggi hingga saat mataku harus istirahat dari layar 16 inchi ini. Hal yang semestinya tidak menjadi problem besar kini merupakan hantu yang terus bergentanyangan bebas dalam kamarku.

Sesekali saya berupaya mendinginkan suasana apakah dengan keluar makan sambil melamun diatas motor, memutar playlist lagu favoritku, atau ini yang paling konyol membaca materi tugas akhir,wahahahaha. Tidak satupun yang mujarab. Siklus kembali terulang layaknya program konvensional PBB tentang perdamaian dan melawan kemiskinan,hehe. Namun dalam banyak masa kesulitan, saya sering bersentuhan dengan hal-hal “sepele” yang tak terduga. Ia mengejutkan karena pada moment-moment tertentu justru punya energy besar untuk membalikkan keadaan. Sekitar 3 atau 4 hari ini beberapa kawan alumni di organisasiku dulu berinisiatif membuat blog kolektif tentang cerita masa lalu di kampus. Ini adalah proyek keroyokan untuk menulis kesan kami ketika berhimpunan dulu. Semacam romantisasi, nostalgia atau hal-hal sejenisnya. Meskipun harus saya akui bahwa saya tidak terlalu tertarik menulis banyak romantisme namun tetap saja blog tersebut punya makna istimewa buat saya. Blog pun mulai terisi dan membaca beberap tulisan disitu sungguh menyenangkan sekaligus lucu.

Lalu yang kedua adalah postingan di blog kawan lain yang dulu sering dipanggil fuhrer-hingga akhirnya ia memodifikasi namanya menjadi Le Fuhrer, yup, sebutan tersohor bagi Hitler dulu,wkwkwkwkwk. Ia menulis soal bagaimana indahnya masa kanak-kanak. Saat kehidupan seru tiada tara dimana dunia masih nampak sebagai wahana bermain. Kedua hal ini tiba-tiba membanjiri pikiranku bahkan meluap dalam bentuk postingan sepele in. selain bahwa saya juga sedikit memperoleh energi baru :)

 Untuk beberapa saat saya seperti hilang dalam buaian memori masa lalu. Masih terbayang jelas berbagai permainan masa kecil dulu- Bagaimana duri dan beling yang sering akrab dengan telapak kakiku, sore hari yang tak akan sempurna tanpa berada di lapangan bola, bersaing memutuskan laying-layang teman di bukit yang kebetulan tidak jauh dari rumah atau sejumlah permainan tradisional yang sekarang semakin sulit dilihat lagi. Singkat kata, kebahagiaan sejati di dunia itu hanya dimiliki oleh anak-anak. maka tidak heran jika almarhum michael jackson sangat terobsesi dengan anak kecil lalu membangun sebuah neverland versinya sendirinya…saya tersenyum sendiri diantara kepura-puraanku bahwa tak ada masalah dalam prosesku. Sesekali menikmati hidup pada sesuatu yang hampir berbentuk ilusi.

Kesenangan yang aneh memang, dan tidak sedikit orang diluar sana merasakan hal yang sama. Bagaimana mungkin ini terjadi? Saya tak punya jawabannya dan memang saya cenderung tak tertarik mencari tahu. Ada hal-hal khusus yang tidak perlu dibongkar. Membiarkannya sebagai misteri akan lebih indah dan menyenangkan. Bukankah hidup tanpa rahasia terasa membosankan?hehe. tapi justru pada titik inilah saya teringat oleh dongeng tentang seorang bocah yang bisa terbang dan selalu bertarung dengan kapten Cook. Yup, dia adalah peterpan. Yang unik dari cerita peterpan ialah ia selalu mengajak anak-anak lain untuk datang dan tinggal di dunia khayalnya. Sebuah dunia dimana usia tidak berlaku, waktu kana-kanak adalah keabadian yang pasti disana. Mengapa? Idenya sangat sederhana bahwa dunia anak-anak itu terlalu berharga untuk tamat dimakan usia. Si peterpan dan teman-temannya Cuma mengenal satu kosa kata yakni bermain. Tumbuh dewasa merupakan masalah, yakni sesuatu yang hanya melahirkan beban, distorsi, hingga obsesi-obsesi tidak menyenangkan lainnya. Seseorang dipaksa untuk memahami hidup dari sudut pandang baru, belajar bertahan hidup atau terjebak dalam kurungan kebosanan. Orang-orang saling sikut, menyakiti satu sama lain dan berebut ini itu. Dan peterpan paham betul dengan realitas yang akan menantinya kelak. Ia berhasrat pada kemurnian, semacam puritanisme dunia kanak-kanak yang selalu suci dan polos dari setiap limbah manusia dewasa. Demikianlah yang membuat peterpan memutuskan untuk menolak dewasa.





 Pesan dari cerita ini sungguh-sungguh naïf. Namun justru disinilah letak substansi dari potret kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh banyak orang. Lihat saja fenomena belakangan, tidak sedikit dari kita yang mengharapkan kebahagiaan instan, tanpa rasa sakit atau keringat, persis seperti ekspektasi mereka yang mengharapkan Mario teguh menyelesaikan masalah-masalah yang muncul.Lalu menjamurlah jasa konsultasi motivasi serupa dengan aneka pilihan dan selera. Dari mencari jodoh, menjadi kaya-raya, atau sukses karir dan berkeluarga. Sebenarnya tidak ada yang terlalu ganjil dari hal tersebut. Bahkan dalam derajat tertetntu apa yang keluar dari riuh dinamika dunia konsultasi itu memang benar adanya. Tapi pertanyaannya, sesimpel itukah realitas yang begitu kompleks ini dipahami dan hendak dituntaskan? Selalu lihat kedalam dirimu. Terus gali potensimu. Yakinlah pada setiap jalan yang dipilih, jujur bersikap, dan lain-lain. Kita akhirnya sampai pada titik bahwa 90 persen persoalan itu berkembang akibat factor subjektif. Anggap masalah yang lahir diluar kuasa pribadimu selalu sebagai cobaan dari Tuhan. Jika kalkulasi seperti ini seampuh apa yang selalu dipuji di fanspage fesbuk itu pastilah tidak sulit keluar dari kubangan masalah ekonomi maupun non ekonomi yang ada. Misalnya, petani, buruh, dan nelayan-nelayan kita seharusnya tak lagi mengeluhkan kualitas hidup, para sarjana yang sebenarnya juga cukup cerdas itu tak perlu lagi berlama-lama menenteng map kesana kemari, para guru itu tidak lagi terjebak dalam gaji yang tidak karu-karuan,dll . pada konteks tersebut buaian Mario teguh dan kawan-kawannya itu tiba-tiba menabrak tembok tinggi nan tebal. Retorikanya membeku, gemetar dan gagap karena menjumpai realitas lain yang sering disebut sebagai hukum rimba! Atau ini saja supaya lebih mudah, seharusnya orang-orang ini kini duduk sebagai penasehat spiritual presiden saja. Dan hidup kita pasti akan lebih bahagia tentunya...


Yang paling parah tentu saja adalah konsekuensi filosofis dari logika naïf seperti ini. Pada saat yang bersamaan system besar ini (you know what I mean right? J) mendapat bantuan yang sangat signifikan. Ia berfungsi sebagai alat untuk memisahkan masyarakat dari akar persoalannya yang paling fundamental. Kita terus digoda untuk memfokuskan diri pada jalur individual ketimbang melihatnya sebagai kesatuan utuh dari hukum-hukum sosial yang sedang berlaku. Jika kita pernah sempat berkunjung ke toko-toko buku besar tidak sulit menemukan daftar, etalase, atau rak buku laris didominasi oleh judul-judul gombal seperti 10 tips sukses, kebiasaan yang produktif, membuat uang bekerja untukmu,dan bla bla. Tren  baru yang aneh karena sama saja dengan bilang seperti ini : tidak perlu berpikir rumit dengan filsafat, sastra, politik, dan sejenisnya. Hidup itu sangat sederhana :cari uang yang banyak lalu mati dalam ketenangan. Dan sejauh yang bisa saya perhatikan fenomena ini lumayan sukses dalam membangun logika dan praksis hidup baru. Dan disaat itulah status quo mengalami peremajaan diri. Ia menjadi lebih segar, kuat, dan tak terkejar. Kalau dalam sindirannya slavoz zizek, sebagaimana salah satu temanku, si goen, tidak pernah letihnya mengatakan ini, bahwa kita sedang hidup dalam era yang aneh bin ajaib. Kita tidak menginginkan sesuatu yang sebenarnya sangat kita idam-idamkan. Kita lebih memilih kopi tanpa kafein, es krim tanpa lemak atau bir tanpa alcohol. Kita sebaiknya cukup puas saja dengan duplikasi-duplikasi. Jangan pernah mencari kesejatian, itu Cuma khayalan bung!

Lalu apa yang membedakannya dengan fantasi dan cita-cita peterpan tadi? Kisah sublimasi dan pelarian pada ceramah Mario teguh dan kawan-kawannya itu adalah fotokopi yang lebih buruk dari naifnya keinginan peterpan!

Hey, dulu saya sempat memiliki 2 buku gombal serupa meski akhirnya saya harus terbangun dari mimpi panjangku. Percayalah hal-hal serupa sudah dikatakan ratusan tahun lamanya, tanpa ongkos bicara tentunya :)

Pukul: 17:11
The cure_a letter to ellise

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.