Dalam diskusi gerakan dan perubahan social, mungkin Antonio gramsci adalah seorang pemikir yang hampir selalu dikutip dan disebut. Betapa tidak, cakrawala dan pengaruh pemikirannya telah menjadi rujukan wajib untuk menganalisis dan membedah persoalan social. Bahkan untuk wacana marxisme sendiri, bisa dipastikan marxisme akan kehilangan keampuhan dan relevansinya untuk mendobrak tatanan social-kapitalisme.
Selama puluhan tahun, banyak pihak yang terjebak dalam dogmatisme sempit terhadap marxisme. Selama ini pemahaman marxisme masih berkubang pada analisa yang meyakini basis struktur yakni ekonomi sebagai poros utama yang menetukan segala bentuk orientasi dan corak peradaban. Dengan kata lain setiap fenomena social direduksi dalam tafsir-tafsir ekonomi dan selalu melangkahi struktur lain seperti politik, pendidikan, kebudayaan, atau agama. Pada prinsipnya kesadran massa hanya dicetak dalam bingkai material-ekonomi semata.
Namun gramsci mampu bergerak lebih jauh. Menurutnya penindasan yang lahir bisa tetap eksis dan terpelihara kuat bukan hanya pada penguasaan alat produksi oleh kaum borjuis dan Negara, tapi juga lebih disebabkan dominasi dan control Negara pada wilayah kesadaran. Reproduksi kesadaran palsu oleh Negara merupakan buah interaksi dan kemenangan kaum borjuis dan Negara untuk merebut kepemimpinan wacana. Pemerintahan borjuis berhasil merekayasa semacam consensus dan kesepakatan buta rakyat kecil lewat variable-variabel suprastruktur. Hal inilah yang kemudian terkenal dengan konsepsi hegemoni. Menurutnya hegemoni adalah kunci utama kelas penguasa dalam menjajah rakyat kecil. Manipulasi kesadran dan pola piker lewat penggunaan instrument semisal system pendidikan, kebudayaan, hingga pada level agama meungkinkan control dan penguasaan yang sangat kuat terhadap kelas proletar. Oleh karena itu penggunaan model kekerasan struktutural yang bersifat halus dan persuasivelah lebih banyak memapankan status-quo. Karena semua akan terasa lebih mudah jika sesorang sudah bisa dikendalikan mental dan pola pikirnya. Hegemoni secra sederhana adalah kontro dan penguasaan atas manusia dengan membuat individu tidak sadar atau “sepakat” untuk ditindas. Contoh kecilnya dalam realitas kontemporer berupa keperacayaan dan penilaian bahwa standarisasi demokrasi diukur oleh kehadiran partai politik dan terselenggaranya pemilu secara liberal menjadi indikator atas kebebasan dan kemerdekaan individu.
Dengan kata lain analisis marxisme tidak lagi melulu berpijak pada kekuatan basis struktur ekonomi tapi juga telah bergeser ke peran pendidikan, media, atau kebudayaan yang tidak kalah determinannya dengan perspektif konvensional para Marxian lain. Gramsci memandang realitas sosial secara lebih terbuka dan dinamis. Walaupun seorang Marxist, gramsci punya gagasan berbeda dalam menganalisa realitas politik dan kapitalisme. Ortodoksi marxisme melihat realitas sosial yang terlalu ekonomistik justru menjadi persoalan besar sekaligus sumber kegagalanya dalam menjelaskan pola baru kapitalisme dan prospek revolusi sosialis kelas pekerja. Baginya, agensi (ide atau kesadaran) dalam kapitalisme dapat dimanipulir atau dibentuk diluar logika dan kontradiksi ekonomi semata. Dengan demikian fungsi struktur non ekonomi berkontribusi pada pemapanan system ekonomi capital.
Gramsci lalu menerjemahkan analisisnya pada situasi politik dan ekonomi eropa yang berhasil direbut oleh kapitalisme. Daya tahan kapitalisme walaupun digempur oleh krisis inheren strukturalnya bagi dia bukan hanya ditopang oleh proses mekanik dan produksi yang lebih fleksibel tapi lebih pada kemampuan kapitalisme dalam mendominasi suprastruktur tatanan sosial. Eksistensi kapitalisme yang begitu kuat dibangun oleh universalisasi ide-ide kelas borjuis terhadap kelas subordinat atau proletar melalui konsensus buta. Manipulasi kesadaran ini digerakkan oleh sejumlah institusi politik, kebudayaan, pendidikan, atau agama yang dirubah menjadi instrumen ideologis. Lebih lanjut, kapitalisme memapankan ide-idenya lewat sosialisasi dan internalisasi yang berbasis pada propaganda dan doktrinasi massal pada kelas pekerja.
Pada titik inilah, konsep hegemoni gramsci lahir. Istilah ini mengacu pada seluruh rangkaian aktivitas teoritis-doktrinal maupun praksis yang didorong oleh kelas berkuasa bukan hanya menjustifikasi atau memapankan pengaruhnya, namun juga berupaya merebut kemenangan atas lahirnya konsensus atau persetujuan aktif dari kelas yang didominasi. Hegemonisasi, dengan demikian diindikasikan oleh reproduksi kesadaran dari kelas subordinat yang akan tunduk dan memberikan legitimasi terhadap nilai-nilai (ideologi) kelas berkuasa. Menurut gramsci inilah yang menjelaskan daya tahan kapitalisme dan bersemainya kesadaran bahwa alternatif diluar kapiatlisme itu tidak layak atau bahakan tidak ada. Gagasan gramsci ini dianggap sebagai salah satu teori politik paling penting abad 20 sekaligus upaya menjaga relevansi marxisme sebagai perspektif kritis dan instrumen perjuangan melawan kapitalisme. Secara sederhana, ranah eksploitasi kini juga tumbuh subur pada level interkasi sosial lewat kontrol pada basis agama, institusi, kebudayaan, politik, dll.
Gramsci juga meyakini bahwa untuk meruntuhkan tatanan hegemonic kapitalisme salah satunya diperlukan sebuah wadah atau media perjuangan. Media ini berfungsi untuk mendorong kampanye radikal dan membangun counter-hegemoni sebagai antitesa dari doktrin-doktrin busuk kapitalisme. Selain itu ia menggagas lahirnya kelompok intelektual militant. Intelektual ini ia sebut dengan intelektual organic, yaitu intelektual yang muncul dan berkembang hdari dinamika kelas pekerja yang kemudian memperjuangkan revolusi demi masa depan kelas pekerja. Pada konteks ini, kita bisa menafsirkan bahwa seorang intelektual tidak boleh hanya asyk-masygul dengan berbagai teori dan wacana namun tidak mampu memindahkannya ke realitas social. Tugas intelektual organic adalah menyebarluaskan pengetahuan lewat terbitan-terbitan dan pendidikan revolusioner berbasis massa rakyat. Dengan demikian filsafat dan para intelektual tidak lantas hanya menjadi menara gading ditengah taman ketidaktahuan. Konsep ilmu harus berwatak praksis dan emansipatoris. Menurutnya percuma saja mengakumulasi pengetahuan tanpa keberanian dan komirmen untuk ikut merubah realitas social yang semakin memisahkan manusia dari esensinya yaitu kemerdekaan dan kesetaraan social.
Antonio gramsci lahir di ales, Sardinia provinsi cagliari pada tanggal 22 januari 1891. ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Gramsci memiliki bentuk tubuh yang cacat, pasalnya semasa kecil ia pernah jatuh dari lengan seorang wanita pengasuh. Kisah hidupnya diliputi oleh berbagai rintangan dan penderitaan. Sejak umur 17 tahun, ia sudah dikenal atas tulisan dan analisanya yang tajam di berbagai media cetak berupa Koran, jurnal, atau terbitan-terbitan kecil kelas buruh di Italia.
Figuritas merefeksikan kita pada kegigihan dan semangat intelektual yang besar. Walaupun mendekam di penjara seumur hidup oleh rejim fasis Mussolini, ia masih bisa produktif dengan menuliskan catatan kecil yang berisi teori dan pandangan-pandangan revolusionernya dalam memahami persoalan social dan socialisme. Kelak catatannya tersebut begitu termahsyur dengan sebutan prison notebooks. Sebuah karya gemilang bagi kahasanah ilmu social dan kontribusi gagasan bagi pembangunan sosialisme baru. Mungkin fenomena tersebut mengingatkan kita, pada karya-karya besar pemikir lainnya seperti dari penjara ke penjara-nya tan malaka atau tetraloginya pramoedia ananta toer yang mengguncang jagad sastra tanah air dan dunia.
efek rumah kaca_jalang
pukul: 01:30


Tidak ada komentar:
Posting Komentar