Beberapa hari yang lalu seorang kawan mengirim respon atas tulisanku (yang judulnya habibie). Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari komentar kawanku tersebut. Dia masih berpijak pada asumsi bahwa kompetisi dan pembangunan sains sebagai modal krusial bagi tiap bangsa didunia. Persepsi ini tentu saja bukanlah hal yang baru dan tidak seluruhnya keliru (setidaknya dalam logika mainstream). Hampir tiap hari pandangan konservatif serupa disebar disegala macam institusi baik di sekolah, kampus, kantor, perusahaan, dll. Tetapi saya justru terpancing untuk mendiskusikannya lebih lanjut. Baiklah, jika ini factor perspektif yang saling berbeda maka saya akan sangat memakluminya. Namun begitu, cerita hidup kita bukanlah sesuatu yang lahir dari skema mulus tanpa interupsi dan goncangan. Setidaknya, ada sejumlah fakta objektif yang sulit dibantah apalagi jika kita berupaya lari darinya. Postingan ini adalah feedback buat dia. Saya meributkan teknologi yang anehnya tanpa teknologi tulisan ini akan berakhir di alam ide saja,hehe.
Sebenarnya kami sudah terlibat debat sengit sejak tahun lalu tentang isu ini,hehe. Perlu saya tegaskan sejak awal bahwa tulisan ini tidak ada dalam kerangka apakah kita butuh teknologi atau tidak, apakah saya menolak kemajuan sebuah bangsa lewat teknologi atau tidak. Dua hal tersebut segera akan menjadi debat kusir,hehe
Apa yang salah dari teknologi? Atau kenapa saya terdengar sangat antipati dengan kecanggihan teknologi yang luar biasa pesat? Jawabannya ada banyak, tergantung dengan kacamata apa kita melihatnya. Kelompok gerakan lingkungan radikal semisal earth first dan yang lainnya akan memberikan tamparan bahwa bangunan peradaban modern kita sudah keliru sejak awal! Mereka meyakini bahwa kita sedang berkonfrontasi langsung dengan logika keseimbangan ekosistem. Kaum Marxist akan datang dengan setumpuk analisa ekonomi politiknya. Bahwa teknologi adalah instrument perluasan akumulasi capital. Dari kubu lain atau yang konservatif memilih pijakan tentang teknologi yang harus tepat guna. Bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemudahan hidup. Sesederhana itu, meskipun dengan visi penemuan teknologi yang ramah lingkungan. Alasan terakhir anehnya justru muncul karena mereka sedang kalap dan bingung akibat destruksi lingkungan secara massif. Sesuatu yang seharusnya mereka sadari sejak awal. Tapi sudahlah, anggap saja saya maklum dengan pepatah tua bahwa penyesalan selalu mampir terlambat,hehe. Jadi, pada konteks tersebut vonis tentang antipati dan tendensi berlebihan gugur dengan sendirinya. Toh, interpretasi kita lahir dari sudut pandang yang berbeda.
Sampai sekarang saya masih menggunakan nokia tipe 3310 meskipun saya juga berhasrat memiliki ponsel yang lebih baik. Sayapun sering berpikir kenapa saya harus tergoda untuk mengkonsumsi gadget baru diluar aspek fungsionalnya?ponsel saya masih berfungsi cukup baik. Atau pertanyaan yang lebih esensial lagi, mengapa model, jenis, dan bentuk ponsel selalu berevolusi? Apakah ini semata aspek fungsional tadi? Atau justru upaya korporasi-korporasi itu untuk memperbesar pasar dan menjaga akumulasi profitnya? Atau begini anggap saja, vendor-vendor itu ingin membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk teknologi kebetulan kita sedang menghadapi invasi ponsel murah asal cina. Pertanyaan berikutnya, apakah tingkat ekonomi rakyat sederajat dengan konsumsi teknologi tersebut? Oh iya, saya juga melihat cukup banyak orang miskin (jika ukurannya adalah standar UNDP) secara mengejutkan ikut dalam barisan konsumen bahagia dengan ponsel-ponsel tadi? Pertanyaan diatas cukup banyak dan terkesan tumpang tindih. Tapi jangan khawatir, kita selalu akan menemukan benang merahnya kok,hehe.. sehingga, pertanyaan yang paling general untuk mewakili sekaligus memulai mendiskusikan polemic ini adalah, apakah teknologi lahir tanpa dibentuk dan dipengaruhi oleh konteks sosialnya? Atau supaya lebih sederhana, mengapa lagu bang iwan fals 80%nya berisi keresahan dan potret realitas sosial?
Pada prinsispnya, kita sedang hidup dan merawat banyak dogma dalam kehidupan kita. Pemujaan kita terhadap keyakinan buta ini disangga oleh sejumlah pilar-pilar kuat nan represif. Ya sebut saja Negara,partai politik, sekolah-kampus, institusi agama, pusat penelitian, ormas-ormas dan sebagainya. Dalam istilah kerennya disebut dengan hegemoni. Istilah ini mengacu pada seluruh rangkaian aktivitas teoritis-doktrinal maupun praksis yang didorong oleh kelas berkuasa bukan hanya menjustifikasi atau memapankan pengaruhnya, namun juga berupaya merebut kemenangan atas lahirnya konsensus atau persetujuan aktif dari kelas yang didominasi. Hegemonisasi, dengan demikian diindikasikan oleh reproduksi kesadaran dari kelas subordinat yang akan tunduk dan memberikan legitimasi terhadap nilai-nilai (ideologi) kelas berkuasa. Menurut gramsci inilah yang menjelaskan ketangguhan kapitalisme untuk bertahan sekalipun terdapat kontradiksi inheren dalam dirinya, disatu pihak, dan kegagalan proletariat untuk mewujudkan revolusi mereka sebagaimana diyakini teori marxis, dilain pihak (muhadi sugiono,2003). Silahkan perhatikan list dari sejumlah dogma yang sangat familiar dalam kehidupan kita : sosialisme itu berbau amis darah, brad pitt adalah template pria paling keren, kulit putih (belakangan yang agak kecoklatan) lebih penting dari isi kepalamu, budaya dan etos kerja barat terutama sainsnya selalu lebih superior, guru selalu lebih pintar dari muridnya, kapitalisme adalah sistem ekonomi terbaik, pemilihan elektoral adalah satu-satunya ukuran demokrasi, atau dalam konteks perdebatan ini bahwa teknologi itu bersifat netral. Teknologi seperti kertas putih yang nantinya dicoret atau dirobek-robek oleh linkungannya. Tetapi ada yang hilang, apa yang melandasi munculnya teknologi?apakah dari keisengan,hehehe? Bahkan dalam teknologi yang paling sederhana sekalipun, ia selalu lahir karena didahului oleh motif dan prinsip tertentu. Taruhlah cangkul atau traktor, yang ditemukan agar pengolahan tanah lebih efektif.
Darisana maka saya meyakini bahwa teknologi adalah produk dari relasi sosial, dinamika, dan perubahan-perubahan dalam lingkungannya. Setiap teknologi baru adalah representasi dari wajah realitas sosial. Dan, teknologi canggih di era moderen tidak bisa dilepaskan dari induk sosialnya dalam hal ini sistem ekonomi politik aka kapitalisme, yang mendahului dan menjadi payungnya. Percepatan penemuan teknologi diberbagai bidang terutama di bidang IT, transportasi, mesin, bahkan dibidang antariksa sebagian besar adalah medium tambahan bagi kelangsungan hidup kapitalisme. Sistem ekonomi ini secara inheren dibangun oleh logika yang keliru (keseimbangan antara permintaan dan penawaran). Pasar sempurna hanya bisa ditemukan jika jumlah kebutuhan dan penawaran seimbang. Tetapi hal ini justru digugurkan sendiri oleh cara kerja kapitalisme yakni produksi barang dan jasa yang tidak kenal limit. Setiap kapitalis terus berkompetisi memperbesar volume produksi tanpa menimbang kapasitas konsumen dan pasar objektif yang ada (ingatkan depresi ekonomi dunia tahun 1930-an). Dengan demikian, kapitalisme selalu butuh pasar baru lewat investasi. Contoh lain paling dekat adalah invasi AS ke Irak beberap tahun silam. Paska perang, puluhan MNC telah mengantri dan mendapat jatahnya masing-masing (untuk data lebih detail atau analisa sejenisnya, browsing saja coy,hehe). Dan teknologi dalam kasus seperti ini adalah instrumen sekaligus komoditasnya. Sejak ledakan industrialisasi di ingris beberapa abad yang lalu, ekonomi tumbuh sangat masif. Mesin uap james watt menjadi alat untuk melipatgandakan produksi sekaligus profit ampuh yang kemudian berkembang ke semua sektor ekonomi. Pertanyaannya, kenapa mesin uap dibuat? Lalu yang ini pasti terdengar aneh, industri senjata dan militer terus berkembang ditengah protes dan penolakan massal rakyat terhadap perang. Apakah senjata tersebut berakhir di tempat sampah?tentu saja tidak. Semuanya tetap akan dijual. Perhatikan perang sipil di afrika yang berkepanjangan. Penciptaan medan tempur atau reproduksi peranglah jawaban paling ideal dari industri senjata dan militer. Meskipun, faktor ekonomi (seperti perebutan sumber daya alam strategis) bukan satu-satunya pemicu konflik dibanyak negara afrika (lihat film lord of war-dibintangi oleh nicholas cage-). Hal serupa terjadi untuk sebagian besar teknologi moderen lainnya. Teknologi adalah salah satu ujung tombak eksploitasi dari kapitalisme. Tidak sulit untuk mengidentifikasi betapa bopeng dan kusut wajah dunia hari ini bukan? Yang lebih mengerikan lagi munculnya pemujaan dan kultus terhadap teknologi moderen. Tidak ada alternatif atau opsi lain, semua teknologi moderen itu berguna dan netral. Sebuah komunitas dan kehidupan tidak bermakna tanpa teknologi semacam ini didalamnya. Maka dimulailah penyerbuan proyek-proyek industrial yang menggusur masyarakt adat beserta hutannya. Represi ini berwatak totaliter yang lebih mirip fasisme. Mungkin saja teknologi adalah fasisme baru,hehe..
Tenaga buruh atau manusia gagal dalam mendorong akumulasi kapital ke level maksimal sehingga jawabannya adalah penemuan teknologi-teknologi baru. Meskipun menurut marx, fenomena ini melahirkan krisis terbesar dari kapitalisme yakni the tendency of fallen rate profit atau kecenderungan tingkat profit yang terus menurun. Krisis ekonomi yang datang secara periodik adalah bukti dari validitas teori ini.(untuk penjelasan lebih lanjut saya usahakan ada pada postingan berikutnya). Sehingga pada postingan awal saya (yang tentang habibie,hehe) saya menegaskan bahwa teknologi mustahil dilepaskan dari relasi ekonomi-politiknya. Ekonomi dan politik memegang kendali lebih dominan. Ini bukanlah soal kompetensi kita bersaing di dunia tapi kesalahan dan kegagalan yang terus berulang. Relasi dan mode produksi dalam ekonomilah yang menentukan kesejahteraan bukan teknologi sebagaimana klaim habibie meskipun hal ini benar (tapi yang sejahtera adalah segelintir orang atau minoritas saja dalam masyarakat). Sehingga, teknologi justru menjadi parodi tak lucu dari kecenderungan khas perkembangan masyarakat. Ia bukanlah sesuatu yang lahir secara natural tapi sebagai warisan dari tendensi dan ambisi kelas. Tidaklah mengherankan jika habibie (dalam seminar itu) lebih menyukai industri raksasa dengan basis teknologi canggih sebagai pilar kesejahteraan. Kecenderungan yang sama direfleksikan dalam fakta sosial lain berupa penggusuran pedagang kaki lima, pasar tradisional, pemukiman rakyat miskin akibat suplai profit yang minim dan lahannya tidak dikuasai oleh pemodal besar.
Dalam aspek sosiologis, havoc yang direproduksi oleh ekonomi kapital dimana teknologi melekat kuat didalamnya justru lebih parah lagi. Gejala alienasi atau keterasingan telah menjadi salah satu penanda utama dari proyek modernitas. Sedari awal marx memahami alienasi sebagai komponen integral dari kerja kapitalisme. Ledakan revolusi teknologi terutama dibidang transportasi dan komunikasi sukses mengubah wajah zaman. Modifikasi cara hidup bisa jadi salah satu indicator utama yang pastinya akan selalu dikenang sepanjang masa. Ruang dan waktu seolah tak berarti lagi. Selisih jauh dan panjang ruang-waktu terus dimampatkan dan dipersempit lewat penemuan perangkat-perangkat baru teknologi yang semakin memudahkan kehidupan. akhirnya lahirlah zaman instant. Zaman serba cepat, efektif dan efisien. Anda tidak harus berpindah dari tempat duduk untuk melakukan sesuatu cukup klik sini-klik sana maka dalam hitungan detik semuanya tersaji. Pada titik inilah kapitalisme mulai mendesain ulang wajahnya. Lewat wajah barunya ini kapitalisme berhasil mentransformasikan model dan cara kerjanya kedalam suatu mekanisme baru yang disebut dengan kapitalisme lanjut. Terminology yang diperkenalkan oleh madzhab Frankfurt ini mengacu pada dinamika kapitalisme yang telah bergeser tidak hanya pada konsentrasi produksi manufaktur tapi juga pada reproduksi hasrat dan citra. Kemampuan baru kapitalisme ini bertolak dari potensi hasrat dan keinginan inheren setiap orang yang kemudian dimanfaatkan sedemikian rupa. Manipulasi hasrat lewat penciptaan citra dan imaji berfungsi untuk merangsang lahirnya kebutuhan-kebutuhan palsu untuk kemudian dikonsumsi secara membabi-buta. Akhirnya tampaklah belanja dan konsumerisme sebagai gaya hidup kekinian masyarakat kontemporer. Bahkan kelompok buruh dan rakyat miskin lainnya ikut mempraktekan budaya konsumtif. Hal ini disebabkan bahwa kelas pekerja yang punya potensi revolusioner paling besar, pada hakikatnya telah terintegrasi sepenuhnya kedalam mode produksi kapitalisme. Penemuan iklan sebagai instrument pengeruk hasrat dan uang telah memberikan pembeda zaman sekarang dengan zaman-zaman sebelumnya. Seorang pemikir situasionisme internasional-kelompok gerakan yang muncul di peretngahan dekade60-an-bernama Guy Debord, secara cerdik mengilustrasikan kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan yang akut melanda masyarakat pada waktu itu. Ia menyebut dunia telah menjelma sebagai tontonan atas masyarakat yang telah menjadi komoditas murahan kapitalisme kedalam society of spectacle (masyarakat tontonan). Konsep ini merujuk pada kehidupan dan interaksi manusia hanya terjalin oleh citra dan imaji semata. Hal ini tentunya bermuara pada pendangkalan (banalisasi) dan penumpukan profit. Lebih lanjut kita hampir tidak dapat menemukan sentuhan alami dan personal yang membangun kehidupan. Oleh sebab itu masyarakat tontonan sangat bergantung pada aktifitas kepenontonan (spectatorship), seperti melihat, mengamati, memandang, mengintip, dan mengamati. Begitulah hingga apa yang lalu-lang dan tampak berakhir sebagai tontonan semata demi produksi ekonomi lewat permainan citra. Maka tidak heran fenomena seperti bunh diri, kultus individualism, kehampaan, kebosanan-kebosanan ritmik menjadi hal yang lazim kini. Imajinasi digantikan kotak televisi, pertemanan atau jaringan sosial yang diubah lewat fessbukk atau twitter,hehe..lebih aneh lagi, justru si mark zuckerberg belakangan mengeluhkan keberadaan temuannya yang perlahan mengeliminir keintiman dan emosi dalam hubungan sosial…
Lalu bagaimana dalam konteks ekologi???sudahlah, tidak perlu tulisan ini untuk menjelaskannya. Lagipula semakin kita bertanya relasi antara teknologi dan kerusakan alam membuat kita Nampak idiot,wkwkwk…planet kita sekarang lebih mirip wahana bermain dibanding medium kehidupan!
Oh iya, ada satu pertanyaan yang belum terjawab, mengapa banyak orang yang dikategorikan miskin atau pas-pas-an justru dapat mengkonsumsi barang yang tidak jauh dari konsumsi orang-orang kaya. Jawaban singkat : ini adalah buah dari gelombang finansialisasi, yang sekali lagi justru menggerogoti tubuh kapitalisme itu sendiri..(saya sedang berupaya untuk mempersiapkan tulisan tentang finansialisasi namun masih kalah oleh kemalasan,hehe)…lain waktu yach J…
Cheers..
*pada dasarx konten tulisan ini lebih mirip repetisi dari tulisan2ku yang lain di blog ini,hehe
Pukul :16:51_sial,hari ini sudah genap setengah dari 2011!
Interpol_time to be small


ta'gantunga kak...budaya kredit yg ada skrg memang di desain oleh borjua agar produknya terjual bagaimanpun caranya...mohon updetan selanjutnya..
BalasHapus