judul

Dewa Kemunafikan Beserta Hamba Setianya





Sejak masa kanak-kanak memiliki impian dianggap perlu dan penting. Merangsang dan menggerakkanmu untuk belajar sekaligus bekerja keras. Kadang juga secara psikologis dipandang sehat untuk kejiwaan. impian wajib tinggi, bahkan boleh beradu ketinggian dengan langit. Singkat kata cita-cita atau impian adalah produk terbaik yang pernah dihasilkan imajinasi manusia. Gratis, indah, dan menyenangkan. Ini merupakan klise pertama.

Klise yang kedua berupa betapa tidak mudahnya menggapai impian. Begitu sulitnya hingga jasa konsultasi dalam bentuk self-help aka bisnis motivasi tumbuh lebih pesat dibanding follower si justin bieber. Dahulu saya pernah punya impian untuk menjadi dokter. Alasannya sederhana saja, nilai biologi saya bisa dikatakan bagus selama SMA. Mata pelajaran ini saya lahap dengan rakus. Namun saya justru memutar kemudi dan akhirnya merubah haluan. Soal-soal matematika, kimia, dan fisika di SPMB jauh terlalu canggih untuk saya. Godaan untuk menjadi kaya dan prestisius sebagai dokter pun berlalu. Bahkan semakin jauh berlalu setelah memilih jurusan lain yang memang menjadi cinta kedua saya setelah biologi. Singkat kata lagi, dunia berputar, realitas ikut berubah.



Perubahan dan dinamika realitas ini mesti menjadi titik krusial dalam menganalisa sesuatu. Bahkan tidak kalah perlu dan pentingnya dengan memiliki impian seperti diatas. Saya melihat realitas ekonomi-politik sebagai basis paling menonjol dibanding realitas lain. Alih-alih realitas palsu yang ditawarkan cendikiawan setengah matang atau Mario teguh dkk. Perkembangan formasi sosial yang dijalin oleh relasi capital dan kekuasaan Negara adalah pintu terbaik sebelum memahami dunia yang lebih kejam dari dongeng ibu tiri ini. Termasuk didalamnya adalah dunia kedokteran. Profesi yang konon paling manjur merobohkan hati calon mertua dan anak gadisnya. Meskipun begitu, setiap orang bebas berpikir dengan gayanya sendiri. Termasuk saya disini terlepas apakah dianggap sok tahu dan berceramah. Saya sungguh tidak peduli sedkit pun. Lagipula  Saya tidaklah begitu buruk dibanding lawakan lain diluar sana dengan kualitas lebih jeblok lagi.

Saya cukup bosan menuliskan ulang betapa bobroknya system kesehatan kita. Tariff perawatan dan obat yang meroket, laju kuantitas rumah sakit dan puskesmas yang lebih lambat dari kura-kura, hingga bisnis menjadi mahasiswa kedokteran seramai pasar malam. Daftarnya bisa ditambah dengan potret buram  harian yang mudah dijumpai di puskemas atau rumah sakit terdekat. Pasien meninggal akibat absennya perawatan medis yang cekatan menjadi warta yang taka sing lagi. Anehnya sebagian besar korban kebusukan ini adalah orang miskin. Lebih aneh lagi ternyata fakta ini terlalu rumit untuk dipahami bahkan oleh mereka dengan jumlah gelar sarjana. Kapitalisasi kedokteran dianggap lebih mirip hantu. Eksis namun sulit dibuktikan secara ilmiah. Problem sistemik didalamnya luluh oleh ilusi-ilusi human error yang begentayangan di kepala banyak pejabat, dokter, dan pebisnis farmasi.

Kejadian malpraktek bagi mereka seharusnya menjadi hal terakhir untuk disentuh. Peliknya masalah kesehatan wajib dipahami dari konsep usang bernama kesadaran individu. Masyarakat perlu belajar prinsip-prinsip dasar tentang kesehatan dan lebih well informed katanya. Pendidikan tentang sanitasi yang berawal lingkungan keluarga wajib digalakkan dimana-mana. Syarat administrative pengobatan selayaknya dipenuhi secara sempurna. Tentu saja tidak ada yang keliru dari himbauan semacam ini. Adalah bodoh menyangkal kebenaran betapa signifikannya tindakan pencegahan daripada pengobatan. Gagal dalam mencegah harus dibayar mahal oleh hadirnya penyakit. Namun begitu kita perlu waspada dengan konsekuensi perspektif semacam ini. Dengan logika tersebut persoalan sakit dan sehat hanya dikunci oleh kesalahan individual semata.

 Analisa terhadap diskursus kesehatan lebih banyak dipahami sebagai area privat dibanding public. Error versus disiplin, terdidik versus tidak terdidik, sadar versus tidak sadar dan label-label lain sejenis. Sehingga untuk menyebut malpraktek dokter adalah hampir tidak mungkin. Kebodohan dan ketidaktahuan masyarakatlah yang menjadi asal usul malpraktek, bukan dokter atau institusinya. Setiap complain atas mahalnya biaya obat beserta perawatan adalah produk kecerobohan personal di tahap pencegahan. Ia seolah-olah persoalan yang endemic di lapangan kesadaran saja. Hingga akhirnya kita tak lagi dapat memberontak pada adagium lama bahwa sakit itu mahal.

Jika dibahasakan ulang tingkat pendidikan dan kapasitas ekonomi masyarakat terhadap kesehatan itu berdiri sendiri. Tiap kesulitan yang melanda ditanggung sendiri. Ia tak punya korelasi dengan carut marut peran Negara. Apakah dalam wujud kurusnya subsidi kesehatan dan pendidikan atau malpraktek (lagi) kebijakan ekonomi neoliberal. kebijakan kesehatan tidak terpaut dengan korporasi farmasi yang menggurita, sekongkol dokter dengan bisnis apotek,atau hak cipta obat-obatan dibawah regulasi pasar bebas WTO. Pebisnis sukses dan dokter-dokter cerdas nan terhormat ini begitu keras kepala. Bagi mereka kata neoliberalisme itu kampungan dan tendesius. Penuh dengan aroma soudzon dan prasangka. Mungkin saja kebijakan kesehatan di kuba dan Venezuela dalam perspektif mereka itu anakronis. Ketinggalan zaman dan tidak kondusif untuk bisnis kesehatan tentu saja. Analisa ekonomi-politik akhirnya serupa Koran pembungkus kacang. Kadang-kadang kau akan memperhatikannya tapi tetap saja sampah dan tidak berarti apa-apa.

Oooh Dewa kemunafikan berkatilah kami..

Belakangan ini media disibukan oleh protes dokter-dokter yang berhimpun lewat IDI. Mereka bersolidaritas terhadap seorang dokter yang mereka anggap dikriminalisasi setelah pasiennya meninggal. Mereka menuntut ketidakdilan terhadap institusi hukum yang semena-mena. Si dokter A seharusnya tidak dipenjarakan karena dia diklaim telah melaksanakan tugasnya secara procedural dan bla bla. Di saat yang sama kasus salah rawat, salah obat, biaya berobat mahal, subsidi kesehatan negara cekak, monopoli bisnis obat dan alat kesehatan bukanlah kejahatan baik itu di masa lalu maupun hari ini. Bagi IDI dan dokter dokter pendukungnya profit dan kehormatan korps jauh  lebih penting dibanding nyawa rakyat miskin. Bagi para boyband atau girlband ini masalah dan tragedy tersebut mirip hafalan dalam kamus kamus medis tebal di rak buku mereka. Akses kesehatan yang lebih mudah dan baik adalah kemewahan terbatas. Hanya dan hanya boleh dinikmati oleh penduduk Elysium. Terpisah, sangat jauh serta eksklusif dari tangan-tangan kotor rakyat miskin di bumi.

Oohh dewa kemunafikan berkatilah kami para dokter. Teguhkanlah jalan perjuangan IDI ini. Lapangkanlah ibadah kemunafikan kami. Jauhkanlah kami dari orang-orang sok tahu tentang kedokteran, gagasan progresif, dan keadilan bagi rakyat miskin. Kami telah memalingkan muka kami dari kapitalisasi kesehatan. Kami sedang menuntut ketidakadilan pada institusi hukum dan buta pada ketidakdilan bisnis kami sendiri. Betapa besar ibadah kemunafikan kami.

Berilah petunjuk bagi teman, mitra, dan sekutu kami yang lain. Pada pengguna mobil-mobil mewah yang mengumpat,meludahi, dan menistakan demonstran penolak dicabutnya subsidi BBM namun tetap memakai bensin subsidi hasil perjuangan para demonstran. Peliharalah senyum, seringai, dan kebahagiaan mereka di tiap SPBU. Tambahakanlah kecerdasan pada kelas menengah, politisi, cendekiawan dan sebagainya yang berlagak santun dan anti demonstrasi namun jika terdesak menyerukan aksi massa.
Oohh dewa kemunafikan kamilah hamba-hambamu yang setia.

Kamis, 28 november 2013
Pukul : 15.14
The clash_train in vain
P.S. : saya benar-benar kaget kolektif punk seperti The Clash menulis lagu cinta yang sangat mengasyikan J




2 komentar:

  1. yeyyyyy you're back ma meeeennn, keep it up:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga saja,hihih..semoga review tandingan elysiumku bisa segera nongol. tunggu saja yah,haha

      Hapus

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.