Matt
damon merupakan salah satu bintang penting Hollywood. Tidak hanya penting
karena sukses komersil film-filmnya tapi juga pada aspek estetika seni peran
itu sendiri . Paska booming lewat good
will hunting tidaklah sulit untuk menyukai beberapa filmnya. Plot unik dan
dialog cerdas sebagai will hunting menjadi garansi mutu untuk menyaksikan film
tersebut berulang-ulang. Matt damon bahkan memberi bonus bagi audiens lewat
narasinya pada documenter tentang Howard Zinn, you cant be neutral on a moving train, dan krisis financial
AS 2008 melalui inside job. Dia
sepertinya sangat paham akan bobot dan kualitas film. Namun trend ini menurut
saya agak terganggu oleh kehadiran Elysium.
Film yang disutradarai oleh Neill Blomkamp tersebut seolah menjadi anti klimaks
bagi kecermelangan matt damon ketika memilih perannya. Saya malah berpikir ayah
4 anak ini tidak seharusnya terlibat. Apalagi jika kita melihat capaian penting
sutradara Neill Blomkamp lewat district 9 empat tahun lalu, rasanya sangat sulit untuk kecewa terhadap Elysium.
Bagaimanapun
juga, perspektif fans seperti saya memang seringkali subjektif. Saya jarang
berpikir dua kali ketika ingin menyaksikan karya matt damon. Totalitas peran,
bobot cerita, hingga kedalaman pesan pada filmnya telah menjadi nilai plus.
Contoh paling sederhana adalah kisahnya sebagai jenius tukang cleaning service
itu. Lupakan sejenak fakta bahwa ia dan sobatnya ben Affleck diganjar Oscar
untuk penulisan naskah terbaik. Good will hunting menyajikan ending yang non
kompromis. Ceritanya meninggalkan jejak betapa kebahagiaan terkadang adalah
pilihan yang terlampau sulit. Will hunting seolah mencampakan bakat
intelejensianya dan berpaling untuk mengejar ketetapan hatinya. Memperjuangkan
cintanya sendiri dan membuang peluang karir gemilang sebagai ilmuwan penting di
kampus. Promised land pun memotret
bagaimana sebuah keputusan sulit akan selalu eksis. Bekerja sebagai karyawan
perusahaan tambang terkemuka kemudian berhenti oleh manipulasi dan ketidakdilan
yang terus memompa rasa bersalahnya pada masyarakat. pola ini pernah tersaji lewat the rain maker, arahan sutradara penting
Hollywood francis ford coppola. Film rilisan 1997 ini memukau penonton oleh
kiprah pengacara muda melawan perusahaan asuransi dan firma hukum yang
sama-sama raksasa. Menang melawan perusahaan korup pada kasus perdananya justru
berbuah pensiun dini bagi rudy, si pengacara idealis ini. Ia memutuskan
berhenti karena lelah bergelut dengan kebusukan realitas dunia hukum. Imaji
realitas konkret itulah yang menjadi sumber pesona film mat damon buat saya.
Adalah
niar yang mengenalkan saya dengan film ini. Promosi gratisnya lewat telepon
akhirnya buat saya kepincut. Dia bilang rugi jika saya melewatkan Elysium.
Meskipun pujian yang diberikan tidak seheboh pada The Godfather atau Beast of
southern wild, reaksinya terhadap Elysium cukup bergairah. Akhirnya
Berbekal sedikit spoiler dari niar, eksekusi pun dilakukan tidak lama
berselang. Kredit tersendiri juga buat si goen yang telah mendownload film ini
paska kebanjiran kapasitas dan kecepatan internetnya yang entah bagaimana bisa
diperoleh.
Elysium
adalah film bergenre sains fiksi. Layaknya film sains fiksi pada umumnya, Visualisasinya
ditopang oleh komputerisasi yang menghasilkan efek efek grafis luar biasa.
Namun begitu, Elysium setidaknya tampil cukup nyentrik lewat cerita yang justru
berkarakter non fiksi. Neil bolkamp, yang juga penulis naskahnya, memposisikan
Elysium sebagai representasi “realitas kontemporer”. Tentang potret muram
kehidupan ekonomi dan politik rakyat dunia dalam bentuk represi, otoritarianisme,
dan kemiskinan. Dengan basis seperti itu Elysium cukup jelas hendak bergerak ke
arah pendiskusian konflik-konflik dan ketimpangan sosial yang sedang mengemuka.
Eksplorasi tema dystopia dalam indutri perfilman memang bukanlah hal baru. Sejumlah
rilisan seperti equilibrium, matrix,
hingga v for vendetta hadir lebih
dahulu. Dan Tentu saja yang paling monumental adalah 1984 yang diadaptasi dari novel George Orwell berjudul serupa.
Cerita
Elysium beranjak dari keadaan dunia pada tahun 2154 yang dihuni kesengsaraan
dan dominasi. Penduduk bumi hidup dibawah malapetaka kemiskinan dahsyat.
Pemukiman kumuh, pengangguran, dan wabah telah menjadi situasi integral
kehidupan mereka. Disisi lain, seporsi kecil manusia hidup bermandikan kekayaan
dan kemewahan. Pada arena politik mereka berperan sebagai pemegang otoritas tertinggi
nan mutlak layaknya aristokrasi. Pemukiman dan kedudukan pemerintahannya pun
berada jauh dari bumi. Dengan wahana sejenis stasiun luar angkasa, planet
buatan (artificial) bernama elysium, mereka bertindak mirip dengan para dewa di
Olympus. Setiap penduduk Elysium menikmati privilege untuk hidup dalam
totalitas ketentraman dan kesejahteraan yang hanya bisa diangankan oleh orang
di dunia. Lebih jauh penyakit beserta konflik sosial tidak pernah eksis.
Elysium dilengkapi oleh fasilitas teknologi super canggih yang mampu mengobati
segala penyakit. Kesenjangan sosial yang menganga ini seolah diterima sebagai
kelaziman dan nasib. Polarisasi dua kehidupan yang timpang menjadi norma. Penduduk
bumi tidak diperbolehkan memasuki Elysium karena dianggap rendah dan menularkan
penyakit. Latar tersebut tidak tersentuh hingga akhirnya seorang buruh yang
mantan pencuri, Max (matt damon), bergerak membangun resistensi. Perang klasik
dimana kejahatan tersungkur oleh kebaikan masih tersaji sebagai ending Elysium.
Max da Costa seorang buruh yang terpapar radiasi parah, divonis akan segera mati dalam
beberapa hari. Sadar bahwa tidak ada yang bisa dilakukan di bumi ia nekat
terbang menuju Elysium. Disanalah harapan satu satunya bagi dia untuk sembuh.
Max lalu menyepakati kerjasama dengan Spider, pemimpin grup vigilante-istilah
ini lebih cocok untuk alasan yang akan dijelaskan kemudian-untuk menerobos
Elysium. Misi berjalan mulus meskipun harus dibayar oleh kematian si max
sendiri. Elysium berhasil diprogram ulang dan menjadi tempat bersama yang bisa
diakses oleh penduduk bumi. Sisa cerita pun mudah ditebak. Kebahagiaan dan
harapan menyelimuti penduduk bumi. Elysium kini tak lagi eksklusif,
diskriminasi berakhir.
![]() |
| panorama Elysium. surga bagi golongan elit |
Meski
diawal saya memproklamirkan diri sebagai fans, untuk Elysium saya punya
sejumlah kekecewaan dan keberatan. Ekspektasi saya tiba-tiba runtuh bahkan
sebelum film ini berakhir. Ada beberapa plot hole yang menggerogoti tautan
cerita yang terjalin didalamnya. Sesuatu yang memaksa saya berpikir apa benar
Neil tidak menyadari ini (atau justru sengaja mengemas sedemikian ruapa).Pertama,
pemberontakan yang digambarkan dalam cerita terasa kosong dan sangat
dipaksakan. Max tidak digambarkan sebagai figure kritis. Ia seorang pekerja biasa
yang tidak memiliki afiliasi dan pandangan politik apapun. Alih-alih menganut
ideology revolusioner tertentu. Benar bahwa anda tidak wajib dipersenjatai oleh
teori-teori kritis canggih untuk paham kejahatan sistemik. Mengutip Chomsky,
sikap skeptis terhadap status quo dan
kekuasaan kadang kadang sudah cukup untuk memahami tendensi sistem yang korup.
Namun begitu max justru tidak menunjukkan tanda tanda seperti itu. Max
menjalani hidup secara lurus tanpa kecurigaan maupun kebencian terhadap diskriminasi
ekonomi dan politik yang ada. Adalah penyakitnya yang lalu memaksa max untuk
menerobos Elysium. Darisini, max bukanlah jelmaaan seorang working class hero, pejuang kaumnya yang miskin di bumi, atau tokoh
sentral dibalik perlawanan terhadap Elysium. Max, cenderung mudah ditafsirkan
sebagai sosok yang egois, jauh dari altruisme. Perkara yang muncul hanya
bersumber dari ancaman kematiannya sendiri dari radiasi. Maka tidak ada pilihan
lain kecuali ”melawan”. Sikap ini bahkan disempurnakan ketika max menolak
seorang anak yang juga putri dari gadis yang ia cintai untuk dibawa serta ke
elysium.
Krisis
identitas itu terlihat sangat absurd jika melihat latar film yang dari awal dibingkai
sebagai sebuah dystopia. Penindasan dalam bentuknya yang paripurna. kontradiksi
kaburnya karakter figur utama, max da costa, dengan dasar cerita melahirkan
patahan dari satu adegan ke adegan lain. Misi perlawanan max tampak dangkal,
sangat berjarak dari tema perjuangan kolektif melawan kediktatoran Elysium.
Krisis identitas lain juga mengemuka pada spider dan kelompoknya yang ikut
terlibat dalam resistensi. Neil bolkamp sekonyong-konyong seolah menyulap
spider sebagai grup revolusioner yang berjuang atas nama rakyat tertindas.
Adegan ini terlihat cukup jelas di bagian akhir film. Anomali muncul mengingat
selama film tokoh spider lebih mirip sebagai mafia, makelar yang hidup lebih
untuk tujuan personal dan profit. Ia menarik ongkos mahal bagi penduduk bumi
yang hendak ke Elysium secara illegal. Meski banyak dari pelanggannya miskin
dan sakit parah, semuanya masih dalam koridor bisnis bagi spider! Apalagi jika
dikaitkan dengan prinsip kerjasama max dan spider yang lebih meneyerupai
transaksi dagang. Saya seperti sedang menyaksikan trik kelinci dan merpati yang
tiba tiba keluar dari topi pesulap. Bum, Bagaimana mungkin itu terjadi?!! Sulit
rasanya bagi audiens untuk tidak bingung memahami adegan per adegan yang
tersaji.
Kedua,
kelemahan Elysium terekspos pada kedalaman cerita yang terkesan minim.
Eksplorasi hampir tidak dilakukan untuk sejumlah pilar penting cerita.
Konsekuensinya lalu merambat pada karakter tokoh-tokoh dalam Elysium yang
mengalami disorientasi tadi. Pilar cerita Elysium menurut hemat penulis
seharusnya lebih mengakar pada konflik kepentingan rakyat bumi dan golongan di
Elysium. Elaborasi cerita pada konteks tersebut tidak ditempuh. Padahal film
ini berpotensi dan secara substansial mampu memotret kesenjangan antara si kaya
dan miskin. kontradiksi kelas -apabila merujuk pada terminologi Marxian- tidak
memperoleh jatah eksplorasi yang maksimal, . Realitas kelas malah dihadirkan
secara malu malu. Ini menjadi beban yang perlu ditanggung karena Elysium terlanjur
memanfaatkan dystopia sebagai warna dasar ceritanya. Bagaimana pemerintahan elysium
bekerja, mekanisme segregasi politik yang dilakukan, ada atau tidaknya grup
oposisi, mengapa kemiskinan melanda rakyat di bumi. Serta resistensi yang
digencarkan. Tidak satu pun dari hal itu yang dijelaskan. Cerita kemudian
terasa kaku, stagnan, tidak punya bobot yang kuat. Naskah film seperti sedang
mencampakan common sense bahwa kesengsaraan sebagai hal wajar ditengah gambaran
film yang penuh diskrimasi. Keseleruhan inti cerita berkutat pada dinamika
personal Max. tak ada kolektif, tak ada rakyat, tak ada kepentingan bersama
yang mewujud. Alih alih mengangkat eksistensi organisasi perlawanan. Bahkan,
dan ini yang terparah, asal usul (genealogi) bumi yang carut marut dan Elysium tidak
kita temukan. Satu satunya petunjuk adalah sumber daya alam bumi semakin
sekarat-yang kembali tidak dikemukakan mengapa bisa terjadi-. Jika komparasi
dibuat maka Elysium akan tampak payah dihadapan film seperti Matrix,Fight Club, atau V For Vendetta yang sukses menampilkan
benang merah dasar cerita masing-masing. Lebih jauh, pada seri pamungkas trilogy
Batman Christoper Nolan, yang
notabene tidak punya frame cerita yang politis cukup gamblang memetakan kekuasaan
dan korupsi kaum elit kota gotham. Batman justru menjadi lebih masuk akal
dengan meyakini moralisme dibanding si max miskin yang frustrasi dan bingung
didepan represi yang menggurita.
Sekali
lagi, Elysium adalah film yang punya potensi sekaligus tendensi untuk bisa
lebih progresif. Neill blomkamp malah menyia-nyiakan peristiwa occupy wall
street, krisis financial global, krisis hutang eropa, kesenjangan yang melebar,
hingga protes-protes dunia ketiga dan di negara maju yang mulai mendapat tempat di banyak media kontemporer. tema tema revolusioner cukup laris dijual bukan? Sungguh sayang.
Selasa,
17 desember 2013
Pukul
: 15:12
Nirvana_Aneurysm
Lama-lama
rokok kretek semakin nikmat. masih suka bikin review terlambat untuk film
.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar