Tak
pernah ada tulisan dalam bentuk
ide. Pilihannya Cuma dua, pakai tinta
atau computer. Duduk melamun atau duduk
mengetik. Eksekusi sesegera mungkin atau tertahan oleh kekhawatiran (perfeksionisme
tak beralasan!). Atau ini, giat berlatih
atau tidak. Diluar dari ini tampaknya
menulis hanya berakhir sebagai khayalan. Btw, ini adalah personal reminder yang
lebih sering saya acuhkan. Setahun lebih
berselang, daftar presensi postingan baru nol besar. Tapi tak masalah. Tak ada orang diluar sana yang dirugikan,
kecuali proses belajar saya yang jadi berantakan tentu saja. Mari skip basa
basi ini menuju basa basi lain yang disebut rencana. Apakah rencana merupakan
basa basi? Saya berpikir rencana adalah evolusi dari basa basi. setidaknya Ia adalah
basa basi paling indah dan meyakinkan sebelum kemudian benar-benar menjadi basa
basi oleh kemalasan.
Saya sebelumnya berencana menulis komentar iseng
tentang rencana kemakmurn dan kesejahteraan pada kesepakatan APEC 2013 dan konsolidasi
kapitalisme uni eropa dalam kebijakan austerity
setelah tersungkur akibat krisis hutang. Mengapa diskursus neoliberal dan
kapitalisme adalah bentuk lain dari rencana yang berakhir sebagai basa basi. Bukan
karena perkara disiplin atau kemalasan tentu saja, tapi pada mekanisme internal
bagaimana sistemnya berfungsi dan berjalan. Materinya masih agak samar dan kasar tapi saya
yakin dengan sedkit polesan disiplin pasti bisa rampung. Yah, meskipun kadar
dan bobotnya akan sangat rata-rata. Sekali
lagi terbukti bahwa rencana saya berakhir sebagai basa basi. Mirip dengan janji
kemakmuran dan kesejahteraan yang dihasilkan dari peristiwa peristiwa diatas.
Saya sebelumnya berencana untuk menulis tentang
sejumlah buku yang saya sukai. Belakangan
literature ekonomi-politik menyangkut krisis kapitalisme cukup sering saya
akrabi. Tapi dalam rencana saya itu saya tidak hendak mengulas apa, bagaimana,
dan mengapa krisis ekonomi itu inheren dan tendensial, justru saya ingin
melempar kekesalan.apa pasal??ternyata Para penulis Marxist tersebut tidak
lebih baik dari Si Tom dan Jerry. Sudah jadi rahasia umum kalau kalangan ini
berebut label paling kaffah terhadap marxisme. Mereka sungguh payah dalam perdamaian,LOL. Asumsi
ini bukannya tanpa alasan, jika anda
sedikit lebih rajin mengkonsumsi analisa seputar krisis ekonomi maka dijamin
anda akan masuk ke zona perang. 2 atau 3 kubu bertarung sengit,saling
menyalahkan dan saling melemahkan. Meski sebenarnya saya cukup paham bahwa tiap
model analisa krisis melahirkan implikasi politik yang berbeda. Namun saya
harus tetap merasa kesal. Mereka berhasil
mengganggu semangat membaca pembelajar amatiran seperti saya ini. Kalau dipikir
lebih lanjut,ini lebih mirip konflik penentuan hak dan harta warisan. Masing-masing
mengklaim paling berhak meskipun tidak memiliki legitimasi sah dari pemilik
warisan. Oh iya, saya juga pernah berencana menulis bahwa salah satu penyesalan
terbesar saya adalah terlambat membaca Bumi Manusia. Om Pramoedya memang seharusnya
diganjal nobel sastra.
Saya sebelumnya berencana menulis soal music yang
saya sukai. Untuk perkara ini, faktor self confidence adalah sumber utama
penundaan. Tapi setelah dipikir lagi, merasa terbebani karena output tulisan yang buruk justru
keliru. SBY bahkan merilis 1 atau 2 album untuk dinyanyikan disana sini (saya
tidak ingat persisnya), terus dulu waktu masa Orde Baru,titik puspa sempat
menulis lagu untuk menjilat Soeharto, atau belakangan marak sekawanan putra atau
putrid joget tidak jelas sambil lipsync lagu korea. Jika mereka sukses menabrak
batas malu dan banalitas sebrutal itu kenapa saya justru masih bingung untuk
memproduksi sesuatu yah? Saya sebelumnya hendak melampiaskan romatisme
kegemaran saya pada Britpop. Dulu di
kampus saya punya rival abadi tentang selera music. Dia yakin betul bahwa punk
dan hardcore adalah satu satunya daya hidup pada music. Tapi saya tidak rela
kalah. Bagi saya Britpop adalah alasan paling tepat untuk jatuh cinta pada music.
Pada sisi lain saya berencana menulis tentang Oasis, Blur, dan Pulp. Bagaimana Oasis seperti cinta pertama dan
pengantarmu pada Britpop. Betapa saya sungguh menggilai jaket hitam Noel pada
konser Oasis di Wembley,tahun 2000. Atau bagaimana Blur dalam pandangan saya
telah mengubah konsep keren dan cool (sebelumnya saya hanya percaya bahwa
segala definisi keren ada pada rambut, suara, cardigan dan jeans robeknya Kurt
Cobain,hahaha). Betapa kreatif dan
progresif album album mereka. Mengapa Tender
perlu menjadi salah satu lagu wajib patah hati, atau senyum spontan Graham
Coxon dalam video klip Tender yang sangat memorable. Selain itu saya juga ingin
menulis kisah saya dan Goen tentang Pulp. Bagaimana Pulp seperti harta karun music
terbaik yang tiba-tiba saja kami temukan di jogja. Tentang kesepakatan kami bahwa
Jarvis adalah penulis lirik yang cerdas, kritis, sekaligus nakal. Atau perdebatan
kami manakah yang lebih bagus antara disco
2000 atau something changed.
Saya pun sempat berencana menulis betapa
beruntungnya saya menyaksikan Memento.
Satu dari sedikit film yang membuat otakmu kusut. Lalu yang paling memalukan
tentu saja bagaimana Hermionie telah
tumbuh menjadi gadis yang sungguh manis dan rival sengit dian sastro,hahahaha…
Semoga selanjutnya rencana rencana baru tidak
menjadi basa basi lagi.
Minggu,27
oktober 2013
Pukul
: 20:48
Blur_
Best Days

Tidak ada komentar:
Posting Komentar