Bulan
Mei dapat dikatakan sebagai bulan tersibuk, setidaknya untuk beberapa pihak.
Pengamanan aksi biasanya meningkat di bulan ini, para awak media massa juga
terlihat panen berita, dan terakhir tentu saja demonstrasi tumpah dibanyak
tempat. Ya, Mei adalah bulan yang diwarnai sejumlah momen penting nan historis.
Salah satu yang paling fenomenal adalah hari buruh internasional, 1 Mei.
Momentum yang lebih akrab diistilahkan sebagai mayday ini menjadi tonggak krusial
untuk melihat dan memahami kembali sejarah gerakan kelas pekerja. Tahukah anda
bahwa kerja 8 jam sehari baru dikenal sekitar akhir abad 19? Tahukah anda bahwa
perbaikan kondisi kerja berikut jaminan sosial kerja bukanlah hadiah
pemerintah?
Saya
secara subjektif memandang bahwa peringatan hari buruh sedunia adalah wajib.
Terlalu banyak kontribusi para buruh dalam hidup saya baik secara langsung
maupun tidak langsung. Disisi lain hari buruh juga adalah ruang refleksi bagi
pekerja kerah putih atau siapa pun yang berada dalam lingkaran capital. Mereka
yang tak bisa hidup tanpa rantai industrial, pasar, atau majikan juga termasuk
buruh. Saya berkesempatan ikut dalam barisan aksi may day kemarin (1/05/12) di
Yogyakarta. Berikut ini adalah sedikit catatan dari peristiwa tersebut.
Aliansi buruh Yogyakarta bergerak
dan solid
Sekitar
700an massa aksi yang tergabung dari berbagai elemen gerakan Yogyakarta bersatu
dibawah front bernama Aliansi Rakyat Yogyakarta. Peserta aksi berbaris teratur
lalu menyusuri jalan paling terkenal di Yogyakarta yakni Malioboro. Massa mulai
bergerak sekitar pukul 10 pagi dengan dipandu oleh satu mobil komando. Tak
lengkap rasanya aksi tanpa menentang terik matahari. Ibu-ibu, bapak, dan pemuda
dari latar belakang yang beragam itu tetap bertahan meski suhu panas cukup
menyengat. Terlihat antusiasme yang cukup besar. Seolah tak ingin kalah, koordinator
lapangan aksi terus memompa semangat demonstrasi lewat orasi dan sesekali lewat
lagu-lagu perjuangan. Jalanan malioboro siang itu kosong dari mobil. Aparat kepolisian
hanya mengijinkan motor dan sepeda untuk lewat. Strategi pengalihan jalur mobil
terbukti ampuh karena Aksi berjalan tanpa kemacetan serius.
Pemandangan
hari buruh selalu semarak. Bendera, kostum, poster, hingga banner-banner
raksasa menghias penampilan barisan aksi. Barisan massa cukup tertata lewat
penggunaan tali yang membatasi kiri kanan dan muka belakang tepi front ini.
Salah satu hal paling menarik dari demosntrasi adalah teladan pluralitas atau
keberagaman. Momen aksi pada konteks lain adalah suatu perayaan perbedaan.
Strata sosial seolah mencair. Jarak untuk suku, ras, dan agama menguap.
Orangt-orang saling bergandengan dalam kesatuan visi dan tujuan perjuangan.
Senyum dan kehangatan diantara peserta aksi terasa cukup kental. Mungkin ini
terdengar berlebihan tapi begitulah adanya. Koordinator aliansi rakyat
Yogyakarta, Hikmah Diniah, berujar dalam orasinya “ perjuangan buruh bukanlah untuk buruh pabrik saja. Perjuangan buruh
adalah aspirasi bagi para pekerja lainnya. Tuntutan kesejahteraan dan
perlindungan kerja itu bersifat universal. Jadi apakah kita berjuang hanya
untuk diri kita sendiri”? massa kompak menyahut dan setuju. ARY sendiri
merupakan komposisi dari serikat pekerja semisal SPN, SPSI, AJI, FSBII Bantul,
Serikat Buruh Gendong pasar Gamping, LPM UIN Sunan Klaijaga, ema FH UGM dan
berbagai organisasi lain yang jumlahnya sekitar 30 organisasi dengan basis dan
sektor kerja berbeda-beda. Jika dibandingkan Mayday tahun lalu, aksi hari buruh
tahun ini saya lihat lebih ramai dan semarak. Boleh jadi ini dipengaruhi oleh
kemunculan isu serta gerakan-gerakan yang mendahuluinya. Perlawanan menolak
tambang di Mesuji dan Bima, radikalisasi penolakan BBM, atau berita terkait
kematian dan tragedy atas buruh imigran (TKI) yang masih saja berlangsung. Jika
diamatai secara seksama, solidaritas bukanlah istilah kosong tanpa makna.
Orang-orang ini benar-benar paham bahwa hanya dengan bersenjatakan
solidaritaslah kekuatan kolektif dapat terlahir. Mereka juga sudah sangat paham
dan waspada terhadapa segala jenis ancaman neoliberalisme dalam kehidupannya di
Indonesia. secara umum ARY menuntut : penghentian system outsourcing dan kerja
kontrak, menghentikan pemberangusan serikat pekerja, pencabutan UU Migas dan
PMA, atau menuntut jaminan sosial yang lebih baik bagi seluruh buruh termasuk
pekerja rumah tangga.
Bahaya
neoliberalisme tak pernah luput dari materi orasi dan terutama dalam tuntutan
yang diangkat oleh front ARY kemarin. Hampir semua orator terus mengutuk dan
menyerukan perlawanan pada agenda pasar bebas ala neoliberalisme. “ neoliberalisme melapangkan jalan bagi
system outsourcing, kerja kontrak, dan semakin lemahnya posisi buruh dihadapan
pengusaha”, seru si orator dari SPSI. Penolakan system kerja yang tak
manusiawi bagi buruh merupakan agenda mutlak yang mesti diperjuangkan semua
organisasi pekerja. Setiap upaya menghalangi dan memberangus kebebasan
berserikat bagi buruh adalah hal yang tidak bisa diterima. Saya belajar dari
aksi ini. Saya terus merenungkan bahwa organisasi selalu menjadi kunci utama
dalam perjuangan. Organisasi adalah satu-satunya wadah untuk menghimpun
kekuatan kolektif demi pertahanan nasib hidup kelas pekerja. Maka kita harus
mulai merubah asumsi tentang buruh yang biasanya dianggap tak terdidik. Lewat
organisasinya masing-masing, mereka ternyata selalu belajar dan mengorganisisr
diri. Mempertajam pengetahuan seputar kebijakan politik dan ekonomi Negara yang
punya efek langsung dengan lahan hidup mereka.
Sejumlah
jurnalis, pers mahasiswa, dan BEM juga ikut memberikan solidaritas. AJI tak
kenal lelah mengingatkan kekerasan terhadap wartawan itu wajib dilawan. Bahwa
para kuli tinta ini juga perlu memperoleh upah yang layak. Sejumlah mahasiswa
UGM pada siang itu mengusung isu kedaulatan migas sebagai syarat vital
kesejahteraan rakyat Indonesia. ini terlihat dari poster, petaka, dan spanduk
yang sebagian besar berisi himbauan untuk nasionalisasi, renegosiasi, dan Negara
yang berdaulat atas sumber-sumber ekonominya.
Aksi
berjalan tertib tanpa keributan sama sekali. Polisi terus terlihat siaga di
area sekitar demonstrasi berlangsung. Hal menarik dan lucu (setidaknya bagi
saya pribadi) adalah penggunaan lagu popular sebagai instrument pembangun
kesadaran. Lagu iwak peyek, lagu dangdut yang belakangan cukup popular
diyogyakarta, dimodifikasi lalu dijadikan sebagai yel yel bersama massa aksi.
Liriknya dirubah menjadi seperti “upah
cepek, upah cepek, buruh sengsara,….. lagu tersebut selalu melahirkan
spontanitas untuk bernyanyi bersama. Belum lagi ditambah iringan music yang
secara kreatif dimainkan oleh serikat buruh Mirota Batik (Mirota Batik adalah
salah satu usaha retailer batik terkemuka di Yogyakarta). Dengan perkusi,
angklung, dan alat music tradisonal lainnya mereka memainkan lagu yang sangat
variatif dan menghibur.
Sekitar
pukul 12.45 aksi diakhiri oleh pembacaan pernyataan sikap. Perempatan malioboro
yang terkenal dengan gedung post klasiknya, kantor BNI lama, serta monumen
serangan umum 1 maret menjadi saksi kebulatan tekad gerakan buruh ditanggal 1
kemarin.
Konsolidasi jangka panjang dan
melampaui ritual mayday
Saya
cukup terkejut oleh orasi menjelang akhir demonstrasi. Sang korlap menyatakan” perjuangan buruh bukan hanya pada tanggal
1 mei. Kita akan dan harus terus memperluas konsolidasi. Kita akan terus
membuat pengorganisiran, diskusi, memasuki pabrik-pabrik, komunitas dan
organisasi lain untuk menyatukan kekuatan. Nasib buruh ada ditangan buruh itu
sendiri. Kita harus selalu mempersiapkan diri. Hanya persatuanlah senjata
terbesar kita”, tegasnya dengan berapi-api. Pernyataan tersebut adalah
refleksi kritis sekaligus seruan bersama untuk gerakan buruh. Mayday tidak
boleh menjadi sekedar ritual selebrasi tahunan. Mayday seyogyanya menjadi momen
penguatan konsolidasi gerakan bersama. Dalam hal ini peluasan solidaritas dan
kerja jangka panjang menjadi landasan utamanya.
Eko
mahardi, bapak berusia 58 tahun, berhasil saya wawancarai. Pria yang bekerja
sebagai pedagang kaki 5 ini cukup fasih menganalisa realitas ekonomi dan
kebijakan pemerintah. Ia sendiri adalah wakil ketua asosiasi pedagang kaki 5
Yogyakarta. Ia membeberkan alasannya ikut dalam aksi. “ sebagai orang kecil saya ikut merasakan kesulitan buruh buruh lain.
Saya sendiri ikut memperjuangkan jaminan sosial pagi buruh maupun
pedagang-pedagang kecil”,bebernya. “
jika buruh miskin saya juga ikut sulit hidupnya. Pembeli dagangan saya itu
sebagian besar orang-orang menengah kebawah”. Lanjutnya. Ketika ditanya
apakah persoalan pelik bagi kehidupan buruh. Eko berujar, “ yah itu soal upah. Misalnya di Yogyakarta. Itu UMPnya saja sekitar
800 ribu. Itu sangat kecil dibanding daerah daerah lain.” Lebih lanjut ia
tidak lupa menegaskan pentingnya demonstrasi untuk menuntut penyelesaian
masalah-masalah rakyat. “ kalau tidak
didemo ini kan tidak mempan. Contohnya yang kemarin demo (tentang penolakan
kenaikan BBM) di senayan. Jadi demo itu perlu sekali”. Akhirnya pak eko
menghimbau agar 1 mei itu dijadkan hari libur nasional. Untuk diketahui 80
negara di dunia telah menetapkan 1 mei sebagai hari libur. Indonesia sebagai
salah satu Negara dengan populasi buruh terbesar baik formal maupun informal
justru tidak memberikan respon yang sama.
Hari
buruh pada prinsipnya tidak terjadi hanya pda 1 mei. 1 mei terjadi tiap hari
sejak kerja dilakukan tiap hari. 1 mei jatuh tiap hari sejak rantai kapitalisme
masih eksis. Bahwa sebagian besar manusia bekerja demi upah dan mengabdi untuk
majikan adalah fakta objektif yang tak terbantahkan. Hari buruh akan terus ada ketika eksploitasi dan masalah-masalah
penting lainnya terus terjadi. Selamat hari buruh untuk kita semua…
pukul : 12.16
BIP_Fenomenal


Tidak ada komentar:
Posting Komentar