judul

Perihal Narsisme Pada "Come As You Are"



Sekitar 2 bulan yang lalu berjumpa dengan gambar diatas. Diunggah oleh majalah music yang saya ikuti lewat fessbuk. Saya kebetulan baru mengetahui kalau papan ini telah lama dibuat,sejak 2005. Saya sangat menyukainya. Sungguh. Foto tersebut mengirim elemen penting yang wajib dimiliki oleh foto lain. Bukan dalam perkara estetika, tekhnik pengambilan,komposisi, cahaya,dan sebagainya namun pada aspek instrinsiknya. Konon foto dipandang hebat apabila mampu bercerita lebih kuat dan lugas dibanding ribuan kata. Dan bagi saya kutipan foto ini mewartakan dua hal sekaligus. Pertama, ia sedang berbicara tentang trio grunge paling berpengaruh dalam sejarah music. Aberdeen adalah sebuah kota di negara bagian Washington, AS,yang menjadi daerah asal sekaligus kelahiran Kurt Cobain- Papan selamat datang ini merupakan bentuk tribute terhadap Kurt dan Nirvana-. Kedua, ia berhasil menjadi jembatan antara pikiran dengan kenyataan. Efek proksimitas yang ditimbulkannya lumayan krusial. Untuk sesaat saya tergiring untuk tamasya ke masa lalu sambil tersenyum sendiri,heheh.

Realitas Kelas Malu-malu Dalam Elysium



Matt damon merupakan salah satu bintang penting Hollywood. Tidak hanya penting karena sukses komersil film-filmnya tapi juga pada aspek estetika seni peran itu sendiri . Paska booming lewat good will hunting tidaklah sulit untuk menyukai beberapa filmnya. Plot unik dan dialog cerdas sebagai will hunting menjadi garansi mutu untuk menyaksikan film tersebut berulang-ulang. Matt damon bahkan memberi bonus bagi audiens lewat narasinya pada  documenter tentang Howard Zinn, you cant be neutral on a moving train, dan  krisis financial AS 2008 melalui inside job. Dia sepertinya sangat paham akan bobot dan kualitas film. Namun trend ini menurut saya agak terganggu oleh kehadiran Elysium. Film yang disutradarai oleh Neill Blomkamp tersebut seolah menjadi anti klimaks bagi kecermelangan matt damon ketika memilih perannya. Saya malah berpikir ayah 4 anak ini tidak seharusnya terlibat. Apalagi jika kita melihat capaian penting sutradara Neill Blomkamp lewat district 9 empat tahun lalu, rasanya sangat sulit untuk kecewa terhadap Elysium.

Bagaimanapun juga, perspektif fans seperti saya memang seringkali subjektif. Saya jarang berpikir dua kali ketika ingin menyaksikan karya matt damon. Totalitas peran, bobot cerita, hingga kedalaman pesan pada filmnya telah menjadi nilai plus. Contoh paling sederhana adalah kisahnya sebagai jenius tukang cleaning service itu. Lupakan sejenak fakta bahwa ia dan sobatnya ben Affleck diganjar Oscar untuk penulisan naskah terbaik. Good will hunting menyajikan ending yang non kompromis. Ceritanya meninggalkan jejak betapa kebahagiaan terkadang adalah pilihan yang terlampau sulit. Will hunting seolah mencampakan bakat intelejensianya dan berpaling untuk mengejar ketetapan hatinya. Memperjuangkan cintanya sendiri dan membuang peluang karir gemilang sebagai ilmuwan penting di kampus. Promised land pun memotret bagaimana sebuah keputusan sulit akan selalu eksis. Bekerja sebagai karyawan perusahaan tambang terkemuka kemudian berhenti oleh manipulasi dan ketidakdilan yang terus memompa rasa bersalahnya pada masyarakat.  pola ini pernah tersaji lewat the rain maker, arahan sutradara penting Hollywood francis ford coppola. Film rilisan 1997 ini memukau penonton oleh kiprah pengacara muda melawan perusahaan asuransi dan firma hukum yang sama-sama raksasa. Menang melawan perusahaan korup pada kasus perdananya justru berbuah pensiun dini bagi rudy, si pengacara idealis ini. Ia memutuskan berhenti karena lelah bergelut dengan kebusukan realitas dunia hukum. Imaji realitas konkret itulah yang menjadi sumber pesona film mat damon buat saya.


Dewa Kemunafikan Beserta Hamba Setianya





Sejak masa kanak-kanak memiliki impian dianggap perlu dan penting. Merangsang dan menggerakkanmu untuk belajar sekaligus bekerja keras. Kadang juga secara psikologis dipandang sehat untuk kejiwaan. impian wajib tinggi, bahkan boleh beradu ketinggian dengan langit. Singkat kata cita-cita atau impian adalah produk terbaik yang pernah dihasilkan imajinasi manusia. Gratis, indah, dan menyenangkan. Ini merupakan klise pertama.

Klise yang kedua berupa betapa tidak mudahnya menggapai impian. Begitu sulitnya hingga jasa konsultasi dalam bentuk self-help aka bisnis motivasi tumbuh lebih pesat dibanding follower si justin bieber. Dahulu saya pernah punya impian untuk menjadi dokter. Alasannya sederhana saja, nilai biologi saya bisa dikatakan bagus selama SMA. Mata pelajaran ini saya lahap dengan rakus. Namun saya justru memutar kemudi dan akhirnya merubah haluan. Soal-soal matematika, kimia, dan fisika di SPMB jauh terlalu canggih untuk saya. Godaan untuk menjadi kaya dan prestisius sebagai dokter pun berlalu. Bahkan semakin jauh berlalu setelah memilih jurusan lain yang memang menjadi cinta kedua saya setelah biologi. Singkat kata lagi, dunia berputar, realitas ikut berubah.

Rencana dan Basa Basi

Tak  pernah ada tulisan dalam bentuk ide.  Pilihannya Cuma dua, pakai tinta atau computer.  Duduk melamun atau duduk mengetik.  Eksekusi sesegera mungkin  atau tertahan oleh kekhawatiran (perfeksionisme tak beralasan!).  Atau ini, giat berlatih atau tidak.  Diluar dari ini tampaknya menulis hanya berakhir sebagai khayalan. Btw, ini adalah personal reminder yang lebih sering saya acuhkan.  Setahun lebih berselang, daftar presensi postingan baru nol besar. Tapi tak masalah.  Tak ada orang diluar sana yang dirugikan, kecuali proses belajar saya yang jadi berantakan tentu saja. Mari skip basa basi ini menuju basa basi lain yang disebut rencana. Apakah rencana merupakan basa basi? Saya berpikir rencana adalah evolusi dari basa basi. setidaknya Ia adalah basa basi paling indah dan meyakinkan sebelum kemudian benar-benar menjadi basa basi oleh kemalasan.

Saya sebelumnya berencana menulis komentar iseng tentang rencana kemakmurn dan kesejahteraan pada  kesepakatan APEC 2013 dan konsolidasi kapitalisme uni eropa dalam kebijakan austerity setelah tersungkur akibat krisis hutang. Mengapa diskursus neoliberal dan kapitalisme adalah bentuk lain dari rencana yang berakhir sebagai basa basi. Bukan karena perkara disiplin atau kemalasan tentu saja, tapi pada mekanisme internal bagaimana sistemnya berfungsi dan berjalan.  Materinya masih agak samar dan kasar tapi saya yakin dengan sedkit polesan disiplin pasti bisa rampung. Yah, meskipun kadar dan bobotnya akan sangat rata-rata.  Sekali lagi terbukti bahwa rencana saya berakhir sebagai basa basi. Mirip dengan janji kemakmuran dan kesejahteraan yang dihasilkan dari peristiwa peristiwa diatas.

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.