judul

Hal Klasik yang Tidak Mereka Katakan Tentang Kasus Ruyati



"Laws are spider webs; they hold the weak and delicated who are caught in their meshes but are torn in pieces by the rich and powerful."
plato

pagi yang selalu sama. Hari dibuka oleh sarapan penuh dagelan dan kejengkelan. Membaca berita lewat dunia maya hampir pasti meninggalkan pelajaran maha penting, bahwa saya harus sadar sebagai penduduk dari Negara berlumur masalah. Kali ini tragedy datang dari tenaga kerja Indonesia (TKI).
Ruyati, seorang TKW asal bekasi,jawa barat yang bekerja di arab Saudi berakhir naas, meninggal ditangan tukang jagal. Peristiwa miris ini setidaknya melahirkan 2 sorotan, pertama, eksekusi hukuman mati itu sendiri dan kedua perlindungan pada pekerja imigran.
Vonis dan praktek hukuman mati masih menjadi Sumber perebatan di banyak Negara. Berbagai protes mengalir untuk menghapuskan hukuman mati. Hal ini tentu saja terdengar mengerikan bagi banyak orang, seseorang dipenggal tanpa ampunan. Kontroversi beredar cukup ramai diantara sejumlah lembaga HAM internasional yang bertahun-tahun berkampanye menolak eksekusi mati. Bahkan, dalam konteks hukum islam sekalipun, masih menyisakan tumpukan perbedaan tafsir mengenai apakah ada kompromi atau tidak terhadap hukuman mati.

review : free trade versus protectionism


Dalam review ini, saya mengulas tulisan dari Bruce E. Moon yang berasal dari buku introducing global issues ( introducing global issues edited by Michael t. snarr and D. neil snarr, hal 91-108).  Adapun tema tulisannya adalah free trade vs protectionism: values and controversies pada bab 6. Penulis akan berusaha menganalisa, melakukan komparasi, dan menginvestigasi pokok pemikiran bruce e. moon dari sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian, penulis berharap dapat menemukan sejumlah aspek yang kurang dielaborasi atau bahkan mungkin luput dari pengamatannya. Review ini tentu saja akan diawali oleh deskripsi menyangkut  analisa dan gagasan bruce e. moon tentang topic diatas.
Introduksi dan latar belakang

Dalam tulisannya, bruce e moon mengajukan gagasan yang sangat menarik dan cermat dalam melihat substansi beserta perkembangan perdagangan internasional. Dinamika yang muncul akibat system perdagangan tidak boleh hanya diletakkan pada konteks ekonomi semata karena pengaruh dan akar masalahnya justru sangat politis. Setiap bentuk kerjasama perdagangan dibangun oleh kerangka dan motif politik baik yang dibentuk oleh Negara maupun lembaga internasional.

kekerasan struktural dalam konflik darfur



introduksi

Konflik Darfur adalah salah satu tragedy paling kontroversial di abad 21.Sorotan tajam dunia mengarah pada otoritas sudan yakni pemerintahan omar al basher yang berkonfrontasi dengan SLA (Sudan liberation army) dan JEM (justice and equality movement). Pertumpahan darah yang berpijak pada perebutan kekuasaan berakhir sebagai genosida atau pembasmian etnis. Ratusan ribu korban berjatuhan termasuk warga sipil tak berdosa dengan kuantitas yang tidak sedikit. Konflik di sudan pada prinsipnya telah berlangsung sejak lama namun mencapai titik kulminasi pada konflik Darfur yang dimulai tahun 2003. Sejumlah langkah diplomatic telah dan sedang ditempuh untuk meredakan konflik dari berbagai ototritas internasional terutama PBB. Dilain pihak beragam analisa muncul sebagai upaya untuk lebih memahami substansi dan resolusi konflik yang ada. Tulisan berikut akan mencoba memotret dan menelusuri konflik Darfur berikut dinamika dan kompleksitas yang mengiringinya. Konflik di Darfur dipengaruhi oleh beragam factor dari agama, ras, hingga factor kekuasaan dan akses sumber daya ekonomi. Namun penulis meyakini bahwa situasi di sudan lebih banyak dibangun oleh kekerasan structural yang bersandar pada ketidakadilan ekonomi dan politik alih-alih sebagai akibat dari kekeringan parah di sudan. Selain itu, penulis akan mengajukan sejumlah proposal resolusi konflik dalam kerangka restorasi perdamaian dan menjaga stabilitas sosial-politik di sudan.

Sejarah dan konteks konflik

Secara umum, populasi sudan dapat dikalsifikasikan kedalam 2 kategori ras yakni ras afro (black African) dan arab. Dari sekitar lebih 40 juta jumlah penduduknya, proporsi ras afro mencapai 49% sementara keturunan arab berjumlah sekitar 38%. Dilain pihak juga terdapat ras numibia dan ras lainnya dengan persentase sekitar 11%. Adapun persebaran geografis bedasarkan garis rasial juga terjadi dimana keturunan arab mendiami bagian utara Negara, sedangkan penduduk afro hidup menempati wilayah sudan bagian selatan. Di beberapa wilayah, seperti Darfur, terjadi banyak pernikahan campuran dari berbagai ras tersebut sehingga perbedaan fisik Nampak sebagai hal yang relative kecil. Garis demarkasi lain dalam demografi sudan adalah keyakinan agama. Penduduk arab sudan dan sejumlah keturunan afro yang berada di bagian selatan sudan didominasi oleh Kristen dan keyakinan-keyakinan (agama) tardisional. Di Darfur sendiri, baik penduduk arab maupun afro menganut islam (muslim). Sehingga secara keseluruhan, penganut islam memiliki persentase terbesar yaitu sekitar 70%, Kristen berjumlah 15% dan agama tradisional dan lainnya sebesar 15% juga.[1]

Sekali lagi tentang teknologi*


Beberapa hari yang lalu seorang kawan mengirim respon atas tulisanku (yang judulnya habibie). Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari komentar kawanku tersebut. Dia masih berpijak pada asumsi bahwa kompetisi dan pembangunan sains sebagai modal krusial bagi tiap bangsa didunia. Persepsi ini tentu saja bukanlah hal yang baru dan tidak seluruhnya keliru (setidaknya dalam logika mainstream). Hampir tiap hari pandangan konservatif serupa disebar disegala macam institusi baik di sekolah, kampus, kantor, perusahaan, dll. Tetapi saya justru terpancing untuk mendiskusikannya lebih lanjut. Baiklah, jika ini factor perspektif yang saling berbeda maka saya akan sangat memakluminya. Namun begitu, cerita hidup kita bukanlah sesuatu yang lahir dari skema mulus tanpa interupsi dan goncangan. Setidaknya, ada sejumlah fakta objektif yang sulit dibantah apalagi jika kita berupaya lari darinya. Postingan ini adalah feedback buat dia. Saya meributkan teknologi yang anehnya tanpa teknologi tulisan ini akan berakhir di alam ide saja,hehe.
Sebenarnya kami sudah terlibat debat sengit sejak tahun lalu tentang isu ini,hehe. Perlu saya tegaskan sejak awal bahwa tulisan ini tidak ada dalam kerangka apakah kita butuh teknologi atau tidak, apakah saya menolak kemajuan sebuah bangsa lewat teknologi atau tidak. Dua hal tersebut segera akan menjadi debat kusir,hehe

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.