judul

sedikit tentang media indie


  Akhirnya, kita sampai pada cetak biru masyarakat mati. Dimana hampir setiap orang didalamnya tengah lelap tertidur dan lupa hingga tecerabut dari esensi manusia yang sebenarnya. Kita hidup dalam dunia yang diwarnai oleh silent majority, yaitu mayoritas yang terbungkam. Suatu desain luar biasa bagaimana membangun penaklukan individual tanpa memancing self-resistence atau pemberontakan si individu. Dibalik dominasi kapitalisme yang bergerak lewat invasi arus modal berupa materialisme dan ternyata hal ini hanya menjadi wajah lain dari kebobrokan kapitalisme. Karena pada prinsipnya, apa yang diserang oleh kapitalisme justru bersemayam pada pola pikir dan spiritualitas. Era kapitalisme lanjut adalah titik balik bagi kapitalisme untuk selanjutnya, mentransformasikan dirinya kedalam bentuk yang berbeda. Dominasi citra dan imaji kapitalisme kini telah menempati relung-relung terjauh dari eksistensi manusia. Apa yang sekarang terlahir adalah perbudakan gaya baru lewat mekanisasi kehidupan. Nah, pada konteks ini, rupanya imperium kapitalisme sangat bersandar pada corak dan model pendidikan karena hingga saat ini medium pendidikan masih menempati posisi paling vital dalam membangun karakter manusia. Maka lahirlah berbagai paradigma pendidikan yang mencoba mengusung visi dan kepentingan tertentu. Louis Althusser secara tegas menyatakan bahwa pendidikan sejak lama telah menjadi state appartus ideology, yakni alat kelompok penguasa untuk menyisipkan selubung ideologisnya. Sehingga tidaklah mengherankan ketika banyak orang merasa bahwa kapitalisme itu sebagai sesuatu yang alamiah dan rasional. Oleh karena itu, langkah pertama untuk memberontak adalah dengan menggeser paradigma ini ke tong sampah!
Fenomena kehadiran komunitas-komunitas kecil yang menggiatkan penerbitan atau media independen adalah satu dari banyak varian menarik untuk membongkar kapitalisme. Industrialisasi ilmu dan pendidikan sekarang sukses menjalar keseluruh kelas sosial masyarakat. Kesalahan elementer pendidikan hari ini yaitu keyakinan bahwa interaksi dan esensi manusia digiring pada relasi industrial dan dunia kerja yang gilang-gemilang. Akhirnya menjamurlah penerbit-penerbit mainstream yang ikut memapankan dominasi sistem. Toko buku dan penerbit seolah berlomba untuk menelurkan karya yang memformulasikan gagasan pentingnya menjadi kaya, eksekutif muda, mengelola uang, menyusun strategi pasar atau yang paling dahsyat bagaimana mencetak mental anak-anak untuk bergaul dengan benda yang disebut dengan uang. Ditengah kondisi ini semangat penerbitan indie berusaha menawarkan alternatif lain. Kemandekan dan kehancuran mental serta spiritual harus dibenahi lewat asupan pendidikan yang tentu saja mempunyai roh konstruktif. Hal ini menjadi bagian penting dalam rantai pendidikan humanisme.

Kapitalisme informasi dan penerbitan indie.
Dari fakta yang ada, lebih dari 70% distribusi informasi dunia dipasok dari media-media mayor, seperti CNBC, ABC, REUTERS, AP & UPI, AFP. Itu adalah sederet penguasa informasi yang kemudian bertujuan untuk mendorong homogenisasi perseptual. Dengan kata lain adalah niscaya untuk menyeragamkan cara pandang kita dalam memahami sesuatu. Contoh konkret, manipulasi propaganda AS dalam perang global melawan terorisme. Lalu terbentuklah paduan suara sangau dari banyak negara yang turut mengamini bahwa ancaman global sekarang adalah terorisme. Padahal yang paling fhobia dan paranoid atas terorisme justru cuma AS sendiri. Disinilah diperlukan suatu gagasan untuk membendung dominasi informasi yang selalu memanipulir kesadaran kita. Dilain pihak kita diperhadapkan pada massifnya regulasi menyangkut hak cipta. Persoalan paling mendasarnya adalah hadirnya kecenderungan untuk mengkomoditaskan buku dan ilmu pengetahuan. Walhasil kita menemui tembok tinggi untuk mengkonsumsi buku atau informasi. Khusus untuk copyright, ia hanya kamuflase dari industri pendidikan. Dalih bahwa kekayaan intelektual wajib diapresiasi dan dilindungi sebenarnya Cuma retorika tahun dua sejak hak cipta dimanfaatkan sebagai instrumen mengeruk laba secara tersembunyi dan sistematis  
Penerbitan merupakan bentuk perlawanan anti-kapitalisme dalam jalur yang berbeda. Gerakan ini meyakini bahwa akses atas informasi dan ilmu penegetahuan adalah hak setiap orang. Perlawanan atas kapitalisme harus mampu membalikkan logika dasar kapitalisme itu sendiri. Jika kapitalisme menghargai segala sesuatu termasuk ilmu dan informasi dengan uang, maka ia harus dibalik lewat usaha buku murah atau penerbitan gratis. Salah satu contoh kasus menarik adalah mencuatnya media yang disebut funzine. Media zine telah dikenal jauh sejak 1930-an. Zine yang berarti media, merupakan media independen yang pada awalnya dibuat terbatas untuk isu atau wacana tertentu yang digemari saja. Misalnya pada tahun 1930 terbit The Comet yang mengulas isu fiksi ilmiah, semisal “chemistry and atomic theory” dan “what can be observed in a small telescope” di amerika serikat. Kemudian menyusul Time Traveler yang terbit pada tahun 1932. selain itu zine juga menjadi medium untuk menumpahkan kegemaran akan musik tertentu. Untuk kategori rock, lahirlah Who Put The Bomp (1966) yang pernah begitu terkenal di California. Pada pertengahan 1970 yang notabene zaman berkembangnya subkultur punk. Juga didukung oleh penerbitan zine yang cukup massif maka terbitlah Punk pada tahun 1976. Subkultur yang terkenal dengan filosofi “do it yourself”nya ini kemudian tidak hanya mengupas hal seputar resensi album, band punk, liputan konser, atau artikel punk saja, tapi juga mulai mendobrak gaya lama lewat tulisan-tulisan politis yang berisi kritik dan hujatan atas kemapanan sistem
Di Indonesia sendiri zine baru masuk dan berkembang pada dekade 1990-an yang dibuat dan beredar dikalangan underground. Human Waste (1994) di Yogyakarta atau Brainwashed (1995) di Jakarta. Uniknya, zine hanya dibuat lewat kertas A5 atau A4 dengan menggunakan sistem khas, yaitu gunting dan tempel, dengan jumlah halaman 15-20 lalu diperbanyak dengan mesin fotokopi. Akhirnya didistribusikan secara gratis! Ada hal menarik yang bisa kita telaah disini. Secara filosofis, keseluruhan proses pembuatan hingga penggratisan distribusi zine sesungguhnya memegang tegus prinsip resistensi atas kapitalisme. Kemudahan serta aksesnya yang tanpa uang adalah manifestasi dari tindakan anti komersialisasi yang selama ini diusung oleh ideologi dominan tersebut.
Selanjutnya zine seperti Kontaminasi Kapitalis yang terbit di Bandung, dianggap sebagai zine politik pertama di Indonesia yang kemudian masih berkembang sampai sekarang. Tentu saja ia berisi ulasan serta diskusi menarik seputar gerakan, lifestyle, budaya pop atau kritik atas tatanan hegemonik dewasa ini. Secara umum terbitan semacam ini, setidaknya telah menyisakan sebuah harapan dan antusiasme bahwa kemandirian dan independensi sangat mungkin dibangun. Sebuah prinsip yang cukup berani ditengah kelatahan dan ketergantungan pada kekuasaan modal hari ini. Sementara itu dalam konteks kampus, pers mahasiswa wajib terbangun dari tidur panjangnya. Hibernasi keberanian dan daya kritis pers mahasiswa adalah problem pokok yang sekarang menghantui sebagian pers mahasiswa. Padahal secara historis, gejolak perjuangan kemerdekaan negeri ini juga ikut diwarnai oleh kontribusinya yang cukup signifikan. Pers mahasiswa perlu kembali meninjau dan mereposisi orientasi jurnalismenya.  Secara organisasional dan model  pemberitaan pers mahasiswa diharapkan dapat memberikan alternative. Yup, setidaknya ditengah kedangkalan pers yang hanya memuat ilusi dan sampah informasi bagi kelompok tertentu.
Jagad penulisan di Indonesia juga pernah diwarnai oleh kiprah Insist (yang dulu, coy) yang pernah meletakan diri sebagai salah satu penerbit yang beroposisi terhadap tirani negara dan arus neoliberalisme di Indonesia. Lewat pembahasan yang tajam dan kritis serta harga yang relatif terjangkau, Insist muncul sebagai terobosan signifikan untuk mendorong transformasi sosial. Salah satu kelompok yang mengintrodusir sekaligus meramaikan debat wacana dan agenda neoliberalisme di inidonesia bisa dikatakan buah kerja kawan2 di insist. Dari sanalah ide-ide segara nan kritis mulai bersemai. Tradisi ini kemudian dalam beberap tahun terakhir banyak diadopsi oleh sejumlah penerbit kecil. Tema tema perlawanan dan politik kritis kini menjadi hal yang tidaklah terlalu sulit dijumpai. . Dewasa ini, seiring kemajuan internet yang melesat bak kilat, kita dapat melihat sejumlah media maya baik dalam bentuk situs maupun blog. Salah satu yang paling menonjol dan terkenal adalah democracy now. Situs ini adalah manifestasi dari radio bernama serupa yang diasuh oleh amy goodman. Dianggap sebagai salah satu media dengan model jurnalisme kritis dan konsisten. Banyak ulasan dan analisa menarik disana terutama untuk tema-tema seperti ekonomi, politik, budaya, hingga perang. Lebih jauh, democracy now Disambut cukup hangat karena kolomnya diasuh oleh sejumlah figure ternama dalam dunia gerakan sosial. Disisi lain, kehadiran sejumlah blog yang dibuat baik oleh individu maupun kelompok ikut meramaikan gerakan media indie. Gejala yang cukup positif dan penting diapresiasi.
Secara umum pemahaman akan esensi penerbitan independen tidak bisa dilihat secara terputus. Gerakan ini ternyata berdiri diatas kerangka kritis yang sangat ilmiah dan orisinil. Sikap untuk tidak ingin patuh atau didikte oleh penerbit besar menyangkut komposisi atau perspektif ulasan adalah salah satu alasan utama mengapa ia harus tetap otonom pada diri dan lingkungannya.
Viva media alternatif!
Salah satu pemikir penting abad 20, antonio gramsci, meyakini bahwa tatanan hegemonik kapitalisme dan konsensus buta dibaliknya dapat dilawan melalui pembangunan propaganda yang menitikberatkan pada counter wacana. Blok kekuatan minor mesti mendorong lahirnya media alternatif untuk memunculkan keberimbangan persepsi sebagai salah satu prasyarat fundamental dalam resistensi. Pada konteks ini, kita memerlukan konsolidasi menyeluruh yang mengarah pada perluasan wacana dan mesin propaganda baru bagi kelompok yang tersisih.
Beberapa keunggulan media alternatif yaitu, kita dapat mendesain setting dan arah media dalam kerangka kemerdekaan berpikir. Hal ini dapat dijabarkan pada bentuk penulisan yang dipersenjatai dengan perspektif kritis. Ada kebebasan dalam mengeksplorasi tema dan analisis sehingga pembaca dapat digiring pada paradigma lain untuk membaca persoalan sosial. Keunggulan ini praktis tidak dapat ditemui pada berbagai media mainstream yang cenderung selalu mendistorsi dan memanipulasi informasi. Sebagai contoh ada berapa orang dalam masyarakat yang mampu memahami terminologi seperti bursa efek, inlasi, devaluasi, kurs valuta asing atau istilah yang sangat familiar sekalipun seperti globalisasi atau politik. Khusus untuk dua hal terakhir kebanyakan orang menafsirkannya secara dangkal dan parsial tanpa mampu menagkap apa yang menjadi esensi dibaliknya. Pada prinsipnya kita hidup dalam dunia yang dijejali dan dikepung oleh informasi tapi kita seakan kehilangan makna atas itu semua.Dengan demikian, media alternatif diharapkan menjadi embrio dan pilar pendidikan yang emansipatoris dan berpihak. Penerbitan indie tidak hanya akan terfokus pada kampanye gemar membaca namun juga berusaha memajukan level kesadaran kritis pembaca. Kita dapat kembali mengkaji apa dan bagaimana asal-usul negara dan politik, menelaah kebijakan pemerintah, merekonstruksi makna globalisasi, merombak peran televisi dan mengabolisi citra palsu konsumerisme atau bahkan kembali mempertanyakan eksistensi keseluruhan sistem yang ada sekarang. Kesemuanya hanya mungkin kita capai dari visi dan komitmen kita untuk mengambil peran lebih dan berhenti untuk terus menjadi penonton setia terhadap sandiwara konyol kapitalisme.

...dengan sejumlah revisi dari tulisan lama. postingan lain untuk menutupi produktifitas menulisku yang kacau balau,hehe
pukul :12:41
olympia_rancid

2 komentar:

  1. luarbiasa ulasannya boss, padat banget ...

    say tertarik mendiskusikan ini ....

    BalasHapus
  2. Tulisan menarik. Bagaimana dengan jumlahnya. sudah terdatakah ? Berapa banyak jumlah penerbitan Indie yang ada di negara kita (yang menyebar di berbagai penjuru Nusantara) ? Mohon informasi, atau bisa disebutkan harus mencari kemana datanya ? Terimakasih.

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.