judul

resensi ishmael

Kira-kira 2 tahun yang lalu beberapa kawanku merekomendasikan sebuah novel berjudul Ishmael. Semuanya sepakat bahwa novel tersebut sangat bagus terutama kontennya yang sarat dengan pesan dan sudut pandang baru dalam memahami kehidupan. Namun hal tersebut tidak membuatku bergeming. Pertama, saya memang bukan penikmat karya sastra tulen dan yang kedua waktu itu saya lebih banyak mengkonsumsi bacaan diluar sastra. sampai sekarang jumlah novel atau cerpen yang habis saya baca mungkin masih bisa dihitung jari. Itupun hanya karya yang memang “ngepop” dan “standar” (bukan karena kualitasnya tapi karena banyak sekali orang yang telah membacanya) semisal dunia sophie, alchemist, 1984, dan kumpulan cerpennya leo Tolstoy.. Yang paling saya ingat bahwa novel ismael bercerita tentang upaya untuk menyelamatkan dunia.
Pada dasarnya saya memendam hasrat untuk membaca Ishmael. Keinginanku bertambah kuat sejak testimony beberapa orang yang baru saja membacanya. Tapi lagi-lagi saya tidak benar-benar serius merealisasikannya. Bagi saya Ishmael dapat ditunda terlebih pada saat yang hampir bersamaan saya juga dikubur oleh perampungan study dan menjadi buruh berdasi,hehe

January lalu niar membeli Ishmael. Dan sim salabim! “ niar memutuskan untuk memberikan novel tersebut pada saya!” minggu lalu kiriman novelnya sampai dikost. Tentu saja saya sangat gembira selain fakta bahwa novelnya hadiah dari niar,hehe. Kesan bahwa novelnya memang menarik juga diakui niar. Sayapun semakin terpacu untuk membacanya.
Novelnya ditulis oleh Daniel Quinn setebal 356 halaman. Ishmael sendiri adalah nama gorilla yang menjadi karakter utama dari novel ini. Saya tidak tertarik sekaligus tidak mampu mengomentari segi penulisan baik alur, diksi, plot atau hal-hal sejenis (ini namanya tahu diri coy,hehe) tapi saya cukup bersemangat membahas konten dan perspektif dari ceritanya. Saya harus bilang bahwa Ishmael adalah novel yang luar biasa. Bahkan mungkin saja novel ini lebih mirip kuliah atau semacam kontemplasi. Hhmm, seserius itukah? Yup, setidaknya itulah yang saya rasakan. Ishmael merupakan manifestasi langsung dari sejarah tua peradaban manusia. Jangan berharap akan menemukan kronologi historis berikut fase-fasenya karena Ishmael murni refleksi terhadap perjalanan panjang spesies bernama homo sapiens (setidakanya jika kita sepakat bahwa kita adalah salah satu spesies dari rantai kehidupan). Cerita novel bertumpu pada dialog telepatik antara seorang lelaki dengan si Ishmael, yang mengingatkan kita pada model Socrates dialogue. Perbincangan mereka berbasis pada tinjauan kritis atas proses peradaban manusia moderen yang konon dianggap beradab.
Deskripsi dalam Ishmael diawali oleh pertanyaan-pertanyaan sederhana dengan semangat dekonstruksi yang meluap-luap. Mempertanyakan kembali keseluruhan bangunan peradaban manusia modern menjadi target utama Daniel Quinn. Lewat dialog panjang, perlahan, dan terarah novel ini seakan berusaha menggali absurditas dan anomaly realitas harian kita. Apakah kehidupan kita kini layak dan pantas dipertahanakan? Itulah kunci yang ditawarkan Ishmael untuk membuka sejumlah dogma purba yang telah lama tertanam dalam kepala kita. Lebih tepatnya mitologi. Novel ini mengkrtik budaya berpikir manusia yang seolah-olah ilmiah. Setiap dari manusia modern adalah pelaku dari cerita besar peradaban yang sayangnya tidak pernah diselidiki. Sehingga novel ini sendiri sejenis investigasi pada mitos-mitos dan kemapanan peradaban modern.

Pesona novel ini dibentuk oleh beberapa hal berikut ini, pertama, istilah unik yang dipakai oleh sang penulis. Kebudayaan adalah kata yang digunakan untuk mewakili segenap aktifitas manusia. Kenapa harus kebudayaan? Kenapa tidak menggunakan kata seperti system, tatanan (order), peradaban,atau istilah –istilah familiar yang kerap kita jumpai dalam diskusi,buku, jurnal, media,dll? Alasannya sangat sederhana, yaitu fungsi kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan-lebih tepatnya kebudayaan induk- bertindak selayaknya ibu, induk, atau pengasuh yang membesarakan, mendidik, dan menjaga anak-anaknya (generasi). Darisinilah justru problem itu muncul. Kondisi kemapanan dan keharmonisan yang dijaga oleh kebudayaan ini lebih mirip proses hegemoni. Hampir tidak ada orang berani dan mau menelusuri secara jernih realitas. Kita terlalu sibuk oleh buaian dan ilusi-ilusi yang yang dijajakan tanpa henti. Akan tetapi, novel ini justru berupaya melangkah melampaui itu. Artinya, hegemoni dan dominasi justru tidak muncul sebagai persoalan primer tapi justru hukum-hukum kebudayaan itu sendiri. Bahkan ketika hendak mendorong transformasi sosial yang lebih humanistic, ternyata itu belum cukup! Lho, sebenarnya apa yang salah? Mekanisme kerja peradaban modernitas dituduh sebagai sumber dari seluruh kekacauan yang terjadi. Setiap usaha manusia modern selalu mengulangi pola yang sama yakni konfrontasi langsung terhadap hukum kehidupan. Dalam konteks ini, penghancuran ekologi adalah dampak terbesar dari eksistensi kehidupan manusia di bumi. Mari kesampingkan pembangunan ala kapitalisme lewat proyek industrialisasi, pertambangan, arsitektur mewah, instalasi nuklir, teknologi transportasi dan komunikasi,dll. Anggap saja revolusi berhasil dan kita akan memualai segalanya dari awal. Apa yang akan dilakukan? Kemungkinan terbesarnya adalah repetisi tadi. Yup, penggunaan instrument teknologi sebagai basis utama kehidupan kita. Hal tersebut jelas merefleksikan bahwa satu-satunya hal penting di dunia adalah keberlangsungan manusia itu sendiri, bukan spesies lainnya. Kita mungkin akan membayar kesejahteraan dan kebaikan kita lewat pengorbanan dan kemunduran bidang lain terutama daya dukung lingkungan. Dan gejala destruktif yang terjadi adalah wajar, dapat ditolerir dan diamini selama kita manusia, dapat terus menikmati kehidupan. Dekadensi kebudayaan modern secara ilmiah memproduksi ketakutan akan punahnya spesies manusia. Kita tumbuh dalam kalimat takdir bahwa dunia hanya diciptakan untuk manusi. Manusia sepenuhnya berhak untuk menaklukan dan menguasai dunia. Segala yang ada didunia adalah property kita, kapan saja dapat kita eksploitasi. Dengan demikian, segala hal yang diklaim sebagai progress pada saat yang bersamaan adalah jurang kehancuran, sesuatu yang berakibat fatal, dan mengarahkan kita pada kehampaan atau ketakbermaknaan. Adiksi terhadap obat-obatan, depresi, fobia, dan fanatisme merupakan gejala langsung dari lelucon peradaban kita. Mari kita tengok penyakit-penyakit modernitas, gila belanja, berhala kekuasaan, komodifikasi, kejahatan seksual, pembasmian etnis, dan sebagainya adalah tontonan lazim hari ini. Inilah yang disebut Ishmael sebagai penjara kebudayaan. Penjara modernitas yang tidak terlihat, tidak berbau, dan tidak dapat dirasakan atau tanpa jeruji.
Yang kedua, kebudayaan kita begitu memuja keseragaman. Kehidupan yang homogen adalah indicator normalitas dan kemajuan kita. Kompetisi dalam masyarakat kita diwarnai oleh dominasi dan ketunggalan perspektif. Hal ini terjadi begitu lumrah dilihat baik secara kasat mata maupun yang tersembunyi. Yang paling sederhana adalah lifestyle atau halusinasi kita akan mimpi-mimpi selebritas. Tengok saja beragam kontes atau acara TV yang menawarkan kesuksesan instan lewat ukuran yang minim kualitas dan pendidikan. Kegilaan kita pada acara-acara reality show sungguh menakjubkan, kita ikut terharu, bangga, bahkan begitu marah-indonesia idol, penghuni terakhir, Indonesia mencari bakat,dll-. Akan tetapi yang paling menakutkan menurut Ishmael justru cita-cita kemajuan manusia itu sendiri. Kemajuan dalam kamus kita adalah semacam ideology yang menjadi standar tunggal. Dipaksakan ke orang lain dan ditempat lain. Segala sesuatu yang berbeda dan bergerak diluar logika hukum dan system mainstream adalah keliru. Sehingga perlu diluruskan dan diarahkan ke kiblat yang sama. Dalam hal ini adalah modernitas. Yup, modernitas telah menjelma menjadi surga dan satu-satunya tujuan seluruh masyarakat di dunia. Analisa Ishmael mengingatkan saya pada asumsi-asumsi pokok postmodernisme atau studi postcolonial. Sejak abad renaissance, ekspor nilai modern yang diwakili oleh arus eropa begitu gencar. Hal ini terlihat pada beragam lini kehidupan. Segala sesuatu yang belum dan tidak modern itu tidak beradab dan mundur. Makanya, ekonomi harus diatur lewat regulasi pasar bebas a.k.a kapitalisme, system politik harus berdasarkan trias politica, industrialisasi menjadi opsi paling penting, sains kita mesti saintifik bin positivis, kultur individualism seakan menjadi trend. Apa yang terjadi di barat wajib eksis di belahan dunia lain. Penjara kebudayaan kita telah menjebloskan sejumlah masyarakat adat dan kebudayaan asli demi alasan kemajuan. Penyebaran nilai-nilai tersebut dibangun oleh serangkaian kolonialisme baik dalam bentuk perang maupun hegemoni. Ruang privat dan keunikan-keunikan tertentu tiap hari dihajar oleh kebisingan roda industrial dan kekuasaan. Hampir tidak ada kebebasan disana. Apakah semua orang butuh ini? Belum tentu. Namun sebaliknya, orang akan menjawab iya. Tapi pakah persetujuan kita ini murni dari kesadaran atau hasil cangkokan? Gramsci telah memperingatkan kita bahwa kepatuhan kita bukan hanya dipaksakan dari luar tapi pada gilirannya kita sendirilah yang akan memintanya. Kita yang akan secara rela bersedia dikontrol. Lalu apa dampak dari semua ini? Silahkan lihat sendiri…
Yang ketiga, adalah penyelamatan dunia,hehe. memang terdengar agak heroic tapi kondisi objektif nampaknya membuat orang harus bepikir ulang. Kembali meninjau bahwa arah kebudayaan kita sebenarnya sedang menuju lubang hitam. Sebagaimana dinyatakan oleh Ishmael “kebudayaan kalian sedang terjun bebas menuju kehancuran”. Namun begitu, novel ini menolak tuduhan bahwa manusia pada dasarnya berwatak jahat seperti klaim Thomas hobbes dlm leviathan. Kita masih punya harapan. peluang kita terbuka sangat lebar untuk merestorasi kerusakan yang terlanjur terjadi. Tapi apakah saran dari Ishmael? Simak kalimat berikut :

“yang krusial pada upaya kalian bertahan hidup sebagai ras bukan berkaitan dengan redistribusi kekuasaan dan kesejahteraan di dalam penjara, melainkan lebih kepada penghancuran penjara itu sendiri”

Pernyataan diatas sungguh menohok. Bergaung serupa seruan revolusioner di abad 19 dan 20. Namun apa yang dihimbau oleh Ishmael menurut saya punya landasan nilai yang agak berbeda dengan tradisi sosialisme misalnya. Semangat dalam Ishmael sangat kental pada sejenis tribalisme, primitivisme, atau gerakan lingkungan radikal yang dimana hal ini harus menjadi refleksi penting kita. Setiap pilihan kita harus berpijak pada hukum yang telah ada, yaitu hukum menyangkut keseimbangan kehidupan manusia dan alam. cheers

tulisan ini dipersembahkan untuk niar,hehe

Pukul : 12:51
Pulp_sorted for e’s and whizz

7 komentar:

  1. hehehehe. keren resensinya.
    saya selalu menunggu tulisan2 terbaru ta!
    thanks ma meeeeeeeeeen:D

    BalasHapus
  2. wakakakakaka..... kasiannya.... jadinya ma'lending di dunia maya dan seluler hahaha..... ini juga salah satu ciri manusia modern hahaha....

    tribalisme bukanlah primitifisme cuy...

    Ishmael memang BENAR toh???

    BalasHapus
  3. hhmm, it seems we could say so.. :)

    BalasHapus
  4. iriko haa Tinja Bersayap ????? wkwkwk

    BalasHapus
  5. nda' irija. cuma kayaknya moka belajar meretas blog. dan korban pertamanya adalah http://ceszvkunrsky.blogspot.com yang sungguh2 tak keren itu.... hahahahaha........

    BalasHapus
  6. ekekekeekke....hahaha....jadi lapar saya dan ingat seseorang karena buku ini :p

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.