judul

Setya Novanto, Oposisi Palsu, dan Mengingat Lagi Papua






Energy positif politik Indonesia telah lama menguap. Tak ada lagi semangat berdikari dan kritis. Sejak berakhirnya pemerintahan Soekarno Politik kita adalah panggung sandiwara yang buruk, meski Bulan madu sempat dirasakan ketika Gus Dur menjabat. Sinetron yang carut marut itu merupakan cermin politik tanah air. Bobot cerita dibawah standard, kualitas acting buruk, alur gampang ditebak dan hanya diarahkan untuk kejar rating dan iklan. Politik kita setali tiga uang. Bobot keberpihakan pada rakyat hampir tak ada, kualitas politisi ala barang bajakan, alur politik yang gampang ditebak bahkan sebelum mereka berkuasa dan hampir bisa dipastikan diabdikan untuk kepentingan segelintir pebisnis dan oligarki politik. Kedua-duanya teramat menyedihkan. Jika ada hikmah yang tersisa maka politik kini menjadi semakin personal. Semakin kesini politik terasa menjadi urusan sehari-hari. Isu dan perbincangan soal-soal di Senayan, Istana Presiden, dan daerah-daerah lain perlahan tak lagi punya jarak.

Bukan hanya pencitraan atau pengalihan isu tapi juga ekonomi-politik

"The smart way to keep people passive and obedient is to strictly limit the spectrum of acceptable opinion, but allow very lively debate within that spectrum." Noam Chomsky

Sistem proganda yang didesain oleh pemerintah, korporasi, berikut media-media partisan menghasilkan kanalisasi isu. Kanal ini berfungsi untuk membatasi atau mempersempit ruang dan cakupan perdebatan untuk kemudian dibiarkan mengalir deras didalamnya. Istilah yang sudah umum dikenal sebagai strategi pengalihan isu. Metode ini menghasilkan ilusi bahwa terjadi kebebasan berpendapat yang sehat dan aktif. Pada konteks inilah, politik kebenaran bekerja. Masalah dan kebijakan lain yang justru lebih krusial dilupakan. Meskipun begitu, tafsiran demikian dapat bekerja secara dua arah. Partai-partai politik yang beroposisi di parlemen juga memakai cara baca yang sama. Mereka selanjutnya akan menuding pihak status quo sedang menjalankan sandiwara dan pengalihan isu. Public sangat berpotensi masuk kedalam 2 perangkap ini sekaligus. Kasus Setya Novanto dapat digunakan sebagai salah satu sampelnya. Kontroversi “papa minta saham ini” secara sederhana dapat dikerucutkan kedalam 2 bagian. Bagian satu, mengarahkan perhatian pada kritik atas tindakan korup DPR dan anggotanya. Dan bagian dua, menyangkut standar ganda pemerintahan Jokowi pada Freeport.

Koalisi Internasional Melawan ISIS Dan Paradoks Yang Menyertainya





Serangan terror Paris yang diduga dieksekusi oleh ISIS pada jumat (13/11) lalu setidaknya membawa dua implikasi penting. Pertama, kemungkinan bergesernya peta geopolitik Barat di kawasan Timur-tengah. Kedua Paradoks politik dan kepentingan yang menyertai agenda perang melawan ISIS.

Probabilitas scenario baru Geopolitik Barat di Timur-tengah

Paska tragedi memilukan bom bunuh diri dan penembakan massal di Paris, Presiden Hollande secara resmi menyatakan akan adanya tindakan balasan (retaliation action) terhadap gerakan Negara Islam, ISIS, yang ia anggap mengobarkan perang (act of war) terhadap Perancis.  Betapa tidak inilah tragedi kemanusiaan terbesar di Perancis sejak berakhirnya perang dunia ke dua. Upaya yang akan diambil diprediksi akan jauh lebih aktif dibanding sebelumnya. Indikasi awal sudah terlihat lewat serangan udara Perancis pada minggu 15 November di kota Raqqa, Suriah 2 hari setelah aksi terror di Paris. Namun begitu, tindakan Perancis tersebut juga secara implisit merefleksikan dilema tersendiri.


Perancis pada prinsipnya kini berhadapan dengan pilihan sulit. Ancaman nyata aksi terror terhadap keamanan nasionalnya justru terkait secara langsung dengan sikap politik Perancis terhadap rezim Bassar Al Assad di Suriah. Dalam situasi ini, Perancis terbelit oleh afiliasi politiknya yang hangat dengan Arab Saudi. Relasi bilateral di bidang ekonomi antara kedua negara beserta rezim monarki kaya minyak seperti Qatar dan Bahrain sangat krusial. Disisi lain, Perancis adalah salah satu pemasok terbesar instrument-intrumen militer bagi Arab Saudi dengan nilai miliaran dollar AS. Pada bidang lain, Sejak 2012 Perancis dan Arab Saudi secara intensif menjalin upaya kolektif melawan rezim Bassar. Rivalitas politik antara kerajaan Saudi terhadap Iran telah mengendap begitu lama. Tarik menarik ini juga lah yang semakin memperuncing konflik Sunni-Syah di Timur Tengah. Iran adalah penyokong utama Suriah, sementara Arab Saudi bersama AS dan Perancis, dalam kasus ini, terkonsolidasi untuk menangkal keberlangsungan Suriah di bawah pemerintahan Bassar. Sebagai konsekuensinya, konflik ini termanifestasi kedalam dua kubu. Pertama, grup oposisi anti-pemerintah yang dibantu secara langsung dan tidak langsung oleh AS dan Arab Saudi, dan status-quo Bassar yang didampingi Iran dan Rusia. Lalu dimanakah posisi Perancis dalam pusaran ini? sederhana saja. Perancis ada di kubu pertama.

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.