Demi kompromi yang gagal dan tak berperasaan,
pilihan tinggal di Jakarta tak terhindarkan lagi. Cerita tentang ibukota memang
segunung. Dikisahkan dari mulut ke mulut. Setiap perantau disini hampir pasti
memiliki kesan yang tak jauh berbeda dimana sebagian besar isinya tak nyaman di
telinga,apalagi di hati tentu saja. Dari copet, rampok, polusi, sampah, hingga banjir.
Bagaimana dengan macet? Biasa saja sebenarnya. Banyak orang suka
melebih-lebihkan trademark Jakarta yang satu ini. kemacetan terlanjur menjadi
urat nadi baru para penduduknya. Kecuali memang pada fakta menyedihkan bahwa
sepereempat hidup seseorang bisa habis di jalan raya.
Budaya
pop tanah air melahirkan kata ibukota sebagai sinonim ibu tiri. Salah satu
indikasi betapa istimewanya kota kelahiran si Doel ini. namun begitu, terus
membahas masalah di Jakarta terasa membosankan. Pertama, sudah banyak sekali
orang mengetahuinya. Dan kedua, secara sosiologis Jakarta cukup mirip dengan
kota-kota lain di Indonesia. Arus deras teknologi dan ekonomi membuat batas
antara corak social masyarakat urban dengan kakaknya di area rural semakin
luruh. Bedanya adalah Jakarta terlebih dahulu naik kelas dan bergerak lebih
cepat. Sementara yang lain masih berlari-lari kecil.
Konon
banyak hal harus diperjuangkan di Jakarta. Contoh terdekat adalah Komuter. Mode
transportasi murah dan cepat ini adalah miniature medium pertempuran. Sejak awal
masuk sampai berada didalamnya mensyaratkan kesiapan fisik dan mental. Hal serupa
juga terlihat pada Transjakarta. Di Harmoni, Halte Terbesar Transjakarta, ujian
kesabaran lebih sulit lagi. Antrian sesak nan panjang menanti. Parfum dan
fashion tak banyak berfungsi. fokus
setiap orang tertuju pada pintu masuk bukan pada segenap khakis dan atribut
penampilan. Wangi parfum menghilang oleh keringat yang diproduksi lebih banyak
akibat berdeseak-desakan. Halte pengap lalu menjadi konsekuensi logis. Saya sering
berpikir barangkali kecantikan Dian Sastro akan berkurang separuhnya jika berada
disitu. Disisi lain, Pejalan kaki pun tak luput dari ujian. Badan jalan dan
trotoar di beberapa lokasi adalah tempat parkir cadangan. Mereka yang berjalan
seringkali berhadapan dengan kebebalan dan arogansi semacam ini. harus diakui
pesona Jakarta memang unik. Terlepas dari kesemrawutan diatas, Jakarta menawarkan realitas yang boleh jadi berguna dalam beberapa hal.
Jakarta
mentransformasikan dirinya sedemikian rupa sebagai ajang kaderisasi. sejenis pusat penggemblengan. Tempat menempa
diri agar lebih disiplin, terorganisir, dan super individualis. Mari hapus hal
terakhir dan beralih kedua hal sebelumnya. Kapitalisme urban paripurna hidup di
Jakarta. Tanpa etik dan perilaku yang mendukungnya garansi kekalahan sudah
pasti didepan mata. Bangun tidur sebisa mungkin jam 5, paling terlambat adalah
jam 6, itupun hanya berlaku untuk sedikit profesi tertentu saja. Cekatan, responsive,
rajin, dan tahan terhadap terik matahari berikut polusi. Botol air terisi
penuh, bekal makan, dan usahakan langkah kaki lebih cepat dari biasanya. Lupakan
waktu tidur 8 jam dan keberlimpahan waktu ala kampung. Sejumput kemerdekaan
hanya tiba di akhir pekan. Kesemuanya
ini menjadi syarat penting melewati hari. Budaya slacker ala hipster atau
bohemian digilas hingga gepeng. Waktu adalah uang atau No free lunch mewakili
secara tepat denyut kota Jakarta. Kenyataan tersebut kontras dengan Yogyakarta,
yang juga oposisi paling pas bagi ibukota. Maka celakalah saya yang pernah bermalas-malas-an
cukup lama di kota itu…
Demikian
belajar menulis untuk hari ini.
Gang
kramat sawah, oktober 2015
Dangdut
mengehentak kuat dari rumah sebelah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar