judul

Perihal Narsisme Pada "Come As You Are"



Sekitar 2 bulan yang lalu berjumpa dengan gambar diatas. Diunggah oleh majalah music yang saya ikuti lewat fessbuk. Saya kebetulan baru mengetahui kalau papan ini telah lama dibuat,sejak 2005. Saya sangat menyukainya. Sungguh. Foto tersebut mengirim elemen penting yang wajib dimiliki oleh foto lain. Bukan dalam perkara estetika, tekhnik pengambilan,komposisi, cahaya,dan sebagainya namun pada aspek instrinsiknya. Konon foto dipandang hebat apabila mampu bercerita lebih kuat dan lugas dibanding ribuan kata. Dan bagi saya kutipan foto ini mewartakan dua hal sekaligus. Pertama, ia sedang berbicara tentang trio grunge paling berpengaruh dalam sejarah music. Aberdeen adalah sebuah kota di negara bagian Washington, AS,yang menjadi daerah asal sekaligus kelahiran Kurt Cobain- Papan selamat datang ini merupakan bentuk tribute terhadap Kurt dan Nirvana-. Kedua, ia berhasil menjadi jembatan antara pikiran dengan kenyataan. Efek proksimitas yang ditimbulkannya lumayan krusial. Untuk sesaat saya tergiring untuk tamasya ke masa lalu sambil tersenyum sendiri,heheh.


Saya pernah punya kenangan tentang Nirvana. Untuk menyukai grup ini tidaklah terlalu sulit pada masa SMA. Cukup banyak anak muda yang sangat menggemarinya saat itu. Poster, kaset, kaos, gantungan kunci relatif mudah saya temui. Sebagai ABG yang kerap tergiur oleh impresi cool atau keren, saya termasuk dalam rombongan tersebut. Sosok Kurt Cobain merupakan magnet utama pada fase introduksi dengan Nirvana. Quotenya yang termahsur “ I hate myself and I want to die” adalah semacam listrik yang menyengatmu seketika. Ada semacam misteri yang terus memaksa untuk mencari tahu. Mengapa ada orang membenci dirinya sendiri dan ingin mati? Anehnya frasa itu terdengar keren. Saya sering menatap Cobain berlama-lama ketika singgah di lapak kaki lima yang menjual poster. kebetulan pasar senggol di kampung saya tidak jauh dari rumah. Saya penasaran kenapa ia bunuh diri.

Akhirnya saya membeli album nevermind setelah kepincut  dengan intro smells like teen spirit. Tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan Nevermind. Saya memutarnya hampir tiap hari, frekuensinya hanya kalah dari Sheila on 7 yang memang saya gemari sejak SMP. Ritual saya adalah selepas makan siang, berbaring masih dengan seragam di kamar, diputar sekitar jam 3 sampai setengah 5 sore, dan volume kencang 75 %. Saya mempunyai dua lembar kaos bergambar kurt Ditambah dengan album MTV Unplugged dan Greatest Hitsnya, saya resmi jadi fans kecil-kecilannya. Saya menyebutnya demikian karena saya Cuma suka mendengarkan music. Saya tidak tahu bermain gitar atau tidak tertarik belajar gitar secara serius. Alih alih terlibat dalam imitasi hidup ala Kurt - tapi saya mengakui bahwa dia memang terlihat keren. terutama cardigan yang sering dikenakannya,hehe-. lagipula tahun itu berjarak agak jauh dari masa booming mereka di awal dan paruh 90-an.

Waktu itu Nirvana masihlah sebagai hiburan semata. tidak banyak yang dapat digali di kota kecil saya. internet pun belum seramai sekarang. Saya belum tahu betapa massif pengaruhnya bagi budaya pop. Saya tidak tahu kalau Nirvana itu semacam kultus. Ikon kemarahan anak muda menentang kemapanan dan kebosanan ,katanya. Atau Kurt Cobain yang meledakan kepalanya sendiri akibat depresi kronis. Tentang rasa sakit,ambivalensi, frustrasi, dan hipokrisi yang sering ia tulis dalam lagu-lagunya. Saya murni suka dengan lagu-lagu Nirvana oleh alasan sederhana : sedap di telinga. Saya belum paham jika ternyata mereka punya posisi terhormat di kalangan indies. Dalam beberapa derajat bahkan dibaiat sebagai musisi sakral karena dampak yang dilahirkannya. oleh karena itu ranah pendiskusiannya tidak boleh asal-asalan. setidaknya begitulah kesan yang saya rasakan setelah sedikit baca sana sini di perantauan. Konsekuensinya adalah hadirnya kecenderungan pembedaan (diferensiasi) terhadap pendengar Nirvana. saya berpikir ini sedikit ganjil. pasalnya muncul kesan harus ada fit n proper test hanya untuk bisa menikmati musik. Umumnya tipologinya ada 2,satu, mereka yang ikut kerumunan karena latah (tampaknya saya ada disitu),dan berikutnya adalah golongan terhormat dan terdidik sebagai fans sejati. Jenis ini semacam punya otoritas tertinggi dan berhak mengklaim validitas menjadi jemaah Nirvana. Saya tidak tahu apa tolak ukurnya. Bisa jadi karena mereka merasa lebih depresif, lebih self-destructive,atau teralienasi dibanding para audiens yang ababil. remaja dan para pemula seolah harus menunggu sertifikat grunge dicetak yang entah oleh siapa. Eksklusifitas ini biasanya dirawat oleh hipster, indies, atau kritikus music. Kemungkinan besar saya keliru, tapi aroma fasisme gagasan sungguh tercium kuat disini. Mengklaim sebagai gerakan alternative tapi membangun polarisasi persis seperti dogma tentang ras Arya dan ras rendahan. Jangan bicara rasionalisasi atau filsafat sebab bagi mereka kultus kebebasan dan pembangkangan terhadap apa pun akan kau dapati sebagai justifikasinya. Tidak peduli kabur atau absurd, logika A=A adalah harga mati. Bahkan ketika subkultur (diklaim demikian) telah dijual eceran, proyek emansipasi tak boleh berubah perspektif. Harus tetap cool, minor, dan melampaui apa saja. Pelampauan dengan basis selera dengan jubah nihilisme. segenap penolakan akan terus bergelora dan boleh menabrak apa pun. Dengan modal kemuakan personal saja, banyak hal dapat berubah menjadi sirkus. cukup sulit bagi saya untuk memahami fenomena yang demikian. meski sangat wajar bahwa beberapa hal dalam hidup sulit dijelaskan secara terbuka dan rasional. Tetapi realitas kadang  tampak terlalu asing. apakah saya harus mengucap selamat datang di dunia dimana baik-tidak baik,bagus-tidak bagus selalu mengebiri benar-salah? Sampai disini saya berhipotesis bahwa wajah musik menjadi terlalu transendental. saya tidak menjumpai alasan penting mengapa segregasi menikmati Nirvana itu mewujud. justru yang tampil adalah dominasi baru. Tidak lebih baik dari monopoli selera bergaya korporasi meski keuntungannya berupa supremasi image keren.

Mungkin saja gejala ini mendekati narsisme,lebih buruk lagi narsisme dalam kaleng bercap alternative dan anti mainstream. Kalau si narcissus mengagumi dirinya lewat refleksi air kolam, golongan diatas mendapati bayangan dirinya yang indah lewat persepsi sosial. Hidup dari ketidaktahuan, kerendahan selera orang lain dan imaji cool. jika dibuat parafrasenya, maka kita sedang ada di sirkuit balap. a race to be cool as hell! Adakah krisis identitas diri mengemuka darisana?Entahlah. Saya sempat membaca beberapa seksi buku, Heavier than Heaven, biografinya si Kurt. Dia digambarkan sebagai figure yang kompleks. Dan kalau tidak salah ia membenci kemunafikan banyak penggemar musiknya. Semacam perayaan atas trend kebebasan yang berubah jadi lelucon katanya. Kurt menulis ironi tersebut dengan tepat lewat “Come As You Are”, suasana kontradiktif tentang ekspektasi seseorang untuk terbiasa menjadi orang lain. uniknya inilah yang menjadi warna paling mencolok realitas kaum muda urban. apa yang sebelumnya menjadi bahan tertawaan berubah sebagai konsumsi umum. Hipster yang harus kebingungan setelah kematian otentisitas dan kembali jatuh diatas pangkuan narsisme.

one of my most favourite album


Diatas hanya angin lalu. Boleh juga dianggap kentut. Tetapi yang paling mendekati adalah dalih akan ketidakmampuan dan mediokernya  selera music saya. Nah, untuk konteks Nirvana saya akan memilih tipologi pertama dengan senang hati. Untuk sekarang dan yang akan datang jika analisa keren dan tidak keren masih setinggi pohon tomat. Saya tetaplah mainstream karena lebih menyukai drain you dan lounge act dibanding seluruh track dahsyat side A, terutama anthem smells like teen spirit. Saya tetaplah mainstream karena lebih suka dumb,pennyroyal tea dan heart shaped box dibanding semua isi In Utero yang sulit saya nikmati. Saya menikmati lagu Nirvana melalui kepolosan telinga. Tidak butuh emblem, sticker, atau cap artifisial hasil selundupan orang orang tadi. Bukankah konsumsi Nirvana itu telah sedemikian massal nan mainstream?!Kali ini saya sepakat dengan ungkapan ignorance is a bliss!

Simpati dan solidaritas saya untuk kultur punk- hardcore puritan atau grup komunitas. Mereka lebih layak menjadi sidestream, underground atau alternative. Gagah berani maju dalam pertempuran karena punya tendensi politik. Terang dan benderang. Pengecuaalian saya adalah RATM,hahah.
Tabik.

Minggu,29 desember 2013
Pukul : 20:53
Green Day_jesus suburbia
P.S. : Saya juga ingin narsis tapi syaratnya otak saya harus secanggih Einstein. Tidak dengan cara-cara kampungan dan pengecut. Sebentar lagi 2014


2 komentar:

  1. "a race to be cool as hell" first-class indie hipster like this

    BalasHapus
  2. Spinning Steel vs Titanium Art - ITALIAN ART
    In micro touch trimmer addition titanium hair straightener to metal pieces from a titanium trim as seen on tv metal alloy, the Spinning Steel plate is the main design of an titanium jewelry piercing intricate bronze omega titanium sculpture

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.