Demi kompromi yang gagal dan tak berperasaan,
pilihan tinggal di Jakarta tak terhindarkan lagi. Cerita tentang ibukota memang
segunung. Dikisahkan dari mulut ke mulut. Setiap perantau disini hampir pasti
memiliki kesan yang tak jauh berbeda dimana sebagian besar isinya tak nyaman di
telinga,apalagi di hati tentu saja. Dari copet, rampok, polusi, sampah, hingga banjir.
Bagaimana dengan macet? Biasa saja sebenarnya. Banyak orang suka
melebih-lebihkan trademark Jakarta yang satu ini. kemacetan terlanjur menjadi
urat nadi baru para penduduknya. Kecuali memang pada fakta menyedihkan bahwa
sepereempat hidup seseorang bisa habis di jalan raya.
Budaya
pop tanah air melahirkan kata ibukota sebagai sinonim ibu tiri. Salah satu
indikasi betapa istimewanya kota kelahiran si Doel ini. namun begitu, terus
membahas masalah di Jakarta terasa membosankan. Pertama, sudah banyak sekali
orang mengetahuinya. Dan kedua, secara sosiologis Jakarta cukup mirip dengan
kota-kota lain di Indonesia. Arus deras teknologi dan ekonomi membuat batas
antara corak social masyarakat urban dengan kakaknya di area rural semakin
luruh. Bedanya adalah Jakarta terlebih dahulu naik kelas dan bergerak lebih
cepat. Sementara yang lain masih berlari-lari kecil.
