judul

Warga Baru Jakarta


Demi kompromi yang gagal dan tak berperasaan, pilihan tinggal di Jakarta tak terhindarkan lagi. Cerita tentang ibukota memang segunung. Dikisahkan dari mulut ke mulut. Setiap perantau disini hampir pasti memiliki kesan yang tak jauh berbeda dimana sebagian besar isinya tak nyaman di telinga,apalagi di hati tentu saja. Dari copet, rampok, polusi, sampah, hingga banjir. Bagaimana dengan macet? Biasa saja sebenarnya. Banyak orang suka melebih-lebihkan trademark Jakarta yang satu ini. kemacetan terlanjur menjadi urat nadi baru para penduduknya. Kecuali memang pada fakta menyedihkan bahwa sepereempat hidup seseorang bisa habis di jalan raya.

Budaya pop tanah air melahirkan kata ibukota sebagai sinonim ibu tiri. Salah satu indikasi betapa istimewanya kota kelahiran si Doel ini. namun begitu, terus membahas masalah di Jakarta terasa membosankan. Pertama, sudah banyak sekali orang mengetahuinya. Dan kedua, secara sosiologis Jakarta cukup mirip dengan kota-kota lain di Indonesia. Arus deras teknologi dan ekonomi membuat batas antara corak social masyarakat urban dengan kakaknya di area rural semakin luruh. Bedanya adalah Jakarta terlebih dahulu naik kelas dan bergerak lebih cepat. Sementara yang lain masih berlari-lari kecil.

Sayembara Baru



Ada sayembara baru.
lomba fitnah kini berhadiah surga. Peduli kambing dengan belajar.
Caranya mudah.
Jaga dosis sampah secukup mungkin. Semakin busuk semakin barokah
Kunyah puluhan kali lalu pindahkan ke mulut tetangga terdekat.
gunakan iman sesuai selera untuk penambah cita rasa.
Jika muntah ulangi dari awal.
Jika sakit berlanjut, segera ke apotek. beli fanatisme jenis generic
Yang paling sekarat adalah pemenang sayembara.

Terban, 28 September 2015

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.