Dalam salah satu kesempatan, seorang dosen melemparkan sebuah adagium “there is devil in details”, terjemahan bebasnya kurang lebih : berhati-hatilah dengan hal-hal kecil. Selalu selidiki dan berwaspadalah terhadap sesuatu yang kerap kali tak kasat mata atau laten. Begitu mendengarnya saya tersenyum sambil mengangguk, he’s damned right! Hehe..
Tanggal 26 kemarin, saya sempatkan diri menghadiri sebuah seminar,lebih tepatnya presidential lecture-setidaknya begitulah tertulis di bannernya. Rencanax, pak habibie, yup si jenius itu didaulat menjadi pembicara dengan dengan tema seputar bagaimana membangun kemandirian bangsa. Seperti biasa, semangatku harus kupompa berkali-kali untuk memaksakan langkahku kesana,hehe..sebelum kesana tidak sah rasanya tanpa segelas kopi bersama mas krist di kantin yang kebetulan letaknya tak jauh dari lokasi seminar.
Baik, ini adalah sejumlah alasan yang tersedia untuk mengikuti seminarnya, pertama, saya tidak pernah langsung mendengar kuliah pak habibie. kebetulan saya adalah satu dari banyak siswa di bangku SMP yang waktu itu sangat terkesima dengan cerita-cerita mengenai sepak terjang habibie. kedua, saya jatuh cinta dengan desain interior dan arsitektur gedung seminar. Cukup untuk membuatmu lupa bahwa 200 atau 300 meter dari situ ada banyak pengemis dan anak jalanan! Pada awalnya saya berangkat berempat tapi kami berpisah setelah sampai didalam ruangan karena dibuat bingung oleh kuantitas peserta yang membludak. Saya terpaksa mencari spot lain untuk duduk. Saya mendapat seat di lantai 2, cukup strategis untuk melihat dengan jelas wajah pembicara meskipun dari screen infokus J
seminar berjalan lancar. Habibie mengurai kondisi republik ini dari sudut pandang sebagai seorang saintis sekaligus pembuat kebijakan. Untuk hal pertama, deskripsinya adalah menu lezat yang tidak boleh anda lewatkan terlebih untuk saya sendiri. Ia menjelaskan sejarah dan tahapan perkembangan teknologi di Indonesia. Diawali oleh kebijakan soekarno yang mengirim sejumlah mahasiswa untuk belajar ke luar negeri (dan habibie adalah salah satu produknya). Saya tiba-tiba berpikir, mungkin saja dia sedang menyindir pemerintah sekarang yang terbelakang dan miskin visi pendidikan. Akhirny tahun1995 menjadi titik balik dari jerih payah riset dan penemuan teknologi Indonesia, dimana pada saat itu Indonesia sudah mampu memproduksi pesawat terbang (kalau tidak salah model CN 235, satu dari sedikit peswat di dunia dengan teknologi canggih pada waktu itu), kapal tanker, dan kereta api. Untuk sesaat saya tertegun, ternyata bangsa ini tidak seinferior klaim para orientalis atau setidaknya menghapus mitos keterbelakangan bangsa ini yang parahnya terus direproduksi oleh kita sendiri. Ya, kita sendiri. Cobalah untuk mengingat, ada banyak lelucon tentang kebodohan orang-orang Indonesia. Atau yang lebih memuakkan adalah pidato para petinggi Negara yang terus membual bahwa kualitas sumber daya manusia kita masih rendah. Anggapan ini jelas salah total jika ukuran kita adalah sains barat (yang katanya sangat ilmiah) beserta kebijakan pendidikan negara yang salah urus sekaligus represif. Dalam pemaparannya ini habibie terlihat seperti figure yang untouchable,dan memang begitulah adanya. Mr. crack (sesuai dengan nama teori baru yang ia temukan) begitu julukannya, adalah salah satu pakar terkemuka teknologi dunia (yang membuatku terlihat seperti seorang idiot di depannya,wkwkwkwkwk)
Sekarang kita ke beralih ke bagian kedua. Naah, untuk yang satu ini habibie perlahan mulai menjadi sosok “biasa” bahkan teramat “biasa”. Superioritasnya mulai memudar, setidaknya dalam perspektifku. Dia berulang kali menegaskan bahwa kemandirian bangsa wajib di bangun dari pembangunan sains dan teknologi. Pendidikan kita harus berbasis pada penciptaan nilai tambah. Nilai tambah ini adalah sinonim dari profit. Orientasi dan strategi kebijkan ekonomi Negara perlu melihat dan memanfaatkan peluang-peluang industrial yang bersumber dari kecanggihan teknologi. Untuk sampai pada fase ini, maka menurutnya, pemerintah harus mendukung pendidikan nasional lewat subsidi dan proteksi terutama untuk industry nasional. Beberapa kali habibie secara implicit seperti mengutuk rezim yang menelantarkan IPTN. Selanjutnya, ekonomi Negara harus memprioritaskan pertumbuhan unit unit usaha skala besar terutama teknologi. Apa yang bisa saya tangkap dari eksplanasinya adalah seolah-olah habibie berusaha mengarahkan kiblat ekonomi kita sepertri Negara-negara maju. Mungkin dalam hal ini jerman, yaitu Negara yang menyuntikan dukungan luar biasa terhadap pendidikan dan sainsnya (kebijakan tipikal Negara-negara berhaluan social democracy).
Namun begitu, seperti adagium yang saya kutip diawal, detail-detail tersembunyi kerap kali sangat berbahaya jika ditiadakan. Hasrat untuk mengakselerasi kualitas dan kuantitas perkembangan teknologi ternyata dalam banyak hal cenderung berbahaya. Fakta paling sederhana, ialah kehancuran ekologis dalam skala massif. Hal ini justru terlihat paradox dengan prinsip sains untuk kebaikan umat manusia (yeah, selalu manusia bukan yang lain). Bahkan lebih lucu lagi kampanye penggunaan teknologi dan energy terbarukan tidak menyelesaikan apa-apa. Kita perlu sabar menunggu meski disaat yang bersamaan kerusakan lingkungan bergerak lebih cepat. Akan tetapi, para saintis itu punya justifikasi bahwa mereka harus terus melakukan observasi dan penelitian lebih lanjut. Alasan ini terbantahkan karena system ekonomi capital tidak pernah menyetujui bahwa redundancy (keberlimpahan) dari energy alternative karena merupakan musuh utama dari ekonomi capital. Logikanya sangat sederhana, minyak bumi mahal karena jumlahnya sedikit serta aksesnya terbatas. Bayangkan kebalikannya, anda akan menemukan kondisi dimana para kapitalis itu tidak bisa menjual sesuatu karena semua orang punya akses mudah terhadap sumber energy tadi.
Sebenarnya yang paling ingin saya gugat dari ceramah habibie adalah hilangnya analisis ekonomi dan sosiologis. Saya tidak akan menulis banyak soal ilmu pengetahuan yang terdistorsi, politis, ideologis, dan sejenisnya karena pasti sudah banyak yang mengetahuinya. Habibie mungkin lupa (atau mungkin ridak tahu) bahwa system ekonomi ini sangat rapuh dan mengidap kanker sangat parah. Mari ambil contoh, praktek ekonomi di Negara-negara maju yang menurut habibie berbasis teknologi. Selama dan sesudah perang dingin beberap Negara dibelahan barat bumi melaju sangat cepat. Penemuan teknologi-teknologi baru menjadi hal yang sangat biasa. Kompetisi di bidang kecanggihan teknologi IT, transportasi, otomotif, mesin, bahkan astronomi telah menjelma sebagai ujung tombak kemajuan ekonomi dan symbol kemajuan peradaban sebuah Negara. Tingkat kesejahteraan atau hidup layak terus meningkat walaupun dengan tumbal ekspansi pasar ke Negara-negar miskin. Namun kerangka dasar dari fenomena ini justru dilupakan. Kapitalisme yang kemudian berevolusi menjadi neoliberalisme, secara esensial merupakan motor penggeraknya yang utama. Kehadiran teknologi baru adalah upaya untuk terus merevolusionerkan alat-alat produksi baru sehingga akumulasi profit menjangkau level maksimalnya sekaligus salah satu cara memperpanjang nafas kapitalime. Keadaan bertambah parah karena pada saat yang bersamaan corak produksi kapitalisme mulai meninggalkan modelnya yang konvensional dari produksi sederhana, lalu produksi fordisme, hingga pasca-fordisme. Selain itu era sekarang juga ditandai oleh gelombang finansialisasi dan bentuk moneterisme yang sangat kuat. Hal-hal inilah yang berada dilevel lebih tinggi dari perkembangan teknologi untuk ekonomi sesuai klain habibie tadi. Merekalah yang mengontrol, mempengaruhi, dan membentuk apa yang harus terjadi di level sains. Kemajuan ekonomi Negara-negara maju yang berbasis teknologi tadi satu-per satu jatuh dan tersungkur. Krisis ekonomi yang terjadi di decade 70-an, diakhir 90-an, hingga yang terjadi pa 2007 yang lalu (saya sengaja tidak mencantumkan semua kasus krisis ekonomi) adalah bukti nyata bahwa kapitalisme akan terus menggali kuburnya sendiri. Dan dalam konteks tersebut, teknologi bukanlah factor kunci untuk membangun kesejahteraan bangsa. Krisis ekonomi global yang belakangan terjadi lebih anehnya justru berpusat di Negara paling kaya yakni AS. Meskpun begitu, gerombolan kapitalis dan pemerintah selalu mampu sembuh karena kebijakan restorasi baik dalam bentuk pemberian dana talangan (bail-out) maupun pencarian pasar dan sumber profit baru (hutang, investasi,kredit,dll). Dengan demikian, analisa inilah yang hilang dari ceramah habibie. Jika habibie punya ekspektasi yang sama bahwa ekonomi kita dikelola seperti Negara-negara tadi makan kita akan mengulang kesalahan yang sama. Kita akan tetap terjebak dalam siklus menggelikan system kapital. Dalam kondisi krisis, fungsi teknologi absen karena akar persoalannya tidak berasal dari situ. Teknologi bukanlah factor primer melainkan sekunder. Ia akan selalu terpola oleh struktur yang lebih fundamental. Peran teknologi dibawah payung kapitalisme telah menjadi monster mengerikan.
Hingga diujung materi, analisanya sedikitpun tidak beranjak. Saya pulang dengan gurauan, tampaknya habibie tidak sejenius itu. Habibie tetaplah habibie, ilmuwan terkemuka yang cukup berpengaruh. Walaupun begitu, diujung jalan kita tetap akan bertabrakan..
*Judul tulisan sengaja dibuat bombastis supaya menarik perhatian,wkwkwk
Sekali lagi untuk NAL
Pukul :13.25
The International noise conspiracy_communist moon

saya suka tulisan ini, tidak sejelek authornya :P
BalasHapusoeeeeeeeeeeeeee pak madi...aga kareba coy?
BalasHapusalhamdulillah saya gagah, tidak seperti ente :P
BalasHapus