Minggu yang sangat buruk. Inter 2 kali kalah secara memalukan, hasrat mencetak buku yang belum kesampaian, postingan blog stagnan, suasan kuliah yang masih membosankan, atau ini yang paling serius, kerinduanku yang teramat besar pada aktifitas-aktifitas lama bersama kawan-kawan di kampus. Tapi hidup kelas menengah tidak selalu dibalut oleh cerita suram bukan? Yeah, kita selalu menemukan kesenangan dan merayakan dunia meski dengan rasa tega dan tak tahu malu…terdengar sarkastis memang, tapi inilah kondisi objektifnya. Hampir tiap hari kita ikut mengotori bumi, hanyut dalam hiruk-pikuk budaya urban, atau yang paling menyedihkan adalah berdiam diri melihat persoalan disekitar (walau berontak secara minimal via kutukan dalam hati). Lantas, apakah kita tidak berhak bersenang-senag?tentu saja tidak. Kesenangan adalah anugerah dan itulah yang membuat hidup lebih menarik. Namun yang menjadi soal adalah eksistensi kita ditopang oleh kontribusi sekaligus penghisapan terhadap orang lain. Setiap piring nasi, segelas kopi, berlembar-lembar pakaian, rokok, atau hiburan dan kebutuhan harian kita adalah produk yang diolah lewat keringat buruh yang tidak dibayar layak, petani tanpa tanah, nelayan miskin, atau kerja segenap buruh di sektor lain. Mustahil untuk mengklaim bahwa kita eksis tanpa peran orang-orang tadi. Singkat kata, ayo lakukan sesuatu!!!hehehe…
Akhir minggu lalu, saya menyempatkan diri ke konser. Efek rumah kaca diundang untuk tampil di salah satu hajatan tahunan bernama kickfest (ekspo yang diikuti oleh banyak sekali distro) sekaligus pusat hasrat belanja pakaian.. Tentu saja, saya tidak mau melewatkan momen ini, terlebih tiket masuknya cuma 10 ribu. Saya bahkan sudah merencanakan nonton sekitar 2 minggu sebelumnya. Ditambah lagi memory bahwa menyaksikan ERK secara live memang sangat memuaskan (dan ini adalah yang kedua kalinya). Saya tidak ingat persis kapan pertama kali jatuh cinta dengan band ini. Mungkin 3 atau 4 tahun yang lalu ketika single cinta melulu ramai diputar di radio di Makassar, termasuk di ukpm. Di ukpm bahkan lebih gawat lagi, lagu-lagu ERK biasanya terdengar puluhan kali dalam satu hari terutama hits di udara,hehe.. ERK seakan menjadi nafas baru yang melanjutkan tradisi politik dan kritik dalam music. Setidaknya, penawar sakit telinga pada music melayu dan tema-tema standar didalamnya. Selain fakta bahwa ERK menyisipkan perspektif yang kurang lebih saya sepakati,hehe..
Saya berangkat bersama comrade, masgun, dan sawing. Ketiga orang ini sebenarnya jauh lebih bersemangat karena jenny (band indie local jogja, yang belakangan sangat mereka gemari) juga akan tampil, tepat sebelum ERK beraksi. Konser dilangsungkan di gedung jogja expo center (JEC), sebuah venue yang cukup luas. Kalau tidak salah ada lebih dari 1000-an orang terlihat cukup antusias dengan konser ini. gedung dibagi 2 oleh partisi masing-masing untuk pertunjukan musik dan arena ekspo+belanja. Sekitar jam 9-an ERK muncul diatas panggung. Sayapun merengsek kedepan, kurang lebih 1 meter dari pagar pembatas dengan bibir panggung. Cholil kali ini terlihat lebih gemuk (dibanding waktu saya lihat di makssar dulu) dengan sweater abu-abu. Akbar, sudah lebih dulu bersiap-siap dibalik drumnya. Tapi celakanya Adrian tidak bisa ikut karena sakit. Posisi bassist digantikan oleh additional player, but show must go on J. Konser dibuka dengan lagu tubuhmu membiru tragis. Lagu yang terdengar agak asing tapi tidak bagi fans ERK. Suasana terasa agak aneh, karena hanya sedikit yang menghafal lagu ini,hehe.. venue mulai lumayan riuh saat kau dan aku menuju ruang hampa dilantunkan. Diikuti oleh sebelah mata, kenakalan remaja di era informatika,hujan jangan marah, ballerina, dan hilang (single untuk album ke-3 yang akan segera rilis).
Ketika cholil meraih gitar akustiknya, hal pertama yang terlintas dikepalaku adalah desember. Yup, harapan yang menjadi kenyataan. Desember mengalun indah disertai koor panjang dari penonton yang membahana. Vocal cholil nyaris tidak terdengar. Ingatanku langsung tertuju pada video konser Oasis yang biasanya menampilkan hal serupa,it’s damned cool!.. setelah itu, lagu kesepian juga dikemas dengan versi akustik. Kali ini yang saya ingat adalah si mamed, yang selalu menempatkan nomor ini di playlist lagunya,hehe. Atmosfer kian riuh ketika di udara dibawakan dengan penuh penghayatan. Salah satu karya ERK yang paling banyak menyedot perhatian-satir tajam terhadap pembunuhan munir- ini memperoleh sambutan meriah. Penampilan ERK ditutup dengan jalang. Lagu “aneh” karena jenis vocal yang mirip orang mengaji (di part awal lagu). Secara keseluruhan, penampilan ERK sangat impresif. Soul konser terjaga karena hampir semuanya yang hadir menghafal bait-bait lagu mereka. Namun begitu, absennya Adrian tetap memperlihatkan lubang khususnya untuk bagian backing vocal.
Kami pulang bersama kepuasaan dan suara yang mulai serak. meski, dalam hati saya memendam kecewa karena melankolia dan bukan lawan jenis tidak dapat jatah..
Sisanya, hingar bingar belanja masih menyeruak diseluruh penjuru gedung…
Untuk niar dan dedy yang pasti sakit hati karena tidak ada disana,hehe..
Pukul : 10:56
Jarvis cocker_cunts are still running the world


PERTAMAXX... saya benar-benar sakit hati kamu buat:(
BalasHapus