judul

Menjadi Komentator Politik Yang Buruk





Pemilu caleg 2014 berakhir. Konsolidasi politik menguat di lingkaran elit. Media media bahkan lebih sibuk lagi. Analisa berbagai lembaga survey berhambuaran keluar. Musim panen bagi mereka. Politisi harus sedikit bersabar, panen akan tiba setelah pemerintahan baru terbentuk. Pilpres hanya berjarak sekian minggu. Para kontestan bisa dipastikan sedang menggelar puluhan rapat atau pertemuan. Menebalkan diri menjadi kunci keberhasilan paling sigtnifikan. Pertebal kantong koalisi, dana, citra, dan muka. Syarat terakhir lumayan bisa melarutkan  kegagalan, aib, atau kejahatan masa lalu.

Tidak lama lagi SBY angkat kaki dari istana Negara. Partai jendral loyo ini tengah karam. Perolehan suara anjlok dan terpaksa menanggung malu karena menggelar konvesi capres bermodal kepercayaan diri yang overdosis. Ocehan tak berkualitas si Ruhut akan tetap nyaring tapi  Sang  penghuni baru istana tetap dinantikan. Kenikmatan kue ekonomi dan kekuasaan disana sudah pasti jadi rebutan. Aromanya sungguh memikat, apalagi cita rasanya. Setiap kontestan harus antri  5 tahun sekali. Saling sikut dan menginjak tidak jadi masalah. Dari politik uang, manipulasi suara, intimidasi berbaju agama, feodalisme, dan trik lainnya adalah hal lazim.  Selama belum dibuktikan di meja hijau, kompetisi tetaplah dinyatakan sehat. Oleh karenanya kemampuan ala bunglon dari capres menjadi syarat terpenting. Lupakan niat baik atau moralitas. Keduanya telah lama dibajak oleh koruptor beserta mafia

Mengenai Saya

Foto saya
Perantau. Sedang berusaha membangun keluarga bahagia.